SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat drastis. Teheran kini memperingatkan bahwa setiap pangkalan militer di Inggris yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat akan dianggap sebagai target serangan yang sah.
Ancaman itu muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku hampir mengambil keputusan untuk melancarkan operasi militer terbesar terhadap Iran sejak konflik terbaru pecah.
Dalam wawancara dengan Axios, Kamis (24/7/2026), Trump mengatakan dirinya tengah mempertimbangkan serangan berskala besar setelah militer AS melancarkan serangan udara selama 12 malam berturut-turut ke sejumlah sasaran di Iran.
"Saya sedang mempertimbangkan serangan besar, lebih besar dari sebelumnya. Kami sudah sangat dekat mengambil keputusan dan semuanya telah siap," kata Trump.
Meski demikian, Trump belum memastikan operasi tersebut akan benar-benar dilaksanakan. Pernyataannya mengindikasikan Washington masih membuka peluang jika Teheran bersedia kembali ke meja perundingan.
Menurut Trump, tekanan yang diberikan sejauh ini belum cukup membuat Iran memenuhi tuntutan Amerika.
"Mereka belum merasakan penderitaan yang cukup," ujarnya.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru pada Rabu malam waktu AS atau Kamis pagi waktu Iran.
Serangan tersebut diklaim menyasar kemampuan maritim Iran, gudang penyimpanan rudal dan drone, fasilitas pengawasan pantai, hingga sistem pertahanan udara.
CENTCOM menyatakan operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional dan kapal-kapal dagang.
Media Iran melaporkan beberapa wilayah menjadi sasaran serangan, termasuk perbatasan Shalamcheh di Provinsi Khuzestan yang disebut menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya 11 lainnya.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di sekitar Ahvaz, Ramshir, Andimeshk, hingga Bushehr. Namun tidak ada laporan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr menjadi sasaran.
Alih-alih mundur, Iran justru memperluas serangan balasan ke berbagai fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang fasilitas komunikasi militer AS di Kuwait sebagai balasan atas serangan terhadap infrastruktur komunikasi Iran.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah drone Iran.
Iran juga mengklaim menyerang target-target militer Amerika di Yordania.
Militer Yordania mengatakan berhasil mencegat empat rudal dan enam drone Iran. Dalam sepekan terakhir, tiga tentara AS dilaporkan tewas di Yordania, sementara hampir selusin personel lainnya mengalami luka serius dan dievakuasi ke Jerman untuk menjalani perawatan.
Di tengah eskalasi konflik, Iran kembali menolak wacana gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak akan mengambil langkah menuju perdamaian selama serangan Amerika masih berlangsung.
"Masalahnya adalah pendekatan Amerika yang tidak logis, berlebihan, dan mendominasi. Selama mereka tidak menghormati bangsa Iran, tidak ada peluang untuk mengambil langkah yang berarti menuju perdamaian," kata Araghchi kepada televisi pemerintah Iran.
Sebelumnya, Araghchi juga menegaskan bahwa Iran akan menerapkan doktrin "mata dibalas mata" terhadap setiap serangan Amerika.
Ia menegaskan setiap bentuk agresi terhadap wilayah maupun infrastruktur Iran akan dibalas secara tegas.
Menurutnya, negara mana pun yang membantu operasi militer terhadap Iran juga akan dianggap sebagai sasaran yang sah.
Pernyataan paling keras disampaikan Teheran pada Kamis, ketika pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap pangkalan militer di Inggris yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat kini dianggap sebagai target sah untuk diserang.
Ancaman tersebut menandai meluasnya potensi konflik, dari kawasan Teluk menuju kepentingan militer Barat di Eropa, sekaligus meningkatkan kekhawatiran bahwa perang dapat berkembang menjadi konfrontasi regional yang lebih luas.(*)