TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jombang pada akhir Agustus mendatang, berbagai harapan mulai disampaikan dari kalangan akar rumput.
Salah satunya datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Agus HM Izuddin Zaki atau Gus Zaki.
Gus Zaki berharap Muktamar NU 2026 menjadi momentum bagi organisasi yang didirikan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari itu untuk kembali memperkuat perhatian terhadap pesantren, langgar (musala), serta para kiai kampung yang selama ini menjadi ujung tombak dakwah di masyarakat.
Menurutnya, NU sebaiknya tidak lagi terlalu berorientasi pada program-program besar atau kemitraan di tingkat elite, melainkan lebih fokus pada kebutuhan nyata warga nahdliyin di tingkat bawah.
Baca juga: Pelayanan Bea Cukai Kediri Tetap Normal Usai Kepala Kantor Jadi Tersangka KPK, Ini Penjelasan Resmi
"Harapan kami tentu bagaimana kita tidak usah mengejar program muluk-muluk. NU tidak usah macam-macam, yang penting bagaimana melihat pesantren-pesantren itu hidup kembali," ujar Gus Zaki saat ditemui di kediamannya, Kamis (23/7/2026).
Gus Zaki menilai perhatian organisasi tidak boleh hanya terpusat pada pondok pesantren besar. Menurutnya, para kiai kampung yang mengajar di langgar, Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), hingga madrasah diniyah justru menjadi fondasi utama keberlangsungan dakwah Nahdlatul Ulama.
Ia mengatakan, banyak kiai yang mengabdikan diri secara ikhlas di desa-desa, namun belum mendapatkan perhatian yang memadai.
"Kadang ketika sesuatu itu besar, semakin banyak yang mendukung sehingga melimpah ruah. Tapi yang kecil, yang padahal ikhlas, justru tidak ada yang mendukung sama sekali," paparnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua PC GP Ansor Trenggalek itu menilai perhatian kepada kiai kampung dapat diwujudkan melalui penguatan peran badan otonom (banom) maupun lembaga di lingkungan NU.
Ia secara khusus menyebut Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) dan Lembaga Ma'arif NU agar lebih diberdayakan dalam mendampingi masyarakat.
Menurutnya, kedua lembaga tersebut memiliki peran strategis untuk membantu kebutuhan dasar pesantren kecil, musala, hingga guru madrasah diniyah di pelosok desa.
"Seperti LTMNU tidak boleh lagi dipandang sebelah mata hanya karena dianggap bukan lembaga yang strategis secara politik atau anggaran," ujarnya.
Gus Zaki berharap NU mampu menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah, mulai dari perbaikan fasilitas ibadah hingga bantuan operasional bagi langgar dan madrasah diniyah.
Ia mencontohkan masih banyak musala di desa yang membutuhkan perhatian sederhana, seperti perbaikan bangunan maupun bantuan pembayaran listrik.
"Misalnya langgarnya yang reot atau listriknya biarpet karena pulsanya habis, mungkin itu ada yang memfasilitasi. Masyarakat bawah harus benar-benar merasakan manfaat ikut Nahdlatul Ulama, tidak hanya tingkat elit saja," lanjutnya.
Menurutnya, selama ini warga di tingkat akar rumput kerap mempertanyakan manfaat langsung menjadi bagian dari NU, meski mereka rutin berpartisipasi dalam berbagai kegiatan organisasi.
Terkait Muktamar NU 2026, Gus Zaki menjelaskan bahwa mekanisme pembahasan komisi merupakan kewenangan perwakilan Pimpinan Pusat dari masing-masing badan otonom NU.
Meski demikian, sebagai kader GP Ansor di daerah, ia berharap siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin NU nantinya mampu merangkul seluruh elemen organisasi serta mengembalikan fokus NU kepada khittah dan tradisi pesantren.
"Bagaimana pun NU itu dasarnya di pesantren. Jadi, siapa pun nanti yang memegang tampuk tertinggi di Nahdlatul Ulama, harapannya bisa mengayomi dan benar-benar kembali ke basic-nya," pungkas Gus Zaki.
(Tribunmataraman.com)