BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Isu fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah secara fisik maupun emosional di tengah keluarga kini menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang emosional, mental, hingga ketahanan keluarga di era modern.
Fenomena ini terbukti berkolerasi erat dengan maraknya permasalahan sosial remaja, seperti aksi kekerasan, perundungan, hingga kasus penyalahgunaan narkoba.
Pembahasan mendalam tersebut mengemuka dalam siaran Bangga Kencana Talk bertajuk "Fatherless: Ancaman Nyata di Balik Ketidakhadiran Ayah" di kanal YouTube Banjarmasin Post News Video.
Gerakan Bangga Kencana sendiri merupakan program pembangunan keluarga berkualitas yang memuat penyiapan calon pengantin, pendampingan ibu hamil, pengoptimalan pengasuhan anak, penguatan peran ayah dan ibu, pembinaan remaja, hingga pendampingan lansia demi mewujudkan generasi unggul.
Dipandu jurnalis Banjarmasin Post, Kristin Juli Saputri, diskusi ini menghadirkan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Masyarakat (PPKBPM) Kota Banjarmasin, Ahmad Syaugi, serta Kepala Bidang KB Dinas PPKBPM Kota Banjarmasin, Rimalia.
Ahmad Syaugi menjelaskan bahwa keterlibatan ayah dalam keluarga kerap terabaikan karena kesibukan kerja dan dominasi penggunaan media sosial.
Kondisi ini membuat keberadaan ayah di rumah seolah antara ada dan tiada karena minimnya komunikasi harian dengan anak.
"Fisiknya ada, tetapi jarang berkomunikasi dan bertukar cerita tentang kehidupan sehari-hari anak di sekolah atau tempat bermain. Hal itu membuat hubungan dengan anak menjadi jauh hingga mereka mencoba mengimplementasikan dirinya sendiri," kata Syaugi.
Ia menegaskan, hadirnya ayah bukan sekadar pencari nafkah atau memberikan hadiah mahal, melainkan hadir secara utuh menemani anak bercerita dan bermain.
Momen sederhana seperti diajari berenang atau diantar ke sekolah akan menjadi kenangan berkesan yang membentuk karakter anak hingga dewasa.
Menanggapi hal itu, Rimalia meluruskan pandangan keliru masyarakat yang menganggap ayah hanya bertugas mencari uang sebagai dompet berjalan, sementara pengasuhan sepenuhnya beban ibu. Menurutnya, peran orang tua harus berjalan beriringan sesuai tahapan usia perkembangan anak.
Pada usia 0 hingga 2 tahun, anak memang lebih membutuhkan kehangatan dan ASI dari ibu. Memasuki usia 3 hingga 7 tahun, kedua orang tua wajib hadir bersama tanpa ada yang absen.
Selanjutnya pada usia 7 hingga 10 tahun, anak laki-laki membutuhkan 75 persen porsi sifat maskulin dari ayah untuk menyerap jati diri dan wibawa, sedangkan anak perempuan membutuhkan porsi kelembutan ibu diselingi rasa aman dari ayah.
Sebaliknya, pada usia 10 hingga 14 tahun, anak laki-laki kembali mendekat ke ibu untuk merawat kepekaan hati, sementara anak perempuan mendekat ke ayah untuk belajar rasa aman dan memahami cara dihargai oleh seorang pria.
Rimalia juga menyoroti sifat neuroplastisitas otak anak di bawah usia 12 tahun yang bekerja sebagai peniru ulung sebelum kemampuan berpikir kritisnya matang.
Jika anak laki-laki terus-menerus mengekor kegiatan ibu seperti ke pasar atau salon tanpa contoh figur pria, ia berisiko tumbuh terlalu lunak dan kehilangan jiwa kepemimpinan.
"Mengapa mengajarkan naik sepeda sebaiknya ayah yang memimpin, karena di situ tersirat ketegasan, keberanian, dan cara bangkit saat jatuh. Ayah adalah cetak biru bagi anak laki-laki tentang menjadi pria, dan bagi anak perempuan tentang bagaimana seharusnya ia dihargai dan dilindungi," ujar Rimalia.
Ia menambahkan, dinamika fatherless masa lalu dan masa kini sangat berbeda. Meski ayah zaman dulu sibuk bertani atau beternak, mereka tetap mengajarkan keterampilan bertahan hidup secara langsung, sedangkan anak zaman sekarang yang kehilangan figur ayah justru mencari pelarian ke gawai dan tayangan hiburan seperti drama Korea hingga memicu lonjakan angka kecemasan.
Untuk kasus anak yang ditinggal meninggal dunia oleh ayahnya, Rimalia menyarankan agar keluarga segera mencari sosok figur pengganti seperti kakek atau paman.
Hal ini meneladani kisah Nabi Muhammad SAW yang tetap mendapatkan pola pengasuhan maskulin dari kakek dan pamannya setelah ditinggal wafat kedua orang tua sejak kecil.
Guna mengatasi keterbatasan waktu akibat kesibukan kerja, Syaugi membagikan pengalamannya memanfaatkan teknologi seperti panggilan video secara rutin untuk menyapa anak.
Selain upaya mandiri, Pemerintah Kota Banjarmasin juga menggulirkan serangkaian program intervensi terstruktur untuk menanggulangi masalah fatherless di masyarakat.
Program-program tersebut meliputi Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, program Bina Keluarga Balita yang mewajibkan ayah mengantar istri ke posyandu agar dapat memantau tumbuh kembang anak sejak dini, hingga program Bina Keluarga Remaja untuk mendampingi pembentukan karakter remaja. Tak hanya itu, Pemko Banjarmasin juga merancang Sekolah Calon Ayah dan Calon Ibu serta menggalakkan Gerakan Ayah Teladan di Kota Banjarmasin.
Sebagai penutup, Syaugi mengingatkan bahwa proses pembentukan perilaku anak tidak dapat terulang dua kali, sehingga meluangkan waktu mendengarkan emosi anak harus menjadi prioritas utama di sela kesibukan. Senada dengan itu, Rimalia mengajak para orang tua untuk terus merawat kerinduan di hati anak melalui momen-momen penuh kasih sayang yang akan selalu dikenang sepanjang hayat. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin)