TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Aliran Sungai Denai di Desa Marindal 1, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang menjadi satu-satunya jalan bagi Linawati (45) delapan tahun lalu. Setiap pagi, ia harus menyeberanginya dengan berenang demi sampai ke rumah majikannya di sebuah kompleks perumahan di kawasan Marindal, Deliserdang.
Lina yang bekerja sebagai asisten rumah tngga (ART) harus basah kuyup setip hari karena memang tak punya pilihan. Sungai yang memisahkan daerah tempatnya tinggalnya dengan kompleks perumahan majikannya adalah jalan pintas tercepat. Jika berjalan kaki, jaraknya lumayan jauh dan butuh waktu hampir satu jam. Ia pun tak punya kendaraan. Ate Malem, perempuan yang mempekerjakannya, tak tega melihatnya. "Sampai kapan kamu sanggup seperti ini?" tanya Ate Malem suatu hari di tahun 2018. Lina menjawab pendek: “Sesanggup yang saya bisa, Bu”.
Dari percakapan itu, Ate mengajak Lina bergabung menjadi anggota Koperasi Simpan Pinjam Pesada Perempuan Tangguh (Kesadanta) di Unit Desa Marindal 1, Kecamatan Patumbak. Kebetulan saat itu, Kesadanta ingin mengembangkan unit di desa itu dan Ate diminta Kesadanta untuk mengumpulkan belasan anggota lain. Niat Ate saat itu, setelah bergabung menjadi anggota, Lina mengajukan pinjaman untuk membeli sepeda motor. Di unit ini, Ate menjabat sebagai ketua.
Lina menerima ajakan Ate. Tak lama setelah itu, Lina mengajukan pinjaman membeli motor bekas. Pengurus unit menyetujui pinjaman Rp 8 juta. Lina menggunakan Rp 6,5 juta untuk membeli motor bekas dan sisanya digunakan untuk kebutuhan sekolah anak dan renovasi rumah.
Aliran sungai Denai yang dulu jadi penghalang, kini tinggal kenangan. Mobilitas Lina lebih cepat dan praktis. Lina kini bisa bekerja di lebih dari satu rumah, tidak lagi terikat pada satu majikan karena harus berjalan kaki. "Itulah yang senang melihat Lina. Ketika menjadi anggota koperasi, dia menghargai jerih payahnya. Dia harus bertanggungjawab dengan uang yang dipinjam melalui pengembalian cicilan," kata Ate kepada Tribun-Medan.com, Sabtu (4/7/2026).
Cerita berbeda datang dari Arinda Maya (43), anggota Kesadanta di unit Desa Tebing Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat. Bergabung menjadi anggota tujuh tahun lalu, awalnya Arinda hanya ikut-ikutan. Seiring berjalannya waktu, Arinda merasakan sesuatu yang berbeda dibandingkan koperasi lain. “Di sini, wawasan saya semakin luas karena banyak mengikuti berbagai pelatihan,” kata Arinda.
Arinda menceritakan, di Kesadanta, ia mendapat kesempatan untuk mengakses pendidikan dan diskusi yang rutin digelar unitnya. Mulai dari Forum Perempuan Muda yang berisi diskusi-diskusi tentang politik, ekonomi, sosial, dan pertanian. Ada penguatan tentang KHSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi), hingga program Keluarga Pembaharu yang mengajarkan pembagian peran setara antara suami dan istri di rumah tangga.
Puncaknya, pada 2024, Arinda mewakili unitnya menghadiri konferensi sesama pegiat koperasi perempuan di Bali. Pada konferensi tersebut, ia dan perwakilan Kesadanta lainnya ditanya sesama peserta konferensi terkait pencapaian Sisa Hasil Usaha (SHU) seluruh unit Kesadanta di Sumatera Utara yang mencapai lebih dari Rp 1 miliar untuk Tahun Buku 2023. “Senang sekali bisa berbagi pengalaman mengelola koperasi dengan perempuan-perempuan tangguh dari berbagai daerah. Pengalaman seperti ini tak akan pernah saya dapatkan ketika menabung atau meminjam di lembaga keuangan lain,” ujar Arinda.
