TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak ibu baru merasa produksi ASI tidak cukup karena hasil pompa hanya sedikit.
Perasaan tersebut sering membuat orang tua terburu-buru menambahkan susu formula, bahkan saat bayi masih berusia di bawah enam bulan.
Padahal, menurut Konsultan Gastroenterohepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A(K), anggapan tersebut belum tentu benar.
Ia mengatakan, sedikitnya ASI yang keluar saat dipompa tidak bisa dijadikan patokan bahwa produksi ASI memang kurang.
Justru, keputusan memberikan susu formula terlalu dini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada bayi, salah satunya alergi protein susu sapi.
Dr Eva menjelaskan, kemampuan bayi mengisap ASI jauh lebih kuat dibandingkan alat pompa.
Baca juga: Sering Dikira Sama, Ini Beda Saluran ASI Tersumbat dan Mastitis pada Ibu Menyusui
Karena itu, jumlah ASI yang berhasil dipompa sering kali tidak sama dengan jumlah yang sebenarnya mampu diminum bayi saat menyusu langsung.
"Nah, kenapa nih, kalau dipompa sedikit keluarnya, hanya keluar 10 cc, kekuatan hisap bayi, itu lebih kuat daripada pompa. Jadi jangan merasa, wah ini ASI yang keluar dipompa 10 cc. Tapi kalau dihisap bayi, enggak lho. Bayinya bisa banyak, hisapnya kencang gitu. Karena hisapnya beda," jelasnya pada media briefing di Blok M Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).
Karena itu, ibu tidak perlu langsung menyimpulkan ASI kurang hanya berdasarkan hasil pompa.
Menurut Dr Eva, salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah orang tua langsung memberikan susu formula ketika bayi terlihat tidak puas menyusu.
Padahal, belum tentu penyebabnya adalah produksi ASI yang kurang.
Ia menjelaskan, bayi berusia di bawah enam bulan masih memiliki saluran cerna yang belum matang.
Jika terlalu dini mendapatkan susu formula, risiko alergi protein susu sapi dapat meningkat.
"Nah, di bawah 6 bulan dapat susu formula, itu merangsang alergi susu sapi yang sangat banyak terasa, sangat sering terjadi. Karena pada saat itu, usus bayi itu belum matang untuk mencernakan susu sapi," ujarnya.
Karena itu, keputusan memberikan susu formula sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan dugaan bahwa ASI kurang.
Dr Eva mengatakan, banyak ibu baru mengalami krisis kepercayaan diri setelah melahirkan.
Pada masa tersebut, sedikit saja muncul kekhawatiran mengenai ASI, ibu bisa langsung merasa gagal menyusui bayinya.
Menurutnya, kondisi tersebut umum terjadi pada beberapa bulan pertama setelah persalinan.
Karena itu, keluarga memiliki peran penting untuk memberikan dukungan emosional.
Ia mengingatkan agar suami maupun anggota keluarga tidak menyalahkan ibu ketika ASI belum keluar banyak.
Sebaliknya, ibu perlu diberikan semangat agar tetap percaya diri dan terus menyusui bayinya.
Selain pemberian susu formula, Dr Eva juga mengingatkan agar penggunaan dot tidak dilakukan bergantian dengan menyusu langsung tanpa alasan yang jelas.
Menurutnya, cara bayi mengisap dot dan puting ibu berbeda. Pada botol susu, cairan relatif lebih mudah keluar. Sementara saat menyusu langsung, bayi harus mengisap lebih kuat agar ASI mengalir.
Perbedaan tersebut dapat membuat sebagian bayi menjadi bingung puting dan akhirnya enggan menyusu langsung kepada ibunya.
Dr Eva menjelaskan, ASI bukan sekadar sumber nutrisi.
Di dalamnya terdapat berbagai komponen alami, seperti enzim, bakteri baik (probiotik), hingga zat yang membantu proses pencernaan bayi.
Bahkan, menurutnya, komposisi ASI dapat menyesuaikan kondisi bayi.
"Dan ajaibnya lagi, ASI ibu itu, kalau anaknya tau-tau diare, itu langsung berubah sendiri. Sesuai dengan anak diare. Laktosanya langsung turun, laktasenya berubah-begitu. Itu juga heran juga. Kok bisa?" katanya.
Karena itu, Dr Eva menganjurkan agar ibu tetap mengutamakan pemberian ASI selama memungkinkan.
Selain lebih sesuai dengan kebutuhan bayi, ASI juga mengandung berbagai komponen alami yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh susu formula.
Menurutnya, ketika ibu merasa ASI kurang atau bayi mengalami kesulitan menyusu, langkah terbaik bukan langsung mengganti dengan susu formula.
Melainkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.