Musim Kemarau Ancam Pasokan, Harga Beras di Pangandaran Diprediksi Bakal Naik
Dedy Herdiana July 24, 2026 05:35 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Harga beras di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, berpotensi mengalami kenaikan seiring dampak musim kemarau yang mulai mengancam produksi padi. 

Selain risiko gagal panen, tingginya permintaan bahan baku juga menjadi faktor yang diperkirakan mendorong kenaikan harga.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Kemetrologian Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUKMPP) Kabupaten Pangandaran, Supendi, menyatakan potensi kenaikan harga beras mulai diantisipasi apabila kemarau berlangsung lebih lama.

"Tidak hanya akibat faktor kemarau yang berpotensi menyebabkan gagal panen, tetapi permintaan bahan bakunya juga sudah tinggi. Jadi, harga beras berpotensi naik," ujar Supendi kepada Tribun Jabar di ruangan kantornya, Jumat (24/7/2026) pagi.

Baca juga: 5 Titik di 3 Kecamatan Kota Tasikmalaya Terdampak Kekeringan, BPBD Kirim 23 Ribu Liter Air Bersih

Saat ini, harga beras medium di Pangandaran masih berada pada kisaran Rp 13.500 hingga Rp 14.000 per kilogram.

Sedangkan untuk beras premium, saat ini di Pangandaran dijual Rp14.900 hingga Rp16.000 per kilogram.

Menurutnya, jika kekeringan berkepanjangan terjadi, harga beras diperkirakan akan kembali mengalami kenaikan.

"Kalau terjadi kekeringan berkepanjangan, kemungkinan harga beras akan naik lagi," katanya.

Ia mengatakan, hasil pemantauan di sejumlah pasar sebagian besar pasokan beras yang dijual pedagang berasal dari luar Kabupaten Pangandaran.

"Banyak petani di Pangandaran menjual gabah kering ke luar daerah. Setelah diolah menjadi beras, produk itu kemudian kembali dipasok ke Pangandaran. Jadi, beras yang beredar di pasar sebagian besar berasal dari luar," ucap Supendi.

Baca juga: Diky Candra Mitigasi Dampak Kemarau Hingga Siapkan Pasar Murah Ditengah Fiskal Daerah 

Sementara itu, ancaman penurunan produksi mulai dirasakan petani. 

Seorang petani asal Kecamatan Padaherang, Dadi (49) mengaku tanaman padi di sawahnya berpotensi mengalami gagal panen atau hasil panennya menurun akibat kekurangan pasokan air.

Karena, kondisi lahan sawah kini mulai retak karena kekeringan. Pasokan air irigasi juga tidak mencukupi lantaran harus dibagi dengan lahan pertanian milik petani lainnya.

"Padahal tanaman padi sekarang sudah mulai berbuah sehingga sangat membutuhkan air. Namun air irigasi tidak maksimal karena harus dibagi-bagi, sementara tanah sawah sudah pecah-pecah akibat kekeringan," ujarnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.