SERAMBINEWS.COM – Ketegangan terkait program nuklir Iran kembali meningkat setelah intelijen Israel mengklaim Teheran telah memindahkan ribuan sentrifugal pengayaan uranium ke kompleks terowongan di dalam Gunung Pickaxe (Mount Kolang), sebuah lokasi bawah tanah yang berada di dekat fasilitas nuklir Natanz.
Menurut laporan The Wall Street Journal, temuan intelijen tersebut telah dibagikan kepada pemerintah Amerika Serikat. Israel meyakini pemindahan itu dilakukan pada musim gugur tahun lalu, beberapa bulan setelah perang 12 hari yang diwarnai serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran baru bahwa Iran berpotensi membangun kembali kemampuan program nuklirnya dari lokasi yang lebih sulit dijangkau.
Meski demikian, keberadaan sentrifugal di Gunung Pickaxe belum dapat dipastikan sebagai tanda bahwa Iran telah mengoperasikan fasilitas pengayaan uranium di lokasi tersebut. Para pejabat menilai Teheran kemungkinan hanya memindahkan peralatan yang masih selamat dari serangan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
Gunung Pickaxe, yang di Iran dikenal sebagai Mount Kolang, berada sekitar dua kilometer di selatan kompleks nuklir Natanz. Lokasi ini telah lama menjadi sasaran pengawasan intelijen Amerika Serikat dan Israel.
Dalam serangan sebelumnya, fasilitas pengayaan uranium di permukaan Natanz dilaporkan hancur, sementara fasilitas bawah tanah mengalami kerusakan berat. Namun, kompleks Gunung Pickaxe tidak menjadi target utama dalam perang Israel-Iran tahun lalu maupun dalam gelombang serangan Amerika Serikat yang dimulai pada akhir Februari.
Selama lebih dari 15 bulan terakhir, aktivitas di kawasan tersebut terus meningkat. Berdasarkan analisis Institute for Science and International Security (ISIS), terlihat lalu lintas truk, penguatan struktur terowongan, hingga pembangunan perimeter keamanan di sekitar lokasi.
Presiden ISIS, David Albright, mengatakan pihaknya menilai besar kemungkinan Iran telah memindahkan sentrifugal ke dalam terowongan Gunung Pickaxe.
Kompleks bawah tanah itu diperkirakan masih dalam tahap pembangunan dan berada hampir 100 meter di bawah permukaan gunung, sehingga diyakini akan sangat sulit dihancurkan melalui serangan udara.
Pembangunan fasilitas tersebut dimulai pada 2020 setelah insiden sabotase yang menyebabkan ledakan di fasilitas Natanz. Saat itu, kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, mengumumkan pembangunan fasilitas baru yang lebih modern di dalam gunung untuk memproduksi sentrifugal canggih.
Meski konstruksi terus berlangsung, ISIS menyebut belum ada bukti bahwa fasilitas tersebut telah beroperasi. Namun, lembaga itu memperingatkan lokasi tersebut berpotensi digunakan sebagai fasilitas perakitan sentrifugal berskala kecil yang dapat mendukung program senjata nuklir jika Iran memutuskan membangun kembali kapasitas produksinya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi sebelumnya mengatakan Iran tidak memberikan akses kepada para inspektur untuk memeriksa lokasi tersebut dan belum menjelaskan aktivitas yang berlangsung di sana.
Menurut Grossi, Iran telah memberi tahu IAEA sejak 2021 mengenai niatnya melakukan aktivitas nuklir di kawasan itu.
Seorang pejabat militer Israel yang terlibat dalam pemilihan target serangan juga menyatakan operasi militer sebelumnya belum cukup melumpuhkan infrastruktur yang berkaitan dengan program nuklir Iran. Ia menilai masih ada sejumlah sasaran yang perlu diserang, termasuk kompleks Gunung Pickaxe.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan secara terbuka menyebut Gunung Pickaxe sebagai salah satu target potensial.
"Pickaxe adalah target yang memungkinkan untuk dihantam tepat di depan pintunya," kata Trump dalam wawancara dengan penyiar konservatif Hugh Hewitt pada 13 Juli.
Pernyataan itu menjadi kali pertama Trump secara eksplisit menyebut nama Gunung Pickaxe sebagai sasaran serangan, meski sebelumnya ia beberapa kali menyinggung keberadaan fasilitas nuklir Iran yang terkubur jauh di dalam batu granit.
Para analis menilai jika benar Iran memusatkan fasilitas nuklirnya di lokasi tersebut, maka kompleks bawah tanah itu akan menjadi salah satu target militer paling sulit dihancurkan dalam konflik yang terus memanas antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv.(*)