TRIBUNKALTIM.CO - Kabar menggembirakan datang dari upaya penyelamatan satwa liar di Kalimantan Timur.
Seekor bekantan yang sebelumnya viral diduga menjadi korban tabrak lari di Jalan Jongkang, jalur poros Tenggarong–Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini telah dinyatakan pulih dan berhasil dikembalikan ke habitat alaminya oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.
Momen pelepasliaran tersebut kembali menarik perhatian masyarakat setelah videonya diunggah akun Instagram @hallo_kukar.
Dalam rekaman yang beredar, bekantan terlihat perlahan berjalan meninggalkan petugas menuju kawasan hutan.
Baca juga: BKSDA Kaltim Ungkap Kondisi Terkini Bekantan yang Viral Diselamatkan Warga di Jongkang Kukar
Meski langkahnya tampak masih sedikit pincang, BKSDA Kalimantan Timur memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan cedera permanen, melainkan efek sementara dari obat-obatan yang diberikan selama proses penanganan medis.
Keberhasilan pelepasliaran ini menjadi akhir dari rangkaian penyelamatan yang dimulai sejak bekantan ditemukan warga dalam kondisi tidak berdaya di tengah jalan.
Satwa endemik Kalimantan itu sempat mengalami cedera pada bagian kepala akibat benturan yang diduga terjadi karena tertabrak kendaraan saat melintasi Jalan Jongkang, salah satu ruas jalan penghubung antara Kota Tenggarong dan Kota Samarinda yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Bekantan atau Nasalis larvatus merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang dilindungi undang-undang.
Satwa ini dikenal dengan hidung panjang, terutama pada individu jantan, serta menjadi salah satu ikon keanekaragaman hayati Kalimantan yang populasinya terus menghadapi ancaman akibat penyusutan habitat dan aktivitas manusia.
Peristiwa penyelamatan bekantan ini bermula ketika seekor primata tersebut ditemukan tergeletak lemah di Jalan Poros Tenggarong–Samarinda, tepatnya di kawasan Jongkang.
Berdasarkan unggahan akun Instagram @info_kukar, bekantan ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas permukaan jalan beton.
Diduga satwa tersebut menjadi korban tabrak lari saat melintas di kawasan tersebut.
Melihat kondisi bekantan yang memprihatinkan, seorang warga yang melintas segera menghentikan kendaraannya dan memberikan pertolongan pertama.
Dalam video yang sempat viral di media sosial, warga terlihat mengelus bagian kepala dan dada bekantan sambil memberikan sedikit cairan menggunakan sendok untuk membantu memulihkan kesadarannya.
Aksi spontan warga tersebut mendapat banyak apresiasi dari masyarakat karena dinilai membantu menyelamatkan satwa yang dilindungi sebelum memperoleh penanganan medis.
Damkar Matan Kukar dan BKSDA Bergerak Cepat
Setelah mendapat pertolongan awal dari warga, proses penyelamatan dilanjutkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar Matan) Kabupaten Kutai Kartanegara.
Petugas kemudian berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, yakni unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang memiliki tugas melindungi tumbuhan dan satwa liar serta mengelola kawasan konservasi.
Usai diserahterimakan dari Damkar Matan Kukar, bekantan langsung dibawa menuju klinik hewan untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan medis secara menyeluruh.
Saat itu, pihak BKSDA Kaltim menjelaskan kondisi awal bekantan.
"Untuk saat ini, alhamdulillah sudah mulai membaik ya keadaan bekantannya. Kemarin setelah kita ambil dari Damkar, kita langsung boyong ke klinik hewan. Sudah ditangani di sana. Alhamdulillah dia mulai sadar, sudah diobati juga. Memang ada pendarahan di kepalanya sih."
Selain menjalani pengobatan, bekantan juga terus dipantau perkembangan kesehatannya melalui proses observasi.
"Mudah-mudahanlah ke depannya membaik lagi. Ini tetap kita pantau juga, observasi lagi ya kan. Ini sambil rawat jalan malah kan."
Luka Kepala Sembuh, Jalan Pincang Hanya Efek Obat
Setelah menjalani masa perawatan, kondisi bekantan terus menunjukkan perkembangan positif hingga akhirnya dinyatakan layak dilepasliarkan kembali.
