Sarjana Hukum di Inggris Ini Banting Setir, Kini Pilih Jualan Durian
GH News July 23, 2026 07:10 PM
Jakarta -

Lulusan pendidikan hukum dari kampus bergengsi di Inggris meninggalkan karier profesional. Ia memilih menekuni bisnis durian organik.

Gelar dari kampus bergengsi sering dianggap sebagai tiket menuju karier cemerlang. Tak sedikit orang rela menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengejar pendidikan terbaik.

Namun, ada juga mereka yang rela meninggalkan potensi pekerjaan bergengsi demi menjalankan profesi sesuai minatnya. Salah satunya kisah pria yang dilansir dari VnExpress (22/7/2026).

Vin Cheah merupakan pria asal Kuala Lumpur, Malaysia dan seorang lulusan hukum dari London School of Economics (LSE). Ia memilih meninggalkan dunia hukum dan beralih menjadi petani durian organik.

Baca juga: Viral! Karyawan Restoran Ejek Pelanggan Disabilitas, Berujung PHK

Ilustrasi pohon durianKisah unik datang dari seorang sarjana hukum yang banting setir jadi petani durian. Foto: Getty Images/iStockphoto/Yurich84

Kini dirinya fokus mengelola kebun durian premium di Bentong, Pahang, Malaysia. Vin sebelumnya telah menempuh pendidikan hukum di LSE, menyelesaikan pelatihan Bar di Inggris, hingga berkarier di bidang hukum.

Pada 2021, Vin memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia merasa ingin mengerjakan sesuatu yang lebih nyata dan dapat memberikan manfaat yang bisa dinikmati banyak orang.

"Saya berhenti dari dunia hukum karena itu bukan untuk saya," ujar Vin.

Keputusan tersebut kemudian membawanya ke dunia pertanian. Vin mengambil alih pengelolaan lahan seluas 10 hektar milik keluarganya di Bentong.

Kebun yang kemudian dikenal sebagai Bentong Hill Durian itu ditanami beberapa varietas durian, terutama Black Thorn, serta Musang King dan Tupai King. Di kebunnya, Vin menerapkan metode pertanian organik.

Ilustrasi durian tai babiIa bahkan punya metode penanaman durian organik yang meningkatkan nilai jual buahnya. Foto: Getty Images/iStockphoto/naito8

Bagi Vin, bertani secara organik memang jauh lebih rumit. Setiap pohon harus diperiksa secara rutin dan dirawat sesuai kondisinya.

Metode ini juga membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Vin kini mempekerjakan 12 orang pekerja yang dilatihnya secara langsung selama sekitar satu tahun. Hasil panen pertamanya memang belum besar.

Ia hanya menghasilkan sekitar 118 buah durian. Namun, sekitar setengah hasil panen tersebut berhasil dijual dengan harga sekitar RM100 atau sekitar Rp450 ribuan per kilogram. Kira-kira dua kali lipat dari harga durian premium biasa di Malaysia.

Selain mengelola kebunnya sendiri, Vin kini juga menjadi konsultan bagi pemilik perkebunan durian lain. Ia mengawasi sekitar 100 hektare lahan dengan total kurang lebih 2.800 pohon durian.

Bahkan, ada pemilik kebun dari Indonesia dan Australia yang sempat tertarik menggunakan jasanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.