Dinkes Sidoarjo Catat 7.230 Kasus HIV/AIDS, Perkuat Skrining dan Edukasi Masyarakat
Ndaru Wijayanto July 23, 2026 09:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, M Taufik

TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO - Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memperluas program skrining dan deteksi dini HIV/AIDS sebagai upaya menekan laju penularan serta angka kematian akibat penyakit tersebut.

Langkah tersebut dilakukan melalui penjangkauan wilayah berisiko tinggi, penguatan layanan pengobatan, serta pendampingan bagi orang dengan HIV (ODHIV) untuk mengurangi stigma di masyarakat.

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Sidoarjo, secara kumulatif sejak tahun 2001 hingga pertengahan Juli 2026 tercatat 7.230 kasus HIV/AIDS.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.708 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 810 pasien tercatat berstatus loss to follow up (LFU) atau putus dari pemantauan.

Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, menjelaskan bahwa besarnya data temuan kasus ini bukan mengindikasikan lonjakan penularan yang tidak terkendali, melainkan hasil dari semakin masifnya upaya deteksi dini di lapangan.

"Semakin banyak skrining yang dilakukan, semakin banyak kasus yang bisa ditemukan lebih awal. Dengan begitu, pasien bisa segera mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) sehingga kualitas hidupnya tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan," kata Lakhsmie, Kamis (23/7/2026).

Baca juga: DPRD Jatim Soroti Lonjakan Kasus HIV di Sidoarjo yang Didominasi Usia Produktif

Berdasarkan demografi usia, penularan HIV/AIDS di Sidoarjo masih didominasi oleh kelompok usia produktif. Kasus pada usia di atas 25 tahun mencatatkan angka tertinggi, yakni 6.047 kasus dengan 1.543 kematian.

Sementara itu, kelompok usia 18–24 tahun mencatatkan 1.006 kasus (123 kematian), usia 11–17 tahun sebanyak 60 kasus (7 kematian), serta usia 0–10 tahun mencapai 117 kasus (35 kematian).

Lakhsmie mengungkapkan, penularan pada anak usia di bawah 10 tahun umumnya terjadi secara vertikal dari ibu ke bayi selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Adapun pada kelompok remaja dan usia produktif, penularan dipicu oleh perilaku berisiko, termasuk penyalahgunaan NAPZA suntik dan interaksi seksual berisiko. Temuan di lapangan juga menunjukkan dinamika penularan pada kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL).

"Pada kelompok remaja, rasa ingin tahu yang besar, pengaruh media sosial, serta tekanan pergaulan menjadi faktor pemicu. Hal ini yang membuat kami menemukan kasus pada kelompok LSL cukup dominan di lapangan," ujar Lakhsmie.

Untuk menekan risiko penularan pada bayi, Dinkes Sidoarjo memfasilitasi pendampingan spesialis anak bagi ibu hamil terinfeksi HIV, termasuk penyediaan alternatif susu formula guna menghindari penularan melalui ASI.

Sepanjang tahun 2026, Dinkes Sidoarjo menargetkan 60 kegiatan skrining yang tersebar di 18 kecamatan.

Hingga pertengahan tahun, sebanyak 30 kegiatan telah terlaksana. Pada semester kedua, skrining menyasar 30 titik lokasi berisiko tinggi, seperti tempat hiburan malam dan lokalisasi terselubung.

Selain tindakan medis, penanganan sisi psikososial juga menjadi prioritas. Dinkes Sidoarjo menggandeng organisasi masyarakat sipil, seperti Yayasan Delta Crisis Center, untuk memberikan dukungan emosional kepada penderita serta mengikis stigma masyarakat.

Masyarakat diimbau untuk memahami pola penularan HIV/AIDS secara benar. Kontak fisik sehari-hari seperti berpelukan, berjabat tangan, penggunaan alat makan bersama, maupun gigitan nyamuk dipastikan tidak menularkan virus HIV.

"Meski penderita sudah merasa sehat, pengobatan ARV harus tetap dilanjutkan secara konsisten sesuai dosis. Ketika viral load tidak terdeteksi, risiko penularan ke orang lain menjadi sangat kecil," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.