Kisah Linawati, Ate Malem, dan Arinda hanyalah tiga dari ribuan cerita inspiratif yang tumbuh di Kesadanta, koperasi berbasis perempuan yang dikelola oleh Perkumpulan Perkumpulan Sada Ahmo (Pesada) di Sumatera Utara sejak 1992. Perjalanan panjang Kesadanta menjadi cermin bagaimana sebuah koperasi tidak sekadar menjalankan fungsi simpan pinjam, tetapi bertransformsi menjadi ruang di mana perempuan Sumatera Utara (Sumut) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, petani, pedagang kecil, asisten rumah tangga, hingga lansia semakin berdaya melalui program-program Kesadanta.
Ate menceritakan, ketika ia memulai mendirikan unit Kesadanta di desanya sembilan tahun lalu, modal utamanya adalah kepercayaan dan bukan uang besar. Ia melihat ibu-ibu di sekitarnya mengalami kesulitan ekonomi. Mereka punya niat kuat untuk berdaya secara ekonomi, tapi tak tahu harus dimulai dari mana. "Saya berpikir mungkin inilah jalannya saya bisa membantu mereka, lewat koperasi," katanya.
Ate awalnya mengajak Lina, ART-nya. Dari sini, ART lain yang bekerja di beberapa rumah di kompleksnya ikut bergabung. Dari 15 s orang yang mula-mula ia ajak, unit ini kini beranggotakan 46 orang anggota. Total saham unit hingga tahun 2025 hampir Rp 200 juta dengan pinjaman yang beredar bahkan melebihi jumlah saham. Hal ini menjadi tanda bahwa uang anggota terus berputar, bukan sekadar mengendap.
Bagi Ate, koperasi Kesadanta juga bukan hanya soal uang. Ia mengisahkan seorang anggota koperasi yang juga seorang ART di dekat rumahnya yang tak bisa membaca dan menulis. Lewat pertemuan rutin dan pendampingan dari pengurus, ART tersebut perlahan belajar menuliskan namanya sendiri untuk tanda tangan. "Ketika sering bertemu dalam penabungan rutin bulanan, dia semakin percaya diri," kata Ate.
Baca juga: Kunjungi PERMAMPU-PESADA, Dubes Australia Dukung Perlindungan Perempuan dan Layanan Inklusif
Pendidikan Jadi Pembeda
MANAJER Umum Kesadanta, Elpina Sipayung mengatakan, Kesadanta dirintis pada 1992 sebagai kelompok simpan pinjam kecil di pedesaan. Kesadanta kini berbentuk Primer Provinsi dengan jenis Simpan Pinjam, memiliki Badan Hukum: 518.503/83/BH/VI/KK/2011 dan Nomor Induk Koperasi (NIK): 1210030010040. Kesadanta bekerja dan melayani melalui kelompok-kelompok perempuan berbasis desa atau kelurahan di 10 daerah di Sumatera Utara. Tahun 2025, jumlah anggota tercatat sebanyak 15.427 yang tersebar di 239 unit. Jumlah ini naik 3,9 persen dibandingkan tahun 2024 sebanyak 14.846 anggota yang tersebar di 234 unit.
Elpina menjelaskan, Kesadanta sejak awal dirancang bukan sekadar wadah simpan pinjam. Tapi lebih dari itu, banyak pendidikan yang diperoleh anggota. Pendidikan ini yang membedakan dari lembaga keuangan mikro sejenis. “Pendidikan berjenjang wajib diikuti setiap anggota baru sejak awal bergabung mulai dari kursus dasar perkoperasian, pendidikan ekonomi rumah tangga, hingga kursus penyadaran gender. Pendidikan menjadi kunci sebelum seseorang benar-benar memahami hak dan kewajibannya sebagai anggota,” kata Elpina kepada Tribun-Medan.com, Sabtu (4/7/2026).
Kesadanta juga punya sejumlah kebijakan yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan perempuan akar rumput. Ada sistem "lunas maju" yang memudahkan anggota mengajukan pinjaman baru ketika separuh cicilan lunas, kebijakan bunga menurun, hingga keputusan menerima lansia sebagai anggota penuh sejak 2025. Kebijakan menerima lansia bukan sekadar soal keuangan, melainkan juga mencegah kepikunan dan kesepian di usia senja. "Mereka tetap berdaya karena kalau mereka berkumpul dengan teman-temannya, mereka akan mendengar dan berdiskusi,” katanya.
