TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Kepek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul terus berupaya mengoptimalkan potensi lokal berkelanjutan lewat predikatnya sebagai Desa Mandiri Budaya. Fokus pengembangan kini diarahkan ke Padukuhan Sumbermulyo yang dikenal sebagai sentra industri tahu.
Ulu-Ulu Kalurahan Kepek, Suryani Rina Wijaya, menjelaskan bahwa penguatan sentra industri ini telah berjalan intensif sejak ditetapkan pada 2023 dan didukung oleh alokasi Dana Keistimewaan (Danais) mulai tahun 2024.
"Pengembangan sentra tahu ini meliputi berbagai aspek, mulai dari pengolahan limbah hingga pemberdayaan ekonomi perempuan. Tahun 2026 ini, kami kembali menerima alokasi Danais sebesar Rp400 juta yang seluruhnya dialokasikan untuk pemberdayaan masyarakat," ujar Suryani kepada Tribunjogja.com, Selasa (21/7/2026).
Salah satu wadah utama promosi sentra ini adalah Event Semarak Taman Patung Sapi yang rutin digelar tahunan. Di dalamnya terdapat Festival Tahu dan Festival Mainan Tradisional. Rangkaian Festival Tahu sendiri dimeriahkan dengan agenda Grebeg Tahu, kenduri, pagelaran seni, serta lomba olahan pangan berbahan dasar tahu.
Melalui festival tersebut, keterlibatan kaum perempuan yang difasilitasi oleh Tim Penggerak PKK setempat menunjukkan antusiasme yang tinggi.
"Lomba olahan makanan berbahan dasar tahu didominasi oleh peserta perempuan. Pada penyelenggaraan tahun kedua lalu, pendaftar mencapai 65 orang dengan beragam variasi menu kreatif yang ditampilkan," paparnya.
Baca juga: Koalisi MBG Watch Sebut Pergantian Kepala BGN Tak Selesaikan Masalah MBG, Desak Program Dihentikan
Guna menunjang keberlanjutan usaha warga, Pemkal Kepek telah membangun fasilitas dapur produksi di area Taman Patung Sapi. Tidak hanya infrastruktur fisik, pengrajin dan pelaku UMKM juga dibekali berbagai pelatihan, mulai dari perizinan usaha, sertifikasi halal, hingga aspek keselamatan konsumen.
Tak sekadar menyasar sektor ekonomi, aspek kelestarian lingkungan turut disentuh lewat pemanfaatan limbah tahu menjadi energi ramah lingkungan. Menggunakan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) digester, limbah pengolahan tahu disulap menjadi biogas pengganti LPG.
"Saat ini sudah ada 6 unit IPAL digester yang menyalurkan biogas melalui jaringan perpipaan ke sekitar 20 kepala keluarga (KK). Ke depan, fasilitas edukasi pembuatan tahu dan pengolahan limbah ini akan terus kami tingkatkan kenyamanannya untuk kunjungan pelajar maupun wisatawan," jelas Suryani.
Dampak positif status Desa Mandiri Budaya ini juga menjangkau sektor lain, seperti program ketahanan pangan lewat budidaya lele dan peternakan kambing, hingga unit persewaan sarana-prasarana hajatan yang dikelola BUMKal demi membuka lapangan kerja baru.
Suryani berharap seluruh fasilitas dan pembekalan yang didanai Danais ini kelak dapat terus berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
"Kami berharap Desa Mandiri Budaya Kepek ini bisa berkembang mandiri seperti Desa Prima. Ketika dapur produksi dan pelatihan sudah difasilitasi, harapannya kegiatan ekonomi dan pelestarian industri tahu ini bisa terus bergulir melalui swadaya masyarakat," pungkasnya. (*)