TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepakat membangun ekosistem kesehatan mental yang inklusif dan terbebas dari stigma.
Sebagai langkah nyata, pemerintah tengah merancang penyediaan rumah singgah (shelter) transisi bagi para penyintas gangguan kesehatan mental.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengemukakan kesehatan mental saat ini menjadi persoalan serius yang sangat memengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam sarasehan bertema 'Membangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Inklusif dan Anti-Stigma' di Kantor PKBI DIY, Mergangsan, Jumat (24/7/2026).
Menurut Hasto, fasilitas kesehatan sering kali berhasil merawat pasien gangguan jiwa hingga mandiri.
Namun, persoalan baru muncul ketika mereka dipulangkan karena lingkungan atau keluarga belum siap menerima kehadiran mereka kembali.
"Kami ingin masyarakat tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mental. Oleh karena itu, kami dan PKBI berencana membangun rumah singgah transisi (intermediate care). Tempat ini akan menjadi ruang aman bagi penyintas yang sudah selesai dirawat di rumah sakit jiwa, tetapi keluarganya belum siap menerima mereka," kata Hasto.
Gagasan Pemkot Yogyakarta sejalan dengan pengembangan fokus layanan PKBI DIY.
Ketua PKBI DIY, Budhi Hermanto, menjelaskan selama ini pihaknya berfokus pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi secara menyeluruh, termasuk mengadvokasi korban kekerasan seksual dan menyediakan rumah singgah bagi perempuan dengan kehamilan tidak direncanakan.
Namun, dalam praktiknya, PKBI menemukan bahwa masalah kesehatan reproduksi selalu beririsan erat dengan masalah psikologis dan penerimaan sosial.
"Kasus yang kami tangani di lapangan sangat kompleks karena memicu trauma psikologis dan penolakan keluarga. Misalnya, pada kasus korban kekerasan seksual yang hamil. Oleh sebab itu, pendampingan harus dilakukan secara tuntas, termasuk memikirkan keberlangsungan hidup dan masa depan ibu beserta anaknya," ujar Budhi.
Baca juga: Program Si Penting Resmi Diluncurkan, Upaya Pencegahan Stunting di Kota Yogyakarta
Menyadari urgensi tersebut, PKBI DIY pada tahun ini resmi mengembangkan sistem layanan pemulihan kesehatan mental tanpa mengurangi porsi program-program lama yang sudah berjalan, seperti edukasi remaja, pendampingan lansia, serta pencegahan HIV/AIDS dan tuberkulosis.
"Tahun ini kami merancang layanan khusus untuk pemulihan kesehatan mental. Luka mental itu tidak terlihat. Seseorang bisa tampak baik-baik saja dari luar, padahal sebenarnya dia sedang menanggung tekanan batin yang sangat berat," tuturnya.
Untuk mendukung layanan baru ini, PKBI DIY akan mengoptimalkan klinik kesehatan mereka di kawasan Bintaran, Kota Yogyakarta.
Lantai dua dari fasilitas tersebut akan dikembangkan secara khusus untuk melayani konsultasi dan pemulihan kesehatan mental.
Bagi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan psikologis atau membutuhkan bantuan pendampingan, PKBI DIY membuka layanan yang dapat diakses secara luas.
Warga dapat menghubungi hotline pusat di nomor 0899-3060-008, nomor khusus konseling di 0813-8459-5593, atau melalui Instagram resmi @PKBIDIY.
Saat ini, berbagai program kemanusiaan PKBI DIY juga didukung penuh oleh jaringan sukarelawan yang tersebar di lima wilayah, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. (*)