Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan pihaknya baru akan membangun kembali tujuh dari 22 sekolah yang rusak pada tahun ini dikarenakan adanya pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) dan kebijakan efisiensi anggaran.
"Kemarin saya mengadakan rapat, hadir ibu kepala Dinas Pendidikan. Dari 22 yang direncanakan untuk dibangun di tahun 2026 ini, hanya tujuh yang kemudian sudah teralokasi anggarannya. Kenapa terjadi ini? Karena ada pemotongan DBH, efisiensi, dan sebagainya," kata Pramono usai meninjau SDN Kebayoran Baru Selatan 09 Pagi, Jumat.
Meski anggaran terbatas, pihaknya menambah empat sekolah yang harus segera dibangun kembali karena kondisi yang dinilai sudah sangat memprihatinkan.
Keempat sekolah yang diprioritaskan tersebut adalah SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi dengan anggaran Rp48,1 miliar, SMA Negeri 102 Jakarta dengan anggaran Rp67,5 miliar, SD Negeri Cempaka Putih Barat 03 dengan anggaran Rp48,4 miliar dan SD Negeri Papanggo 01 dan TKN Papanggo 01 dengan anggaran Rp74,1 miliar.
Dengan demikian, total sekolah yang akan ditangani pada 2026 menjadi 11 sekolah, terdiri dari tujuh sekolah yang sebelumnya telah memiliki anggaran dan empat sekolah yang diprioritaskan setelah dilakukan evaluasi.
"Yang sisanya tentunya segera ditangani di tahun 2027," kata Pramono.
Khusus untuk SDN 09 Kebayoran Lama Selatan, Pramono memastikan proses rehabilitasi akan dimulai paling lambat pada September 2026.
Sepanjang Agustus 2026, tambah dia, pemerintah akan menyelesaikan tahapan administrasi, mulai dari penghapusbukuan aset bangunan lama hingga penunjukan kontraktor pelaksana. Setelah itu, pembangunan fisik akan segera dimulai.
Pembangunan SDN 09 Kebayoran Lama Selatan akan dibiayai melalui gabungan dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan APBD Perubahan.
Diharapkan, langkah tersebut dapat mempercepat perbaikan sekolah-sekolah yang kondisinya dinilai sudah tidak layak digunakan meski pemerintah daerah tengah menghadapi keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi.





