TRIBUNMANADO.CO.ID - Obor Pemuda GMIM, renungan dalam sepekan.
Pembacaan alkitab terdapat pada Yohanes 7:53-8:11.
Tema perenungan adalah Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi.
Khotbah:
Sobat Obor, tema renungan ini, pergilah dan janganlah berbuat dosa mulai dari sekarang. Ini perkataan Yesus kepada
Perempuan yang dituduh berzina.
Lebih lengkap lagi Yesus berkata, Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.
Yesus yang oleh Yohanes diimani sebagai Mesias, Anak Allah (Yoh 20:31). Apa maksud perkataan Yesus ini?
Pagi-pagi benar Yesus berada lagi di bait Allah. Yesus kembali datang dibait Allah setelah pada pasal 7 dikatakan Yesus pergi ke Yerusalem untuk hari raya pondok daun, dan pada waktu pesta sedang berlangsung, Yesus masuk ke bait Allah serta mengajar di situ (Yoh 7:14).
Saat Yesus mengajar Keadaan jadi tegang dan ada yang berusaha menangkap-Nya tapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya (Yoh 7:30,44).
Pengajaran Yesus dibait Allah itu dilaporkan kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi (Yoh 7:45-52).
Mendengar laporan itu, Ahli-Ahli taurat dan orang-orang Farisi sangat marah kepada Yesus dan menganggapnya sebagai penyesat.
Bisa jadi ini salah satu pemicu ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina dihadapan Yesus untuk mencobai Yesus supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya (Yoh 8:6).
Situasi ini lebih genting dari pada yang terjadi di hari sebelumnya.
Orang banyak itu tidak memperdulikan perasaan perempuan yang mereka seret ke bait Allah dan dipermalukan dihadapan banyak orang.
Memang perempuan itu berdosa, tapi menegakan hukum Taurat dengan semena-mena tanpa kasih tentu hanya akan bermuara pada ketidakadilan.
Tujuan utama mereka bukan untuk menegakkan hukum Taurat tapi bagaimana agar supaya
Yesus terjebak dan sulit keluar dari jebakan itu.
Jika ingin menegakkan hukum, Mengapa hanya ada perempuan? Dimana laki-lakinya? Bukankah keduanya harus dibawa untuk diadili sesuai dengan hukum taurat? (Im 20:10, Ul 22:22-24). Lucu ketika hanya sang perempuan yang diseret dihadapan Yesus.
Apakah karena perempuan itu lemah dan kedudukannya rendah kemudian dituduh dan diperlakukan seenaknya?
Mana saksi yang menyaksikan langsung perbuatan perempuan itu?
Saksi juga harus lebih dari satu orang dan saksi-saksi itu harus diperiksa dengan sangat teliti.
Hukumannya tidak main-main, jadi proses pengadilannya juga jangan serampangan.
Pertanyaan mereka pada Yesus seolah-olah perempuan itu sudah melewati proses persidangan yang adil dan benar bersalah dan pantas dirajam.
Perempuan itu tidak punya kesempatan untuk membela diri.
Dan ketika mereka terus menerus bertanya kepada-Nya, la pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.
Lalu la membungkuk pula dan menulis di tanah (ayat 7-8). Silakan hukum, tetapi pastikan orang yang melemparnya tidak berdosa.
Kalian ingin menerapkan hukum? Kalau begitu terapkanlah. Ini adalah langkah yang brilian.
Yesus tidak menyangkal hukum, Yesus menerapkan hukum.
Mendengar perkataan Yesus itu, Tidak seorang pun berani memulai, mengapa?
Karena kata-kata Yesus menusuk sampai hati nurani mereka. Mulailah orang-orang itu pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu.
Kewibawaan-Nya luar biasa. Mereka tersadar akan keberdosaan mereka dan satu persatu pergi meninggalkan perempuan itu mulai dari yang tertua.
Selesai dengan orang banyak itu, Yesus menyapa perempuan itu. Dari awal perempuan itu tidak punya kesempatan bicara, kesalahannya dan rasa malunya dijadikan senjata untuk menyerang Yesus.
Yesus peduli dengan perempuan itu. Jawaban perempuan itu menunjukan rasa hormat yang besar kupada Yesus.
Yesus berkata kepadanya: "Aku pun tidak menghukum engkau..." Yesus yang pantas menghukum, tidak menghukum perempuan itu.
Yesus memberikan pengampuncin kepadanya. Ini anugerah (band Yoh 3:16).
Anugerah ini harus ditindak lanjuti dengan perubahan kehidupan; Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.
Sobat obor terkadang kita terlalu mudah melihat kesalahan orang lain dan lupa dengan kesalahan sendiri.
Lebih berdosa lagi, ketika kita mengunakan kesalahan dan rasa malu orang lain untuk mewujudkan rencana kita.
Bacaan ini menyadarkan kita akan keberdosaan kita. Semoga kita pun tidak terlalu cepat memposisikan diri sebagai hakim yang berhak mempersalahkan orang lain.
Allah yang kita sembah pengasih dan maha pengampun. Pengampunan yang kita terima mendorong kita untuk hidup
sesuai kehendaknya. Amin.
Sumber: KPPS GMIM edisi Juli 2026