TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dalam menekan angka stunting menunjukkan progres positif.
Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) per Juni 2026 yang dirilis Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, prevalensinya kini menyisa 8,27 persen.
Data tersebut mengungkap, dari total keseluruhan 9.235 balita yang dipantau kesehatannya, tercatat ada 764 balita yang masih mengalami stunting.
Meski belum benar-benar terselesaikan, torehan ini menunjukkan perbaikan dibandingkan capaian 2025 lalu, yang berada di angka 9,71 persen.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menuturkan capaian terkini sejatinya sudah berada di bawah target yang ditetapkan, baik secara nasional maupun daerah.
"Target nasional penurunan stunting berada di bawah 14 persen, sedangkan target untuk Kota Yogyakarta sendiri di bawah 12 persen. Namun, Pak Wali bertekad dan mematok target agar angka stunting di Kota Yogyakatta bisa turun drastis hingga 5 persen," ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Meskipun secara keseluruhan angka stunting di Kota Yogyakarta terus melandai, Dinkes mencatat penurunannya belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah.
Dijelaskan, dari 14 kemantren yang ada, Kotagede menjadi wilayah dengan persentase angka stunting tertinggi menyentuh 10,81 persen.
Baca juga: Momentum Hari Anak Nasional 2026, Pemkot Yogyakarta Tekankan Komitmen Pengentasan Stunting
Mengenai pemicu utama, Aan mengungkapkan bahwa persoalan stunting pada anak sifatnya kompleks dan tidak bersumber dari satu faktor tunggal.
Penyebab paling mendasar adalah kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang yang dialami anak dalam jangka waktu lama, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Adapun deretan faktor pendorongnya antara lain, buruknya sanitasi serta kebersihan lingkungan sekitar, pola asuh orangtua dan minimnya edukasi gizi keluarga, hingga faktor kondisi sosial ekonomi.
"Dari berbagai indikator pemicu tersebut, kami tidak bisa menunjuk satu penyebab paling dominan di Kota Yogyakarta, karena kondisi setiap keluarga dan balita sangat dinamis," imbuhnya.
Guna mengintervensi faktor-faktor pemicu, khususnya pemenuhan gizi balita, Pemkot Yogyakarta berupaya memperkuat sokongan pembiayaan, salah satunya melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Pada tahun ini, alokasi anggaran intervensi gizi dan PMT digelontorkan sebesar Rp7.631.748.000, naik signifikan dibandingkan alokasi 2025 yang tercatat sebesar Rp6.493.754.000.
Suntikan dana segar tersebut bersumber dari kolaborasi dua pendanaan utama, yakni Dana Keistimewaan (Danais) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
"Dengan peningkatan alokasi anggaran, kami optimis pendampingan gizi di tingkat posyandu, puskesmas, hingga intervensi langsung ke rumah-rumah warga dapat berjalan semakin massif demi mengejar target stunting 5 persen," tandasnya. (*)