Insiden Alphard di Bundaran HI, Koalisi Pejalan Kaki: Tragedi Tugu Tani Jangan Terulang
Wahyu Septiana July 25, 2026 12:54 AM

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Koalisi Pejalan Kaki mengingatkan tragedi kecelakaan maut di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, yang menewaskan sejumlah pejalan kaki.

Peringatan tersebut disampaikan menyusul insiden mobil Alphard yang diduga menerobos lampu merah dan hampir membahayakan pejalan kaki.

Tragedi itu terjadi di kawasan Pelican Crossing, Jalan MH Thamrin, dekat Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus meminta seluruh pihak tidak melihat persoalan tersebut hanya dari sisi dugaan persekusi terhadap seorang satpam.

Menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah memastikan keselamatan pejalan kaki yang saat itu sedang menggunakan haknya untuk menyeberang jalan.

"Ini sebenarnya menjadi peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kejadian seperti tragedi Tugu Tani kembali terjadi di Jakarta. Keselamatan pejalan kaki harus menjadi perhatian utama," kata Alfred saat diwawancarai, Jumat (24/7/2026).

Alfred mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima Koalisi Pejalan Kaki, terdapat sekitar 12 orang yang hendak menyeberang saat insiden Alphard tersebut terjadi.

Pada saat itu, lampu lalu lintas untuk kendaraan disebut telah berwarna merah, sementara lampu pelican crossing bagi pejalan kaki sudah menyala hijau.

PENYEBERANGAN JALAN VIRAL - Lokasi penyeberangan di Halte Bundaran HI yang tengah viral usai insiden mobil Toyota Alphard menerobos lampu merah dan terlibat cekcok dengan satpam.
TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA PUTRA
PENYEBERANGAN JALAN VIRAL - Lokasi penyeberangan di Halte Bundaran HI yang tengah viral usai insiden mobil Toyota Alphard menerobos lampu merah dan terlibat cekcok dengan satpam. TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA PUTRA (TribunJakarta.com/Elga Hikari Putra/Elga Hikari Putra)

Kondisi tersebut, kata Alfred, menunjukkan bahwa pejalan kaki memiliki hak untuk menyeberang dan seharusnya mendapatkan prioritas dari pengendara kendaraan bermotor.

"Pada saat kejadian itu ada kurang lebih 12 orang yang hendak menyeberang. Bagaimana kalau kendaraan tersebut menerobos dan kemudian menabrak para pejalan kaki? Ini yang harus kita pikirkan," ujarnya.

Alfred menilai, insiden tersebut harus menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya keselamatan pejalan kaki di Jakarta.

Ia tidak ingin masyarakat kembali terlambat menyadari pentingnya perlindungan terhadap pejalan kaki setelah terjadi kecelakaan besar yang menimbulkan korban jiwa.

"Jangan sampai kita baru berbicara soal keselamatan pejalan kaki setelah ada korban. Kita harus mencegah agar tragedi seperti yang pernah terjadi di Tugu Tani tidak terulang kembali," ucap Alfred.

Sebagai informasi, tragedi Tugu Tani terjadi pada 22 Januari 2012.

Saat itu, sebuah mobil menabrak sejumlah pejalan kaki di kawasan Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta Pusat.

Peristiwa tersebut menewaskan sembilan orang dan menyebabkan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. 

Tragedi itu kemudian menjadi salah satu momentum yang mendorong Koalisi Pejalan Kaki menetapkan 22 Januari sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional.

Alfred mengatakan, peringatan tersebut bukan dimaksudkan untuk membuka kembali luka lama, melainkan menjadi pengingat agar keselamatan pejalan kaki tidak kembali diabaikan.

"22 Januari itu kami jadikan sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional karena ada tragedi Tugu Tani. Ada 12 pejalan kaki yang menjadi korban dan sembilan orang meninggal dunia. Ini menjadi pengingat agar kejadian seperti itu jangan sampai terjadi lagi," jelasnya.

Menurut Alfred, Jakarta saat ini tengah berupaya menuju kota global. 

Karena itu, konsep kota yang ramah terhadap pejalan kaki atau walkable city harus benar-benar diwujudkan.

KASUS CEKCOK SATPAM - Kasus cekcok antara satpam di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, dengan pengemudi mobil Toyota Alphard masih menjadi perhatian publik. Setelah video insiden tersebut viral, kini warganet ramai membahas dugaan pelat nomor yang digunakan mobil tersebut.
KASUS CEKCOK SATPAM - Kasus cekcok antara satpam di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, dengan pengemudi mobil Toyota Alphard masih menjadi perhatian publik. Setelah video insiden tersebut viral, kini warganet ramai membahas dugaan pelat nomor yang digunakan mobil tersebut. (Instagram Jakarta.Terkini dan Instagram presiden.netizen.indonesia)

Ia menilai, salah satu indikator kota global adalah adanya keberpihakan terhadap kelompok rentan di ruang publik, termasuk pejalan kaki.

"Kalau Jakarta menuju kota global dan berbicara tentang walkable city, bagaimana kita memberikan ruang yang beradab bagi pejalan kaki? Jakarta harus menunjukkan keberpihakannya kepada pejalan kaki yang paling rentan di jalan raya," kata Alfred.

Alfred juga meminta Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat fasilitas penyeberangan bagi pejalan kaki, termasuk pelican crossing dan zebra cross.

Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut harus dibarengi dengan penegakan aturan lalu lintas yang tegas terhadap pengendara yang tidak memberikan prioritas kepada pejalan kaki.

"Jangan sampai karena ada satu insiden kemudian kita mundur lagi. Yang harus diperkuat adalah perlindungan dan penegakan aturannya. Pejalan kaki yang sudah mendapatkan lampu hijau harus mendapatkan haknya untuk menyeberang dengan aman," tegasnya.

Ia pun berharap insiden Alphard tersebut dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pengguna jalan agar lebih menghormati hak pejalan kaki.

Alfred menegaskan, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan kendaraan maupun pengguna jalan lainnya.

"Kita tidak ingin tragedi Tugu Tani terulang lagi. Jangan sampai nyawa manusia baru dianggap penting setelah ada korban. Jakarta harus benar-benar menjadi kota yang berpihak kepada pejalan kaki," pungkas Alfred.

Berita Lainnya

Baca juga: Pria 47 Tahun Tewas Tertemper Kereta di Cakung, Masinis Sempat Lapor ke Petugas Stasiun

Baca juga: Diduga Korsleting, 2 Gudang Penyimpanan Pompa dan Genset di Pergudangan Central Cakung Terbakar

Baca juga: Skenario Begal Palsu Terbongkar, Pria di Jakbar Lukai Lengan Agar Lolos Cicilan Laptop

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.