DPRD Lampung Sebut Hilirisasi Industri Beri Kepastian Harga bagi Petani
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 24, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas menyambut baik rencana menjadikan Lampung sebagai model pusat hilirisasi pangan dan energi nasional.

Baca juga: Bappenas Komitmen Dukung Lampung Jadi Pusat Hilirisasi Sektor Pertanian dan Energi

Adapun rencana tersebut dipaparkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menerima kunjungan kerja Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Rahmat Pambudy di Kantor Gubernur Lampung, Jumat (24/7/2026)

Menurut Mikdar, kebijakan tersebut menjadi angin segar sekaligus keberkahan nyata bagi para petani di bumi Ruwa Jurai. 

Pasalnya, hilirisasi industri hingga ke tingkat desa akan menjawab berbagai persoalan mendasar petani, mulai dari kepastian harga pasar, ketersediaan bantuan alsintan, hingga kebutuhan infrastruktur jalan tani.

"Ini karena Gubernur Lampung punya perhatian besar untuk kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung, jadi kita sangat mendukung," ujar Mikdar Ilyas dikonfirmasi, Jumat (24/7/2026).

Mikdar menjelaskan, dengan masuknya industri pengolahan di tingkat daerah dan desa, para petani komoditas unggulan seperti padi, jagung, hingga singkong tidak perlu lagi cemas menghadapi permainan harga saat musim panen tiba.

"Saya rasa ini salah satu keberkahan bagi Provinsi Lampung. Petani di Lampung akan semakin yakin bahwa tanaman mereka ke depan enggak ada lagi istilah susah jualnya, atau harganya dipermainkan. Karena sudah banyak perusahaan yang menampung hasil pertanian mereka," kata dia.

Legislator Fraksi Gerindra ini mengatakan, saat ini sudah ada regulasi dan komitmen jaminan harga komoditas dari pemerintah. 

Untuk komoditas padi dan jagung mendapat jaminan harga dari Pemerintah Pusat, sedangkan komoditas singkong dijamin oleh Pemerintah Provinsi Lampung.

Jaminan harga tersebut dinilainya bakal merangsang minat generasi muda untuk terjun ke sektor agribisnis.

"Kalau dulu yang terjun ke pertanian ini mayoritas orang tua di atas usia 50 tahun. Dengan kondisi yang semakin membaik dan ada jaminan harga, kita yakin ke depan banyak anak-anak muda atau petani milenial yang mau jadi petani karena ini sudah menggiurkan," ungkapnya.

Mikdar pun mendukung realisasi program hilirisasi pangan dan energi ini diselaraskan dengan program Desaku Maju yang digagas Pemprov Lampung.

Meski begitu, ia tetap mendorong peningkatan bantuan sarana dan prasarana produksi bagi kelompok tani.

Ia menegaskan, untuk memaksimalkan hasil panen komoditas singkong, jagung, dan padi, petani membutuhkan intervensi bantuan yang konkret dari pemerintah.

"Tentunya dibutuhkan alat penunjang pertanian supaya memaksimalkan hasil panen. Di antaranya bantuan bibit unggul, lalu alsintan seperti bantuan traktor dan alat panen modern, hingga bantuan pupuk," paparnya.

Mikdar juga mengapresiasi program bantuan pupuk cair dari Gubernur Lampung yang dinilainya terbukti ampuh mendongkrak produktivitas panen masyarakat secara signifikan.

"Pupuk cair bantuan dari Gubernur itu kan memang terbukti bisa meningkatkan pendapatan dan hasil panen petani antara 15 persen sampai 20 persen di semua komoditas. Ini hal yang luar biasa," jelasnya.

Di samping bantuan alsintan dan pupuk, Mikdar memberi catatan khusus mengenai krusialnya pembangunan infrastruktur jalan sarana pertanian di Provinsi Lampung.

Menurutnya, jalan tani sering kali menjadi titik lemah yang memicu kerugian petani.

"Salah satu kendala utama petani saat musim hujan adalah jalan kebun mereka tidak bisa dijangkau kendaraan. Ini kan bisa mengakibatkan hasil panen tidak tertampung dan berujung pada gagal panen. Jadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan," ungkap Mikdar.

"Kita harapkan jalan pertanian jadi fokus perhatian. Tidak mesti dibuat jalan yang bagus atau mewah, yang penting layak lewat," 

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.