TRIBUNSTYLE.COM, JAKARTA - Mencari tempat nongkrong akhir pekan yang asyik buat berduaan dengan pasangan, quality time bareng keluarga, atau sekadar melepas penat dari rutinitas harian di ibu kota? Jawabannya mungkin tersembunyi di sudut hangat Jakarta Timur. Di tengah gempuran tren kuliner modern yang datang dan pergi, ada satu oase legendaris yang tetap kokoh berdiri menyapa lidah para pencinta kuliner sejak era 1970-an: Asinan Kamboja Alm. H. Mansyur.
Bukan sekadar tempat makan, destinasi ini menyimpan memori kolektif lintas generasi. Mulai dari mahasiswa era 1980-an hingga pemburu kuliner masa kini di tahun 2026 menjadikan tempat ini sebagai ruang nostalgia yang hangat dan menyenangkan untuk dikunjungi bersama orang tersayang.
Baca juga: Nongkrong Sambil Lihat Pesawat, The Skyfront Tangerang Jadi Spot Paling Kece Pas Liburan Sekolah
Bagi sebagian kalangan, nama Asinan Kamboja melekat erat dengan kenangan masa muda. Teguh (57), seorang alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) angkatan lawas, mengenang bagaimana tempat ini dulunya menjadi saksi bisu kebersamaan bersama teman-teman kampus sejak tahun 1984.
"Saya makan asinan di sini bukan hanya baru pertama kali tapi sudah sejak tahun 1984, karena saya dulu kuliah di UNJ dan saya biasa makan sama teman-teman kampus di sini dan rasanya itu tidak berubah. Walaupun sudah berganti penerus dari almarhum ke anak cucunya, luar biasa tetap sama," kenang Teguh.
Kenangan manis tersebut menjadikan Asinan Kamboja sangat cocok untuk agenda kencan santai atau bernostalgia bersama pasangan saat akhir pekan. Suasananya yang bersahaja membawa kita sejenak melarikan diri dari hiruk-pikuk kota besar, menikmati kesegaran rasa yang menyatukan hati.
Di balik kelezatannya yang bertahan hingga kini, tersimpan kisah perjuangan penuh inspirasi. Ayu, selaku generasi penerus keluarga Alm. H. Mansyur, menceritakan bahwa sang kakek memulai usahanya dari nol sekitar tahun 1965 dengan cara berkeliling memikul dagangan, mulai dari kacang rebus hingga telur asin.
Titik balik bermula pada tahun 1970. Di tengah teriknya cuaca siang hari di Jakarta, Alm. H. Mansyur terinspirasi menciptakan hidangan yang mampu menyegarkan kembali tubuh dan pikiran. Berbekal restu dan resep racikan orang tua, terciptalah asinan dengan cita rasa khas yang langsung memikat hati masyarakat.
Kini, estafet kelezatan tersebut dipegang oleh generasi ketiga dari keluarga besar Alm. H. Mansyur. Rahasia ketahanannya terletak pada konsistensi rasa: perpaduan dominasi rasa manis yang berpadu harmonis dengan asam dan asin yang pas di lidah, berbeda dari asinan pada umumnya yang cenderung terlalu asam.
Kelezatan yang konsisten ini terbukti mendatangkan antusiasme luar biasa dari pengunjung. Pada hari biasa, kedai ini mampu merajut angka penjualan hingga 1.000 porsi per hari. Sementara saat akhir pekan atau liburan tiba, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai 1.500 hingga 2.000 porsi per hari, dengan kebutuhan bahan baku kubis mencapai 1,5 kuintal dan 1.500 buah tahu segar setiap harinya.
Menu & Harga:
Bagi Anda yang merencanakan agenda kulineran bareng keluarga atau berduaan dengan pasangan di akhir pekan ini, perhatikan beberapa hal penting berikut:
Jadikan akhir pekan dan liburan Anda lebih bermakna dengan menjelajahi warisan rasa otentik yang merawat tradisi Nusantara. Sampai jumpa di Rawamangun!
( TribunTangerang.com / Rendy Rutama / Tribunstyle.com / Selviana Safitri )