Cerita Iqbal, Anak Binaan LPKA Pangkalpinang yang Bebas setelah Terima Remisi Hari Anak Nasional
Rusaidah July 23, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Muhammad Iqbal (17) tak kuasa membendung air matanya.

Dengan tangan gemetar, remaja asal Kelurahan Tuatunu, Kota Pangkalpinang, itu perlahan membasuh kedua kaki ibunya. 

Air mengalir dari baskom kecil, sementara kepalanya terus tertunduk.

Sesekali ia mengusap matanya yang basah. 

Setelah kaki sang ibu dikeringkannya dengan handuk, Iqbal memeluk perempuan yang telah lima bulan menantinya pulang.

Tak banyak kata yang terucap. 

Tangisan keduanya seolah menjadi bahasa yang paling jujur untuk menggambarkan penyesalan, kerinduan, sekaligus rasa syukur.

Baca juga: 16 Anak Binaan LPKA Pangkalpinang Terima Pengurangan Masa Pidana, Satu Langsung Bebas

Prosesi sungkeman itu menjadi bagian paling mengharukan dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Pangkalpinang, Kamis (23/7/2026).

Namun bagi Iqbal, hari itu bukan sekadar peringatan Hari Anak Nasional.

Hari itu menjadi awal dari kehidupan barunya.

Remisi khusus Hari Anak Nasional yang diterimanya memangkas satu bulan masa pidana. 

Setelah menjalani pembinaan selama lima bulan dari total hukuman enam bulan, Iqbal dinyatakan bebas dan dapat kembali pulang bersama ibunya.

"Alhamdulillah, saya bersyukur sekali hari ini bisa pulang karena mendapatkan remisi," kata Iqbal kepada Bangkapos.com, Kamis (23/7/2026).

Di hari yang sama, kebahagiaannya kembali bertambah.

MEMBASUH KHAKI ORANG TUA – Penuh Haru, empat anak binaan LPKA Kelas II Pangkalpinang membasuh kaki orang tua mereka dalam prosesi sungkeman pada peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kamis (23/7/2026).
MEMBASUH KHAKI ORANG TUA – Penuh Haru, empat anak binaan LPKA Kelas II Pangkalpinang membasuh kaki orang tua mereka dalam prosesi sungkeman pada peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kamis (23/7/2026). (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Bunda Literasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noni Hidayat Arsani, menyerahkan sebuah laptop kepadanya sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan setelah bebas dari LPKA.

Mengenakan baju koko abu-abu seragam LPKA, Iqbal kembali tertunduk saat menerima bantuan tersebut. Wajahnya tampak malu sekaligus haru.

Laptop itu bukan sekadar hadiah.

Baca juga: Tangis Pecah Empat Anak Binaan Saat Membasuh Kaki Orang Tua Lalu Mengelapnya di Peringatan HAN 2026

Bagi Iqbal, benda itu menjadi simbol bahwa masih ada orang-orang yang percaya dirinya berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Lima bulan berada di balik tembok LPKA ternyata mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Ia mengaku datang sebagai remaja yang pernah melakukan kesalahan. 

Namun ia pulang dengan kebiasaan baru yang tidak pernah ia jalani sebelumnya.

"Selama di sini saya belajar banyak. Sekarang saya jadi rutin salat lima waktu. Dulu saya belum menjalankannya seperti sekarang," ujarnya.

Selain pembinaan keagamaan, Iqbal juga mengikuti pelatihan keterampilan yang diselenggarakan LPKA.

Dari pelatihan itu, ia belajar memangkas rambut hingga memiliki kemampuan yang bisa menjadi bekal mencari nafkah setelah kembali ke masyarakat.

"Saya juga jadi punya keahlian pangkas rambut setelah ikut pelatihan di LPKA," katanya.

Baca juga: Sembunyikan 27 Paket Sabu di Tumpukan Daun Kering, Pria 43 Tahun Diciduk Polres Bangka Tengah

Remaja yang tersandung perkara asusila itu mengaku sangat menyesali perbuatan yang pernah dilakukannya.

Baginya, lima bulan menjalani pembinaan menjadi pelajaran hidup yang tidak akan pernah dilupakan.

"Kesalahan saya yang kemarin sangat saya sesali," ucapnya lirih.

Alih-alih merasa seperti menjalani hukuman, Iqbal justru mengibaratkan kehidupan di LPKA seperti berada di sebuah pondok pesantren.

Hari-harinya diisi dengan salat berjemaah, mengaji, mengikuti pembinaan kepribadian, hingga berbagai kegiatan positif yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

"Di sini rasanya seperti mondok. Belajar mengaji, salat, banyak kegiatan positif," tuturnya.

Di penghujung wawancara, Iqbal menyampaikan ucapan sederhana kepada seluruh petugas yang selama ini mendampinginya.

"Terima kasih LPKA sudah membimbing saya selama lima bulan ini," katanya.

Kini, setelah kembali menghirup udara bebas, Iqbal tak memiliki mimpi yang muluk.

Ia ingin pulang, berkumpul bersama keluarga, membantu orang tua bekerja, lalu melanjutkan pendidikan melalui sekolah paket.

Langkahnya mungkin baru dimulai.

Namun di Hari Anak Nasional itu, Iqbal pulang bukan hanya dengan status sebagai anak yang telah bebas menjalani masa pidana.

Ia juga membawa harapan baru, sebuah laptop, keterampilan hidup, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki masa depannya.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.