Deretan Kandidat Calon Ketua Umum PBNU Sowan ke Jogja, PWNU DIY Belum Tentukan Arah Dukungan
Muhammad Fatoni July 23, 2026 07:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY menegaskan belum menentukan arah dukungan terkait calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang.

​Meskipun gelaran Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026 di Jawa Timur semakin dekat, sikap PWNU DIY dipastikan masih cair dan dinamis.

​Ketua PWNU DIY, KH Zuhdi Muhdlor, mengungkapkan dinamika jelang Muktamar NU merupakan bagian dari ritual organisasi yang wajar dan rutin terjadi. 

Menurutnya, PWNU DIY belum condong ke figur manapun lantaran seluruh nama yang beredar merupakan kader-kader terbaik Nahdlatul Ulama.

​"Belum (menentukan dukungan). Kita belum, kan kondisinya masih cair, ya. Kita belum menentukan siapanya (yang akan didukung), itu belum," terangnya, saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026).

Sowan ke Jogja

Zuhdi tidak menampik, deretan nama potensial kandidat Ketum PBNU sudah bersilaturahmi, serta melakukan komunikasi secara intensif dengan PWNU DIY. 

Bahkan, sampai sejauh ini, hampir seluruh figur yang dijagokan masuk dalam bursa calon ketua umum disebut sudah sowan langsung ke Yogyakarta.

Antara lain KH Muhammad Yusuf Chudlori, KH Abdussalam Shohib, KH Abdul Hakim Mahfudz, petahana KH Yahya Cholil Staquf, hingga KH Zulfa Mustofa.

​"Kalau kontak ke PWNU sudah. Bahkan hampir semuanya (sudah sowan). Ada Gus Yusuf, Gus Salam, Gus Kikin, Pak Yahya sendiri, lalu Kiai Zulfa. Ya, mereka silaturahmi saja," ungkapnya.

​Kendati sudah disambangi secara langsung oleh para kandidat, PWNU DIY memilih tetap bersikap normatif dan memberikan porsi perlakuan yang setara.

​Bagi PWNU DIY, kedatangan para kandidat tidak sekadar menjadi ajang nostalgia atau formalitas silaturahmi dengan struktural NU di tingkat provinsi belaka. 

Baca juga: Menatap Masa Depan NU 100 Tahun ke Depan

Pengurus wilayah memanfaatkan momentum tersebut layaknya ujian kelayakan dan kepatutan, guna membedah program kerja serta arah strategis yang ditawarkan para calon.

​"Kita seperti fit and proper test, untuk mengetahui strategi perjuangannya seperti apa, terus fokus yang akan ditangani seperti apa. Jadi tidak semata-mata mereka datang, mau nyalon, lalu kita dukung, enggak. Tetap kita ingin ngerti juga bagaimana visinya," tegasnya.

​Bukan tanpa alasan, Zuhdi menilai, peta kepemimpinan Nahdlatul Ulama ke depan dihadapkan pada deretan tantangan yang tidak ringan.

Selain problematika internal dan keumatan yang semakin kompleks, nakhoda PBNU mendatang juga harus responsif terhadap ketidakpastian serta dinamika geopolitik global.

​Sehingga, PWNU DIY mendesak agar figur pimpinan PBNU mendatang memiliki keseimbangan visi perjuangan, baik konsolidasi ke dalam struktur keumatan maupun manuver diplomasi luar negeri.

​"Harapan kami, pemimpin NU ke depan itu yang punya visi ke dalam, tapi juga punya visi ke luar yang mumpuni. Siapa tahu cocok, antara visi Yogyakarta dengan visi mereka," pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.