TRIBUNBATAM.id, BATAM - Tribun Batam Podcast pada Senin (20/7/2026), kali ini mengangkat topik Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang diperingati setiap tanggal 23 Juli 2026.
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 atau HAN 2026 akan dipusatkan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Anak tentunya berhak tumbuh dengan bahagia merasa aman, mendapatkan kasih sayang, serta memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya
Karena itu, setiap 23 Juli Indonesia memperingati hari anak nasional sebagai momentum untuk mengingatkan semua bahwa, masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan anak-anak.
Dengan perbincangan podcast ini, ini mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan".
Tema ini mengajak kita untuk tidak hanya mencintai anak-anak melalui kata-kata, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang aman sehat ramah dan mendukung tumbuh kembang mereka.
Untuk membahas lebih jauh mengenai hari anak nasional 2026 ini, Tribun Batam menghadirkan narasumber, yakni Sudirman Latief selaku Konselor Puspaga Gurindam Kepulauan Riau.
TB: Sesuai dengan yang saya jelaskan tadi di awal pembukaan, ini kan hari anak nasional ke 42 tahun 2026. Apa sih makna utama dari tema ini, Pak?
SL: Sayang anak tidak hanya slogan, tapi memang harus diaktualisasikan bagaimana pemenuhan hak-hak anak itu bisa berjalan dengan baik, karena tanpa ada pemenuhan anak-anak maka sulit untuk kita katakan "Oke saya sayang anak". Setelah itu baru perlindungan, perlindungan dari apa? Diskriminasi, kekerasan, perundungan dan segala macamnya.
Jika kedua ini, pemenuhan hak anak dan perlindungan hak anak bisa berjalan dengan baik, maka masa depan bangsa pasti akan kuat.
Jadi, lindungi anak, sayangi anak, kemudian bangun masa depan, mestinya mulai dari awal pemenuhan hak anak dan perlindungan, tidak hanya sekedar slogan, tidak hanya sekedar di hari anak nasional saja, tapi di setiap masa, maka ada evaluasi setiap tahun Kabupaten/kota, bagaimana pemenuhan hak anaknya.
TB: Mengapa tema ini mungkin sangat relevan dengan kondisi anak-anak Indonesia di saat ini, Pak?
SL: Kalau melihat anak-anak sekarang terlepas dari persoalan kelahirannya mereka, generasi Alpha, ahli-ahli menyatakan mereka agak lemah, kenapa lemah? sebenarnya bukan dari generasinya, tapi bagaimana anak-anak dididik, diasuh. Karena, ketika pengasuhan kuat, maka akan melahirkan anak-anak yang kuat. Tetapi, ketika pengasuhan ditinggal, dilepaskan begitu saja ke dunia pendidikan, tapi seberapa besar?
Sementara, orang tua lah penanggung jawab utama dari pengasuhan anak itu. Maka, pengasuhan harus lebih kuat, maka saya katakan tidak ada generasi satu pun yang lahir lemah, mereka selalu dilahirkan dalam kondisi yang kuat.
Hanya, ketika mereka lahir dan bertumbuh tidak ada pendampingan, tidak ada pengasuhan selain itu tantangannya jauh lebih besar. Dulu, orang tua tidak mampu, masih ada tetangga lain yang membantu. Hari ini tidak ada. Rumahnya masing-masing, pintu ditutup, kalau keluar rumah di Kafe palingan, kalau di rumah di kamar.
Maka, lewat forum anak sebenarnya itu salah satu cara untuk mengakrabkan, agar supaya mereka saling kenal dengan teman-temannya.
TB: Puncak peringatan Hari Anak ini dilaksanakan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Ini menurut Bapak Latief sendiri, apa sih arti pentingnya bagi masyarakat Kepri?
SL: Sebenarnya ini suatu tonggak yang paling tepat, karena menunjuk Kepri, menunjukkan bahwa pelaksanaan pemenuhan hak-hak anak itu berjalan dengan baik. Kalau misalnya kita lihat forum anak kita, mulai dari level provinsi kabupaten/kota bahkan sampai desa itu berhasil semua. Forum anak provinsi dapat penghargaan dari pusat, begitu juga dengan forum anak Kabupaten/kita dapat penghargaan.
Bahkan, forum anak desa itu terbaik nasional, itu dari Kepri nomor satu. Jadi, saya melihat ini apresiasi dari pusat. Bagi kami forum anak inilah sumber daripada penghargaan, bagaimana forum anak bisa berkiprah, bagaimana forum anak bisa berperan.
Ketika saya bicara forum anak, tidak hanya soal formal yang dibentuk oleh pemerintah, tidak, tapi kelompok-kelompok anak lain juga, kelompok-kelompok anak-anak kita itu banyak sekali dan mereka berhasil. Bahkan, ketika pemerintah pun tidak ambil peduli dengan kelompok itu, mereka tetap bisa mendapatkan penghargaan.
TB: Jadi bagi masyarakat Kepri untuk berpartisipasi bagaimana nih, Pak?
SL: Jadi masyarakat jika ingin terlibat dalam forum peringatan harian nasional, jadi di tanggal 23 itu ada upacara pagi hari, masyarakat ini boleh berpatisipasi, sekolah jika mau silakan, bikin upacara peringatan Hari Anak Nasional.
Tapi kalau untuk Batam, hebatnya Batam ini, organisasi masyarakat yang ada di Indonesia itu hanya Batam yang punya 15 organisasi perlindungan perempuan anak dan buruh migran dan mereka mengadakan kegiatan HAN.
Selengkapnya perbincangan ini bisa disimak di link YouTube
( tribunbatam.id/febriyuanda )