Sering Disamakan, Ternyata Memuji dan Mengapresiasi Anak Itu Berbeda
Joko Widiyarso July 23, 2026 04:04 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Apakah Tribunners tau apa bedanya memuji dan mengapreasi? 

Kebanyakan orang salah dalam menempatkan penggunaan antara memuji dan mengapresiasi.

Padahal memuji dan mengapresiasi bukanlah dua hal yang sama.

Keduanya memiliki makna dan dampak yang berbeda.

 Memuji anak umumnya berfokus pada hasil atau kemampuan yang dimiliki. 

Sementara itu, mengapresiasi lebih menekankan pada proses, usaha, dan kerja keras yang telah dilakukan anak. 

Memahami perbedaan ini dapat membantu orang tua memberikan dukungan yang lebih tepat sehingga anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan semangat untuk terus belajar.

Lalu apakah Tribunners tau apa saja perbedaan antara memuji dan mengapresiasi? 

Simak penjelasannya dibawah ini 

23072026 APRESIASI
Seorang Ayh sedang mengapresiasi anaknya

Perbedaan Antara Memuji Dan Mengapresiasi

Pujian umumnya berfokus pada hasil atau kemampuan yang dimiliki anak. 

Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai tinggi di sekolah, orang tua mengatakan, "Kamu memang pintar." Kalimat tersebut memang dapat membuat anak merasa senang dan dihargai. 

Akan tetapi, jika terlalu sering diberikan, anak bisa mulai berpikir bahwa dirinya hanya akan dihargai ketika berhasil memperoleh hasil yang baik.

Di sisi lain, apresiasi lebih menekankan pada usaha dan proses yang telah dilakukan anak. 

Alih-alih hanya mengatakan "Kamu pintar", orang tua dapat mengucapkan, "Ayah bangga karena kamu sudah belajar dengan tekun." 

Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa kerja keras dan ketekunan juga merupakan sesuatu yang layak dihargai, meskipun hasil yang diperoleh belum tentu sempurna.

Perbedaan lainnya terlihat saat anak mengalami kegagalan. 

Ketika hanya terbiasa menerima pujian karena keberhasilannya, anak mungkin akan merasa kecewa atau kehilangan rasa percaya diri saat hasil yang didapat tidak sesuai harapan. 

Bahkan, tidak sedikit anak yang menjadi takut mencoba hal baru karena khawatir gagal dan tidak lagi mendapatkan pujian.

Sebaliknya, anak yang terbiasa mendapatkan apresiasi cenderung lebih berani menghadapi tantangan. 

Mereka memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan bukan sesuatu yang harus ditakuti. 

Dengan begitu, anak akan lebih termotivasi untuk mencoba kembali dan memperbaiki kesalahannya.

23072026 MEMUJI
Seorang Ayah sedang memuji hasil gammbar anaknya

Pujian yang diberikan secara berlebihan juga berpotensi membuat anak bergantung pada pengakuan dari orang lain. 

Anak mungkin akan terus mencari validasi agar merasa dirinya berharga. 

Sementara itu, apresiasi membantu anak membangun motivasi dari dalam diri karena mereka belajar bahwa usaha dan perkembangan yang dicapai sama pentingnya dengan hasil akhir.

Meski demikian, bukan berarti orang tua harus berhenti memberikan pujian kepada anak. 

Pujian tetap memiliki manfaat untuk meningkatkan semangat dan membuat anak merasa diperhatikan. 

Yang perlu diperhatikan adalah cara dan waktu memberikannya agar tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga menghargai proses yang telah dijalani.

Misalnya, ketika anak berhasil menyelesaikan sebuah gambar, orang tua tidak hanya mengatakan "Gambarnya bagus sekali", tetapi juga dapat menambahkan, "Ibu melihat kamu sabar sekali saat mewarnainya." 

Begitu pula ketika anak memperoleh nilai yang baik, orang tua dapat mengapresiasi waktu dan usaha yang telah ia luangkan untuk belajar.

Pada akhirnya, memuji dan mengapresiasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi. 

Dengan memberikan pujian secara tepat dan mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan anak, orang tua dapat membantu membangun rasa percaya diri, ketangguhan, serta semangat belajar yang akan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak di masa depan. (MG Eka Robiatul Adawiyah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.