TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, pengamat, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai "Londo Ireng" adalah taktik populisme klasik yang berbahaya bagi demokrasi.
Menurut Guntur, narasi tersebut sengaja dibangun untuk membelah opini publik secara simplistis, di mana penguasa diposisikan sebagai patriot, sementara pilar kritis dicap sebagai pengkhianat penyokong asing.
Baca juga: AJI Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Setelah Sebut Wartawan Londo Ireng
"Stigmatisasi ini bukan sekadar retorika antikolonial, melainkan bentuk intimidasi simbolis untuk mendelegitimasi substansi kritik tanpa perlu membantah data," kata Guntur kepada Tribunnews.com, Jumat (24/7/2026).
Guntur menganggap, dengan menggeser substansi kebijakan ke ranah emosional dan nasionalisme sempit, elite politik saat ini sedang melakukan defleksi (penyimpangan) atas akuntabilitasnya sendiri.
Ia mengingatkan bahwa dalam iklim demokrasi modern, ukuran patriotisme bukanlah kepatuhan buta kepada kekuasaan.
Sebaliknya, keberanian pers dan intelektual untuk mengawasi serta meluruskan jalannya pemerintahan demi kepentingan publik adalah bentuk patriotisme yang sejati.
"Mereduksi fungsi "watchdog" sebagai bentuk pengkhianatan adalah langkah mundur yg mengancam kebebasan berpendapat," tutur Guntur.
Kritik dari Guntur Romli ini merespons pidato Presiden Prabowo Subianto pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung keberadaan kelompok ‘Londo Ireng’ yang menurutnya masih ada hingga saat ini dengan identitas yang berbeda.
Secara historis, Londo Ireng merujuk pada pribumi yang berkhianat dengan membantu penjajah Belanda.
"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," tegas Prabowo.
Prabowo menyebut kelompok tersebut kini mengenakan "baju" yang berbeda, mulai dari wartawan, pengamat, hingga LSM. Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan pihak yang mendanai kelompok-kelompok tersebut di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," cecarnya.
Baca juga: AJI Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Setelah Sebut Wartawan Londo Ireng
Lebih lanjut, Prabowo menilai kelompok-kelompok tersebut secara masif menyebarkan kampanye negatif untuk menggoyahkan mental bangsa.
Salah satunya melalui narasi berulang yang memprediksi bahwa Indonesia akan segera runtuh.
"Kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. (Dibilang) Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat enggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat nggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps," ucap Prabowo.
Mantan Menteri Pertahanan itu lantas menganalogikan pihak-pihak yang terus menurunkan moral bangsa sendiri di tengah upaya perbaikan tersebut layaknya pendukung sepak bola yang tidak waras.
"Umpamanya ya kesebelasan kita lagi main sepak bola. Dia lagi bertarung dia lagi bertanding di lapangan. Kita kan sebagai suporter (berteriak) ayo ayo maju. Aduh. Tapi jangan menurunkan moril dong, orang lagi bertanding di situ. Oh nanti gol masuk, nanti kamu kalah nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa. Gendeng ya, gendeng kali ya," imbuhnya.