Dalam video pelepasliaran yang viral melalui akun Instagram @hallo_kukar, sebagian masyarakat memperhatikan bahwa bekantan masih terlihat berjalan sedikit pincang ketika memasuki kawasan hutan.
Menanggapi hal tersebut, BKSDA Kalimantan Timur memberikan penjelasan resmi.
"Dalam video yang dibagikan, bekantan tersebut tampak masih berjalan sedikit pincang. Menurut keterangan BKSDA Kalimantan Timur, kondisi tersebut merupakan efek dari obat yang diberikan selama proses penanganan dan diperkirakan akan berangsur pulih. Sementara itu, luka yang dialami hanya berada di bagian kepala dan kini telah sembuh."
Artinya, kondisi tersebut bukan menunjukkan adanya patah tulang maupun gangguan permanen pada kaki bekantan, melainkan pengaruh sementara dari obat-obatan yang diberikan selama proses rehabilitasi medis.
BKSDA memperkirakan koordinasi gerak satwa tersebut akan kembali normal setelah efek obat hilang sepenuhnya.
Tetap Dipantau Setelah Kembali ke Alam
Pelepasliaran bukan menjadi akhir dari proses konservasi.
BKSDA Kalimantan Timur memastikan akan tetap melakukan monitoring atau pemantauan secara berkala terhadap bekantan tersebut.
Monitoring merupakan kegiatan pengamatan rutin untuk mengetahui perkembangan kondisi satwa setelah kembali ke habitat alami, termasuk kemampuan mencari makan, beradaptasi dengan lingkungan, hingga memastikan tidak mengalami gangguan baru.
BKSDA menyampaikan, "BKSDA Kalimantan Timur juga memastikan akan terus melakukan pemantauan terhadap bekantan tersebut guna memastikan kondisinya tetap baik setelah kembali ke alam liar."
Langkah tersebut dilakukan agar proses adaptasi berjalan optimal dan bekantan dapat kembali menjalani kehidupan normal di habitatnya.
Lihat video lengkapnya KLIK LINK DI SINI
Mengenal Bekantan, Satwa Endemik Kalimantan
Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata yang hanya ditemukan secara alami di Pulau Kalimantan.
Satwa ini mudah dikenali dari hidungnya yang besar, terutama pada bekantan jantan dewasa. Selain itu, bekantan memiliki bulu berwarna cokelat kemerahan, ekor panjang, serta perut yang relatif besar karena sistem pencernaannya mampu mengolah dedaunan sebagai makanan utama.
Bekantan juga dikenal sebagai primata yang pandai berenang karena memiliki selaput tipis pada jari-jari kakinya.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), bekantan berstatus Endangered atau terancam punah akibat terus berkurangnya habitat alami serta berbagai ancaman lainnya.
Habitat alaminya meliputi hutan mangrove, hutan rawa, hutan riparian atau kawasan sepanjang sungai, hingga hutan rawa gambut di Kalimantan.
Makanan utamanya terdiri atas daun muda, buah-buahan, bunga, dan biji-bijian.
Mengapa Bekantan Bisa Masuk Permukiman?
Kemunculan bekantan di sekitar jalan raya maupun kawasan permukiman bukan tanpa sebab.
Salah satu faktor utama ialah semakin menyusutnya habitat akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman, perkebunan, maupun pembangunan lainnya.
Selain itu, berkurangnya sumber makanan di habitat alami dapat mendorong bekantan keluar hutan untuk mencari pakan.
Bekantan juga bisa tersesat atau terpisah dari kelompoknya, terutama jika masih muda, sedang sakit, mengalami cedera, atau mengalami disorientasi.
Kondisi kesehatan yang menurun, seperti dehidrasi, kelelahan, maupun cedera akibat kecelakaan, juga membuat satwa lebih mudah ditemukan warga di ruang terbuka.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak menangkap ataupun memelihara satwa liar yang ditemukan. Langkah yang tepat adalah menjaga jarak, tidak memberikan makanan sembarangan, dan segera melaporkan keberadaan satwa kepada BKSDA atau instansi berwenang agar memperoleh penanganan sesuai prosedur konservasi.