Kabupaten Bogor, Jawa Barat (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) RI berhasil mengubah pola pikir atau mindset masyarakat dari bekerja sebagai petani ganja menjadi petani kopi melalui program Rancangan Besar Pembangunan Alternatif atau Grand Design Alternative Development (GDAD).

Dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengungkapkan melalui perubahan pola pikir, masyarakat bisa menghasilkan kopi yang bernilai ekonomis sehingga dapat menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi pemerintah daerah setempat.

"Pada bidang pemberdayaan masyarakat, BNN terus bekerja untuk memutus akar sosial dan ekonomi yang membuat sebagian masyarakat berada dalam lingkaran kerawanan narkotika," ucap Suyudi.

Untuk itu, di wilayah rawan kultivasi ganja seperti Gayo Luwes, Aceh, BNN melaksanakan kegiatan GDAD, yang merupakan inisiatif unggulan untuk memberantas narkotika dari hulunya, yaitu mengalihkan profesi petani tanaman terlarang menjadi petani komoditas legal dan produktif.

Meski sempat terkendala akibat musibah banjir besar, Suyudi menjelaskan program yang dicanangkan sejak 2016 tersebut kini sudah kembali dibangun agar bisa berjalan normal seperti sebelumnya.

Ia menyebut pendekatan pencegahan narkotika BNN saat ini tidak berhenti hanya pada pemusnahan tanaman ganja, tetapi dilanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komoditas alternatif yang legal dan produktif.

Pasalnya, kata dia, keberhasilan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) tidak cukup hanya diukur dari besaran hektare tanaman ilegal yang dimusnahkan.

Menurutnya, pemberantasan yang berkelanjutan harus mampu memutus mata rantai kejahatan sekaligus menghadirkan pilihan penghidupan yang bermartabat.

"Tak hanya lebih baik mencegah daripada mengobati, tetapi juga dari seberapa kuat masyarakat mampu berdiri secara mandiri tanpa kembali bergantung pada ekonomi ilegal narkotika," ucap Suyudi.