SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Provinsi Sumatera Selatan bangga memiliki dua raksasa agraris yang tak hanya menyokong pangan lokal, tetapi juga menjadi pilar ketahanan pangan nasional, Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Tahun ini, persaingan kedua daerah tersebut kian sengit. Baik Banyuasin maupun OKU Timur sama-sama sedang tancap gas demi mengejar ambisi besar, mencapai target produksi 1 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Namun, di balik hamparan hijau sawah dan riuhnya mesin panen, bagaimana performa "brankas" atau Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing?
Jika kedua lumbung beras ini diadu dari segi kekuatan anggaran daerah, siapa yang memegang keunggulan?
Melihat angka anggaran, Banyuasin memimpin cukup jauh dalam hal kapasitas pendapatan daerah.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kemenkeu per 22 Juli 2026, target PAD Banyuasin mencapai Rp 403,95 miliar.
Dari target raksasa tersebut, Banyuasin mencatatkan realisasi sebesar Rp 164,35 miliar hingga pertengahan Juli 2026, atau sekitar 40,68 persen.
Faktor geografis Banyuasin yang strategis berbatasan langsung dengan Kota Palembang serta ditopang sektor industri, perairan, dan perkebunan selain pertanian menjadi pendorong utama tebalnya dompet daerah ini.
Di sisi lain, OKU Timur yang dikenal sebagai kawasan irigasi teknis terkuat di Sumsel, menetapkan target PAD 2026 sebesar Rp 202,75 miliar. Anggaran ini berada di kisaran separuh dari target milik Banyuasin.
Hingga pertengahan Juli 2026, realisasi PAD OKU Timur tercatat di angka Rp 76,64 miliar atau 27,80 persen dari total target.
Meskipun postur anggarannya lebih ramping, OKU Timur tetap menjadi ancaman serius dalam produktivitas sektor riil.
Sektor pertanian yang berputar masif di wilayah ini terus menjadi tulang punggung perekonomian warga tempatan.
Dari segi volume dan realisasi PAD, Banyuasin unggul telak atas OKU Timur baik secara nominal maupun persentase penyerapan anggaran per pertengahan tahun ini.
Namun dalam urusan ketahanan pangan, duel kedua daerah ini sebenarnya tidak melahirkan pihak yang kalah.
Baik Banyuasin maupun OKU Timur adalah "brankas beras" vital yang memastikan piring-piring masyarakat Sumatera Selatan dan Indonesia tetap terisi.