TRIBUNJOGJA.COM - Sebanyak 1.489 jiwa dari 326 KK di lima kapanewon di Bantul mulai merasakan dampak kekeringan akibat musim kemarau. Status Siaga Darurat Kekeringan telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Bantul Nomor 263 Tahun 2026.
Seribuan warga terdampak kekeringan itu berasal dari Kalurahan Guwosari (Kapanewon Pajangan), Jatimulyo, Terong, dan Temuwuh (Dlingo), Karangtengah di Kapanewon Imogiri, Seloharjo (Kapanewon Pundong), serta Srimulyo (Piyungan).
Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Bantul pun sudah melakukan dropping air bersih, bahkan sejak Juni 2026.
Dampak penurunan debit air semakin dirasakan masyarakat di beberapa wilayah tersebut dalam sebulan terakhir.
Komandan Pusdalops BPBD Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah, menyebut berdasarkan data 20 Juni sampai 20 Juli 2026, proses droping air bersih sudah dilakukan dikarenakan terdampak kemarau.
"Selama sebulan terakhir, sudah ada 50 tangki yang beroperasi untuk mendistribusikan 250.000 liter air bersih," ucapnya, Rabu (22/7/2026).
Disampaikannya, droping air bersih dilakukan di lima kapanewon yang terdiri atas Kapanewon Pajangan (Kalurahan Guwosari) dan Kapanewon Dlingo (Kalurahan Jatimulyo, Terong, dan Temuwuh).
Kemudian, permintaan droping air juga berada di Kapanewon Imogiri (Kalurahan Karangtengah), Kapanewon Pundong (Kalurahan Seloharjo), serta Kapanewon Piyungan (Kalurahan Srimulyo).
"Dari lokasi itu, terdapat 1.489 jiwa atau 326 KK yang membutuhkan droping air bersih," ujarnya.
Aka menyampaikan, permintaan tertinggi berada di Kapanewon Pajangan.
Setidaknya ada sekitar 95.000 liter air bersih yang dibutuhkan masyarakat dan sudah dilakukan droping air bersih.
Permintaan droping air bersih terbanyak kedua dari Kapanewon Dlingo.
Di lokasi itu, telah mendapatkan droping air bersih sekitar 85.000 liter.
"Permintaan droping air selanjutnya ada di Kapanewon Imogiri sejumlah 25.000 liter air, Kapanewon Pundong sejumlah 25.000 liter air, dan Kapanewon Piyungan sejumlah 20.000 liter air," ujarnya.
Untuk armada tangki yang membantu distribusi atau droping air bersih terdampak kekeringan tersebut terdiri atas 11 tangki dari BPBD Bantul, 14 tangki dari Palang Merah Indonesia Bantul, 13 tangki dari Tagana Bantul, serta 12 tangki donasi.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menyebut Pemkab Bantul telah menetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan yang tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Bantul Nomor 263 Tahun 2026.
"Melalui surat keputusan itu, status siaga darurat bencana kekeringan di Kabupaten Bantul terhitung mulai 25 Juni 2026 sampai dengan 25 September 2026," tandasnya. (NEI)