Untuk kasus kredit macet, kata Elpina, Kesadanta tidak serta-merta menempuh jalur hukum. Setiap kasus ditelusuri sumber masalahnya terlebih dahulu, apakah karena kelalaian atau kondisi darurat seperti korban kekerasan dalam rumah tangga yang kehilangan akses ekonomi. "Kalau memang tidak bisa membayar karena kondisi tertentu, ada kredit yang kita putihkan,” katanya. Namun bagi yang mampu tapi enggan membayar, sejak 2019, Kesadanta mulai menggandeng perangkat desa dan tim hukum untuk menegakkan kedisiplinan, sekaligus menjaga agar dana yang berputar tetap dapat dinikmati anggota lain.
Diterangkan Elpina, jumlah simpanan anggota tahun 2025 mencapai Rp 41.360.807.031 atau naik Rp 4.207.222.863 (11,32 persen) dibandingkan tahun 2024 yang jumlahnya Rp 37.153.584.168. Sepanjang tahun 2025, jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 45.906.982.696 dengan jumlah peminjam 4.748 orang.
Di tengah pencapaian yang terus meningkat setiap tahun, Elpina menyadari ada beberapa tantangan yang ditemukan pihaknya. Misalnya: persaingan dengan lembaga keuangan mikro lainnya, penurunan kemampuan ekonomi anggota, dampak bencana alam, masih ada anggota yang belum yakin bahwa Kesadanta sebagai lembaga penguatan perempuan, hingga persoalan kredit macet.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, lanjut Elpina, pengurus pengurus menyiapkan beberapa program. Diantaranya memastikan seluruh unit terdaftar di Pemerintahan Desa dan perwakilan unit dilibatkan dalam rapat-rapat desa. Kemudian perluasan wilayah kerja yang masih minim jumlah kelompok di Kota Medan, Kota Sibolga, Kota Subulussalam, dan Kabupaten Toba. “Selain itu penanganan kreditur macet yang tidak bersedia membayar pinjama secara tegas dan memastikan adanya diskusi penguatan bulanan di unit desa dan kelurahan setiap dua buan,” kata Elpina.
Fondasi Kepercayaan Terbangun Kuat
FUNGSIONAL Pengawas Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumut, Ika Dora Ginting mengatakan, sebagai koperasi binaan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Utara, kinerja Kesadanta menunjukkan capaian positif. Pihaknya juga mengapresiasi pertumbuhan Kesadanta dalam laporan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2025. Jumlah anggota tumbuh 3,91 persen, aset meningkat 9,91 persen, dan SHU melonjak sebesar 17,06 persen.
Satu catatan yang ia sampaikan adalah rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang mencapai 4,8 persen atau mendekati ambang batas aman 5 persen untuk koperasi simpan pinjam. Ika mengingatkan pengurus agar segera mengambil langkah pencegahan sebelum angka itu terus membesar.
Ika menilai fondasi kepercayaan anggota terhadap Kesadanta terbangun kuat dari berbagai aspek. Mulai dari kemudahan akses pinjaman tanpa agunan rumit, SHU tahunan, transparansi laporan keuangan yang dibagikan langsung ke anggota saat RAT, hingga periodisasi kepengurusan maksimal dua kali masa jabatan untuk mencegah kekuasaan di satu tangan. "Kalau koperasinya transparan dan demokratis di dalam, pasti anggota akan loyal," katanya.
Ika menambahkan, program pendampingan yang dimiliki Kesadanta tak hanya membuat perempuan Sumut berdaya, tapi juga sulit ditiru lembaga keuangan mikro konvensional. Program tersebut antara lain pendampingan bagi korban kekerasan, layanan kesehatan reproduksi, hingga Keluarga Pembaharu. “Langkah ke depan adalah tetap mempertahankan ciri khas program sosial sambil berani berinovasi dari sisi teknologi dan layanan,” kata Ika. (top/Tribun-Medan.com)