TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN- Seminar Kesehatan Mental dan Isu Sosial memperingati Hari Anak Nasional digelar di Gedung Wanita, Jalan Serindit, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara ( Kaltara ), Kamis (23/7/2026).
Kegiatan Seminar tersebut diikuti perwakilan pelajar, mahasiswa, kepala sekolah hingga tenaga pendidik.
Selama Seminar berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan narasumber, bahkan tak sedikit yang mengajukan pertanyaan saat sesi diskusi.
Seminar juga menghadirkan fasilitator bahasa isyarat agar peserta penyandang disabilitas dapat mengikuti kegiatan dengan baik.
Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan, kesehatan mental anak dan remaja perlu menjadi perhatian bersama di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2026, Bunda PAUD Nunukan Ajak Lindungi Anak dan Wujudkan Masa Depan Cerah
Menurut Syarwani, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi yang turut memengaruhi pola kehidupan anak.
"Tantangan terberat kita terhadap isu-isu sosial bagi anak remaja di Kabupaten Bulungan khususnya dan Indonesia pada umumnya, pertama terkait kemajuan teknologi," ujarnya.
Syarwani menilai, penggunaan media sosial yang berlebihan membuat banyak anak kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat.
"Suka tidak suka, faktanya banyak waktu anak-anak kita yang harusnya dia bisa gunakan untuk membaca buku atau melakukan hal-hal positif lainnya, tapi banyak yang terbuang dengan melihat apa yang terjadi di media sosial," katanya.
Karena itu, ia menilai perlu adanya pengaturan dan pembatasan penggunaan media sosial agar tidak mengganggu proses tumbuh kembang anak.
"Nah itu juga menjadi sesuatu yang harus ada pengaturan dan pembatasan, supaya hal-hal yang menyangkut tumbuh kembang anak remaja tidak terganggu akibat dari dampak kemajuan teknologi itu sendiri," jelasnya.
Selain perkembangan teknologi, Syarwani juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan narkoba yang masih menjadi ancaman serius bagi generasi muda.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2026, Wali Kota Tarakan Ajak Semua Pihak Bersatu Lindungi Anak
"Yang kedua berkaitan dengan kondisi yang nyata adalah ancaman peredaran masalah narkoba. Itu juga sama-sama harus kita jaga, dan saya pesan kepada anak-anak kita jangan pernah coba-coba menyentuh yang namanya penyalahgunaan narkoba ini," tegasnya.
Menurutnya, penyalahgunaan narkoba akan berdampak besar terhadap masa depan anak karena proses pemulihannya membutuhkan waktu yang tidak singkat.
"Karena itu pasti akan sangat merusak bagi tumbuh kembang anak-anak. Sekali kita mencoba rasanya sulit untuk bisa keluar dan butuh waktu panjang untuk bisa sembuh total," ucapnya.
Ia mengatakan, masa yang seharusnya dimanfaatkan untuk menempuh pendidikan justru dapat habis karena harus menjalani rehabilitasi.
"Pastinya proses itu akan memakan waktu yang harusnya saatnya mereka di usia sekolah, tapi harus melakukan rehabilitasi dan sebagainya," tuturnya.
Syarwani menegaskan, menjaga anak dari berbagai persoalan sosial merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah maupun sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat.
"Tentunya ini peran kita semua, bukan hanya orang tua tapi peran kolektif kita bersama. Apalagi orang tua yang sehari-hari berada di lingkungan yang sama dengan anaknya tentu pengawasan dari mereka menjadi sangat penting," katanya.
Ia berharap orang tua tetap memberikan ruang bagi anak untuk bersosialisasi, namun disertai pengawasan dan batasan yang jelas.
"Bukan berarti kita membatasi atau melarang anak kita bergaul, tapi tetap perlu ada pengaturan, mungkin batasan waktu dia boleh keluar rumah. Ketika dia bergaul dengan teman sebaya tentu pergaulan yang dibangun harus positif dan berdampak baik terhadap prestasi dan tumbuh kembangnya," pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti