TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kebiasaan tidur larut malam atau yang populer dengan sebutan night owl sering kali hanya dianggap sebagai persoalan kurang tidur.
Padahal, kebiasaan aktif hingga larut malam menyimpan berbagai risiko kesehatan yang berdampak langsung pada pola makan, komposisi lemak tubuh, hingga sistem metabolik.
Aktivitas malam hari yang berkepanjangan dapat memicu perubahan pola konsumsi makanan.
Orang yang terbiasa tidur larut malam cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan di malam hari, memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi, serta berisiko lebih besar mengalami obesitas dibandingkan mereka yang tidur lebih awal.
Orang yang aktif pada malam hari umumnya memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI), lingkar pinggang, lingkar pinggul, serta persentase lemak visceral yang lebih tinggi. Hal ini erat kaitannya dengan asupan energi yang masuk menjelang tidur.
Kebiasaan begadang kerap diiringi konsumsi karbohidrat, lemak, dan protein dalam jumlah berlebih pada malam hari.
Dokter spesialis psikiatri dan pengobatan tidur, Alex Dimitriu, menjelaskan bahwa pola aktivitas malam memang memengaruhi pilihan makanan seseorang.
"Orang yang terbiasa aktif hingga larut malam cenderung mengonsumsi makanan yang kurang sehat setelah matahari terbenam, memiliki waktu puasa malam yang lebih singkat, serta memiliki indeks massa tubuh (BMI) dan persentase lemak tubuh yang lebih tinggi," ungkap Dimitriu.
Tak hanya memicu kenaikan berat badan, kebiasaan tidur larut malam juga memperburuk indikator metabolik tubuh. Orang yang sering begadang rentan mengalami peningkatan kadar gula darah dan trigliserida.
Semakin larut waktu tidur seseorang, semakin tinggi pula kadar insulin dan hemoglobin A1C, dua penanda utama yang kerap menjadi pemicu pradiabetes hingga diabetes tipe 2.
Ahli endokrinologi dari UTMB, Sura Alqaisi, menegaskan bahwa waktu makan memegang peranan vital selain jumlah kalori yang dikonsumsi.
"Temuan bahwa individu dengan kronotipe malam memiliki kadar trigliserida, insulin, HbA1c, dan leptin yang lebih tinggi, serta kadar kolesterol HDL yang lebih rendah, semakin memperkuat hubungan tersebut," jelas Alqaisi.
Untuk meminimalkan dampak buruk dari kebiasaan tidur larut malam, pengaturan jam makan menjadi strategi kunci dalam menjaga berat badan dan kesehatan metabolik.
Direktur MemorialCare Surgical Weight Loss Center, Mir Ali, menyarankan agar konsumsi makanan manis dan tinggi karbohidrat ditekan menjelang malam hari.
"Saya selalu menekankan untuk mengurangi konsumsi karbohidrat dan gula, terutama pada malam hari, karena hal itu dapat membantu menurunkan berat badan. Pola makan yang menekankan protein dan sayuran merupakan pendekatan yang paling baik," pungkas Mir Ali.