Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anak susah makan menjadi salah satu keluhan yang paling sering membuat orang tua khawatir.
Tak sedikit yang kemudian membeli vitamin atau suplemen penambah nafsu makan yang dijual bebas dengan harapan anak mau makan lebih banyak.
Padahal, menurut Konsultan Gastroenterohepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A(K), orang tua sebaiknya tidak langsung mengandalkan produk penambah nafsu makan tanpa mengetahui penyebab anak sulit makan.
Sebab, hingga kini belum ada obat penambah nafsu makan yang benar-benar bekerja sama pada semua anak.
Selain itu, beberapa obat yang sering digunakan dokter justru memiliki efek samping sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan.
Vitamin Penambah Nafsu Makan Tidak Selalu Berhasil pada Semua Anak
Dr Eva menjelaskan, produk yang dikenal masyarakat sebagai vitamin penambah nafsu makan memang ada di pasaran.
Namun manfaatnya sangat bergantung pada kondisi masing-masing anak.
Ada anak yang setelah mengonsumsinya menjadi lebih lahap makan, tetapi ada pula yang tidak mengalami perubahan sama sekali.
Karena itu, efektivitasnya tidak bisa disamaratakan.
Baca juga: Cara Jaga Kesehatan Tulang Wanita agar Terhindar Osteoporosis, Gizi Seimbang hingga Asupan Vitamin D
"Sebenarnya sih ada vitamin penambah nafsu makan. Tapi itu cocok-cocokan. Ada anak kok dikasih itu. Terus makannya mau. Tapi ada juga yang nggak. Jadi nggak rutin gitu," jelasnya pada media briefing di Blok M Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).
Menurut Dr Eva, dalam dunia kedokteran suatu obat seharusnya memberikan hasil yang konsisten pada hampir semua pasien.
Karena itulah dokter tidak bisa begitu saja menyebut vitamin tertentu sebagai solusi pasti untuk mengatasi anak susah makan.
Obat yang Dipakai Dokter Bukan Sebenarnya Obat Nafsu Makan
Dr Eva mengatakan, obat yang selama ini sering diresepkan dokter untuk membantu meningkatkan nafsu makan bukanlah obat yang memang dibuat khusus untuk tujuan tersebut.
Salah satunya adalah siproheptadine.
Obat ini sebenarnya merupakan obat untuk alergi.
Namun pada sebagian orang, obat tersebut memiliki efek samping berupa meningkatnya nafsu makan.
Karena efek itulah obat kadang dimanfaatkan dalam kondisi tertentu.
Meski demikian, penggunaannya harus berada di bawah pengawasan dokter.
Sebab, obat tersebut bukan ditujukan untuk dikonsumsi dalam jangka panjang.
Ada Efek Samping Jika Dikonsumsi Terlalu Lama
Menurut Dr Eva, penggunaan siproheptadine hanya dilakukan dalam waktu terbatas.
Biasanya beberapa minggu hingga anak mulai memiliki pola makan yang lebih baik.
Jika dikonsumsi terlalu lama, obat tersebut justru dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
"Karena kalau lama-lama, dia suka menghambat pertumbuhan anak menjadi lebih tinggi. Nah efek sampingnya," ujarnya.
Karena adanya risiko tersebut, obat ini kini tidak lagi bebas digunakan seperti dahulu.
Dokter akan mengevaluasi kondisi anak secara berkala dan menghentikan obat ketika nafsu makan sudah mulai membaik.
Tujuannya agar anak tidak bergantung pada obat untuk bisa makan.
Yang Dicari Bukan Sekadar Nafsu Makan, tetapi Penyebabnya
Dr Eva menegaskan, sebelum memberikan obat, dokter akan mencari tahu lebih dulu mengapa anak sulit makan.
Pada sebagian anak, penyebabnya bukan karena tidak memiliki nafsu makan.
Ada yang mengalami gangguan pencernaan, ada pula yang mengalami GERD sehingga setiap kali makan merasa tidak nyaman.
Dalam kondisi seperti itu, meningkatkan nafsu makan saja tidak akan menyelesaikan masalah.
Penyakit yang mendasarinya tetap harus diobati.
Ia mencontohkan anak dengan GERD sering mengalami mual, muntah, atau asam lambung naik sehingga enggan makan.
Begitu penyebabnya diatasi, anak biasanya akan mulai makan lebih baik tanpa harus bergantung terus pada obat penambah nafsu makan.
Obat Hanya Membantu di Awal
Dr Eva menjelaskan tujuan pemberian obat hanyalah membantu pada fase awal ketika anak benar-benar sulit makan.
Setelah kondisi lambung membaik dan anak mulai terbiasa makan, obat akan dihentikan secara bertahap.
Dengan begitu, kapasitas lambung akan kembali menyesuaikan dan anak dapat makan secara alami.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak terus-menerus mencari vitamin penambah nafsu makan setiap kali anak mulai susah makan.
Menurutnya, langkah yang lebih penting adalah mencari penyebab utama gangguan makan tersebut.
Bila anak terus-menerus sulit makan, berat badan tidak bertambah, atau pertumbuhannya mulai terganggu, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
Dengan diagnosis yang tepat, penanganan dapat disesuaikan dengan penyebabnya sehingga hasilnya lebih efektif daripada sekadar mengandalkan vitamin atau obat penambah nafsu makan.