SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Julukan daerah penghasil batu bara atau "emas hitam" selalu meluncur manis untuk Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) di Kalimantan Timur.
Kedua raksasa tambang ini menjadi penggerak utama roda ekonomi, tak hanya bagi provinsi masing-masing, tetapi juga untuk skala nasional.
Di Muara Enim, deru mesin industri tambang berpusat di wilayah Kecamatan Lawang Kidul dan Tanjung Agung.
Sementara itu, Kutai Kartanegara sudah lama dikenal sebagai rumah bagi raksasa-raksasa tambang di Pulau Kalimantan.
Baca juga: Duel Daerah Lumbung Padi Sumsel: Banyuasin vs OKU Timur, Siapa Pemilik Brankas Daerah Terkuat?
Sama-sama mengeruk kekayaan bumi yang melimpah, lantas bagaimana dengan beban hidup masyarakatnya? Jika diadu dari rerata pengeluaran per kapita sebulan—baik untuk pangan maupun non-pangan daerah mana yang biaya hidupnya lebih terjangkau?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 23 Juli 2026, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan warga Kutai Kartanegara berada di angka Rp 1.825.441.
Menariknya, struktur pengeluaran di Kukar terbagi sangat seimbang antara kebutuhan perut dan kebutuhan sekunder:
Makanan: Rp 912.088 per bulan.
Bukan Makanan: Rp 913.353 per bulan.
Keseimbangan ini mengindikasikan tingginya daya beli masyarakat lokal di luar kebutuhan pokok.
Tingginya angka pengeluaran bukan makanan kerap dipicu oleh biaya perumahan, energi, moda transportasi, serta jasa yang memang cenderung lebih tinggi di pulau Kalimantan.
Bergeser ke Sumatera Selatan, Kabupaten Muara Enim menawarkan peta biaya hidup yang relatif jauh lebih efisien.
BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan warga Muara Enim sebesar Rp 1.136.099.
Struktur pengeluaran warga di lumbung batu bara Sumsel ini didominasi oleh konsumsi harian:
Makanan: Rp 631.314 per bulan.
Bukan Makanan: Rp 504.785 per bulan.
Dengan selisih mencapai Rp 689.342 per bulan lebih murah dari Kutai Kartanegara, Muara Enim terbukti jauh lebih hemat dalam urusan pemenuhan kebutuhan harian maupun biaya operasional non-pangan.