TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat Syafiq Raif Muzaffar (16) untuk mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional.
Siswa kelas VIII SLB Islam Qothrunnada, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul ini sukses menyabet gelar juara 1 Nasional dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) kategori melukis.
Tanpa perlu kata-kata, imajinasi dan ketelitian jemarinya mampu menyulap kanvas putih menjadi karya visual penuh emosi yang memukau para juri.
Di tengah kesunyian dunianya sebagai seorang tunarungu, Raif justru berhasil melukiskan keindahan yang mengguncang panggung seni nasional melalui goresan kuas dan permainan warna yang luar biasa.
Guru Pendamping Raif, Khasna Nada, menyampaikan pencapaian ini diraih Raif bukan dengan jalur instan.
Di balik prestasi tersebut, ada proses panjang, ketekunan, hingga perjuangan besar dari seorang anak perantauan asal Banjarnegara, Jawa Tengah, yang berjuang belajar dari nol di Kota Pelajar.
"Raif ini kan pindah ke sekolah ini sekitar kelas 4 SD. Waktu itu, dia sudah suka gambar gitu, tapi belum terarah. Waktu itu, dia cuma suka gambar karakter kartun seperti Doraemon dan Pokemon di lembaran kertas," katanya, kepada awak media, di SLB Islam Qothrunnada, Kamis (23/7/2026).
Karya Raif kala itu dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.
Dari situ para guru setempat perlahan-lahan memberi arahan dan pembinaan untuk Raif menekuni dunia seni melukis.
Seiring berjalannya waktu, bakat Raif pun kian terasah dan berkembang.
Selama ini, Raif harus mondok di SLB Islam Qothrunnada, dikarenakan berasal dari luar kota.
Di sekolah asrama khusus tersebut, bakat Raif mulai diolah dan diarahkan melalui kegiatan melukis yang dibina oleh pengajar lukis.
"Dia enggak setiap hari melukis. Jadi, ada waktu-waktu tertentu saja. Kalau waktunya belajar, ya dia belajar. Kalau waktunya istirahat atau sedang menunggu waktu salat atau setelah salat itu biasanya anak dibebaskan. Jadi kalau gabut ngambil kertas terus gambar tipis-tipis. Kalau lagi mood banget, gambarnya bisa bagus sekali," tutur dia.
Baca juga: Kisah Gilang, Sarjana Difabel Berburu Rezeki di Pasar Ngasem Yogyakarta
Nada turut menceritakan saat Raif duduk di kelas V SD atau pada tahun 2024 pernah melangkah ke tingkat nasional pada cabang gambar ekspresi media krayon dan meraih Juara Harapan 3 dan saat kelas VI SD.
Raif pun kembali melaju dan naik peringkat menjadi Juara Harapan 1 dengan kategori gambar ekspresi.
Kendati demikian, perjalanan untuk meraih prestasi tidak bisa mulus begitu saja.
Saat Raif menginjak kelas VII SMP dan ingin ikut gelaran FLS2N, sudah tidak diperbolehkan mengikuti lomba kategori gambar ekspresi.
Maka, yang sebelumnya melukis dengan krayon, Raif harus mampu pindah melukis dengan media kanvas.
Apalagi dalam lomba selanjutnya, terdapat kategori Seni Lukis SMP.
"Itu benar-benar pertama kalinya dia pegang kanvas dan cat akrilik dari nol. Sebelumnya kan fokus di krayon. Tapi karena teknik warna dan komposisinya di krayon sudah matang, kita coba matangkan di kanvas. Dan kita enggak menyangka, ternyata alhamdulillah bisa dapat juara 1," jelas dia.
Pada ajang FLS2N tingkat nasional ini, Raif berhasil mengalahkan peserta lain dari 38 provinsi di Indonesia.
Adapun karyanya mengusung karya lukis bertema kebudayaan Yogyakarta yakni Semarak Pesta Kesenian Rakyat Yogyakarta di kawasan Alun-Alun Utara.
Karya tersebut lahir dari kolaborasi ide kreatif antara Raif, guru pendamping, dan pelatihnya.
Di dalam karya itu terdapat penari tunadaksa membawakan Tari Mangastuti.
Gerakan Tari Mangastuti dipilih karena memiliki makna ungkapan rasa syukur, doa, serta harapan akan keberkahan dan kejayaan.
Sementara itu, Raif saat didampingi oleh Nada menyampaikan rasa senang bisa meraih prestasi di ajang FLS2N. Raif mengaku sempat merasa deg-degan.
"Saya senang sekali," ucapnya.(*)