Mengenal Toxic Relationship yang Wajib Diwaspadai Pada Remaja Kekinian
Kemal Setia Permana July 23, 2026 04:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kekerasan terhadap anak kini tidak lagi hanya hadir dalam bentuk fisik. Manipulasi, hubungan pertemanan yang tidak sehat, hingga toxic relationship di lingkungan remaja menjadi ancaman yang semakin nyata. 

Melihat kondisi tersebut, peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 dijadikan momentum untuk memperkuat perlindungan anak, termasuk membekali mereka agar mampu mengenali relasi yang tidak sehat sejak dini.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Provinsi Jawa Barat, Shindy Diah Ayu Lestari, mengatakan amanat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI pada peringatan Hari Anak Nasional ke-4 mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.”

Menurutnya, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan penegasan bahwa setiap anak merupakan individu yang berharga, memiliki hak untuk dihormati, didengar pendapatnya, serta dilibatkan dalam pembangunan sesuai usia dan tingkat kematangannya.

“Anak bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek pembangunan yang memiliki hak untuk berpartisipasi,” ujar Shindy dalam kegiatan Ngopi Sahabat (Ngobrol Pagi Seputar Hak Anak Hebat) Goes to School di SMA Negeri 5 Bandung, Kamis (23/7/2026).

Shindy mengatakan materi mengenai toxic relationship sengaja dipilih dalam kegiatan Hari Anak Nasional karena kasus kekerasan dalam relasi masih banyak terjadi di kalangan anak dan remaja.

Baca juga: Daftar Peserta D Academy 8 Lolos Babak Top 37, 6 Wakil Jabar Masih Bertahan

Ia menilai banyak orang menganggap korban dapat dengan mudah meninggalkan hubungan yang tidak sehat, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

“Kalau orang awam mungkin berpikir, kenapa tidak pergi saja atau putus saja. Tetapi ternyata tidak semudah itu. Ketika menjadi korban, melepaskan diri dari hubungan seperti itu sangat sulit,” ujarnya.

Ia berharap para siswa mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, psikolog sekaligus instructor IKC Global, Prita Pratiwi mengajak para siswa memahami seperti apa bentuk toxic relationship melalui simulasi kasus yang menggambarkan berbagai situasi yang sering dialami remaja.

Dalam sesi tersebut, para siswa diminta memejamkan mata dan membayangkan beberapa skenario hubungan.

Mulai dari teman yang menjadi posesif, pasangan yang diam-diam mengawasi ponsel dan media sosial atas nama rasa sayang, teman yang hanya datang ketika membutuhkan bantuan, hingga pasangan yang bergantian melakukan kekerasan dan meminta maaf dengan alasan takut kehilangan.

Setelah setiap skenario selesai dibacakan, siswa diminta mengidentifikasi perasaan yang muncul, seperti sedih, marah, bingung, takut, maupun lelah.

Mayoritas siswa mengaku skenario terakhir menjadi yang paling sulit untuk ditinggalkan.

Salah seorang siswi kelas XI, Nazelin, mengaku hubungan yang dipenuhi permintaan maaf setelah melakukan kekerasan justru membuat korban mengalami kebingungan.

Menurutnya, pelaku sering kali bersikap sangat baik setelah menyakiti korban sehingga memunculkan harapan bahwa perilakunya akan berubah.

“Kadang kita jadi kasihan. Kita berpikir mungkin dia hanya butuh perhatian atau pengertian lebih. Padahal sebenarnya kita tahu harus meninggalkan hubungan itu,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan siswi lainnya, Naila. Ia menilai pelaku toxic relationship umumnya memiliki sifat manipulatif.

“Mereka menyakiti kita, tetapi membuat kita lupa dengan kesalahan yang sudah dilakukan. Akhirnya kita berpikir dia baik karena selalu minta maaf, padahal kesalahannya terus berulang,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Prita menegaskan bahwa pola pikir ingin mengubah pasangan merupakan salah satu jebakan terbesar dalam toxic relationship.

Menurutnya, banyak korban bertahan karena berharap pelaku akan berubah berkat bantuan atau kasih sayang yang mereka berikan.

“Mindset ‘siapa tahu dia bisa berubah karena saya’ itu yang justru membuat seseorang bertahan bertahun-tahun dalam hubungan yang tidak sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan, perilaku seseorang jauh lebih penting diperhatikan dibanding janji ataupun permintaan maaf yang terus diulang.

• Murid SD Sunan Giri Bandung Barat Beraktivitas di Tengah Polusi Debu Batu Kapur

Prita juga menyoroti semakin berkurangnya komunikasi berkualitas dalam keluarga akibat penggunaan gawai.

Padahal, komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak menjadi salah satu benteng utama agar anak berani bercerita ketika menghadapi masalah.

“Kesempatan untuk saling mengenal dalam keluarga sekarang semakin sedikit karena semua sibuk dengan handphone. Akibatnya pertukaran nilai antara orang tua dan anak berkurang,” katanya.

Melalui peringatan Hari Anak Nasional tahun ini, diharapkan semakin banyak anak yang memahami hak-haknya, mampu mengenali bentuk-bentuk kekerasan yang kerap terselubung dalam hubungan sehari-hari, serta tidak ragu mencari bantuan ketika menjadi korban. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.