Drone Arash Milik Iran Ngamuk Hantam 3 Barak di Kuwait, Pasukan AS Sembunyi di Gedung Perkotaan
Galuh Palupi July 25, 2026 08:44 AM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Drone Arash milik Iran 'ngamuk' menyerang fasilitas militer Amerika Serikat yang ada di Kuwait.

Pada Jumat (24/7/2026), Iran mengklaim bahwa serangan itu merusak gudang peralatan militer hingga tiga barak yang dihuni pasukan AS.

Gudang persenjataan militer Amerika Serikat di Camp Udairi disebut menjadi salah satu sasaran utama dalam serangan tersebut.

Selain itu, posisi pasukan AS di Camp Doha diklaim turut menjadi target serangan drone Arash.

Camp Arifjan juga dilaporkan masuk dalam daftar lokasi yang diserang dalam operasi yang sama.

Baca juga: Trump Siapkan Serangan Besar ke Iran, Teheran Siaga Membalas, Risiko Keselamatan Warga AS Meningkat

KONFLIK TIMUR TENGAH - Thumbail YouTube Tribun Video soal drone milik Iran serang tiga barak militer Amerika Serikat
KONFLIK TIMUR TENGAH - Iran kirim drone Arash serang tiga barak militer AS di Kuwait pada Jumat (23/7/2026) (YouTube/Tribun Video)

Militer Iran menyebut serangan tersebut menyebabkan sedikitnya tiga barak milik pasukan Amerika mengalami kehancuran total.

Meski demikian, hingga kini pihak Iran belum memberikan informasi terperinci mengenai jumlah korban ataupun skala kerusakan yang terjadi di setiap lokasi.

Dalam keterangannya, militer Iran menegaskan bahwa operasi menggunakan drone dan rudal akan terus dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi.

Teheran juga memperingatkan bahwa langkah AS untuk membuka front baru akan dipandang sebagai sebuah kesalahan strategis.

Situasi di kawasan semakin memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sudah tidak lagi berlaku.

Trump bahkan memperingatkan Iran bahwa serangan balasan yang jauh lebih besar akan dilakukan.

"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar berkali-kali lipat," tulis Trump melalui media sosial.

Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah personel militer AS dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan di kawasan Timur Tengah.

Sejak eskalasi tersebut, Amerika Serikat dan Iran terus melakukan aksi saling serang terhadap sejumlah sasaran di berbagai wilayah Timur Tengah.

Washington menyatakan telah melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran.

Di sisi lain, Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas serta aset militer AS yang tersebar di beberapa negara di kawasan tersebut.

Sampai saat ini, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi terkait seluruh klaim tersebut. Selain itu, belum terdapat bukti independen yang dapat memastikan kebenaran seluruh laporan mengenai serangan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Baca juga: Jengkel Sering Dibohongi Trump, Iran Tolak Tawaran Gencatan Senjata, Rudal-rudal Baru Dipamerkan

Pasukan AS Sembunyi di Perkotaan

Demi menghindari serangan Iran, para perwira dan pasukan AS disebut berpindah ke gedung-gedung perkotaan.

KONFLIK TIMUR TENGAH - Pasukan Amerika Serikat sembunyi di gedung-gedung perkotaan untuk menghindari serangan Iran (YouTube/Tribun Video)

Perpindahan itu diklaim untuk mengarahkan operasi militer sekaligus berlindung dari serangan.

IRGC mengklaim bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai akomodasi rahasia personel AS dan dipilih agar tidak mudah menjadi sasaran serangan.

Karena itu, IRGC mengimbau warga di negara-negara yang menjadi tuan rumah pasukan AS agar meningkatkan kewaspadaan.

Warga sipil diminta segera menjauh setidaknya 500 meter dari bangunan yang diduga digunakan sebagai tempat tinggal maupun pusat operasi personel militer AS.

IRGC mengatakan peringatan itu diberikan agar warga sipil tidak berada di sekitar lokasi yang diklaim digunakan personel AS.

Selain menuduh adanya relokasi pasukan, IRGC juga menuding AS menyerang berbagai infrastruktur sipil di wilayah Iran.

IRGC menyebut sasaran yang diserang mencakup jembatan, dermaga perikanan, kapal, kendaraan, hingga jalur kereta api.

Tuduhan itu kembali memperlihatkan betapa tajamnya perang narasi yang berkembang di tengah konfrontasi militer kedua negara.

Hingga saat ini, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi atas klaim IRGC mengenai perpindahan personel militernya.

Belum ada pula bukti independen yang dapat memverifikasi tuduhan tersebut.

Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat seiring berlanjutnya aksi saling serang antara Iran dan AS.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak bahwa konflik dapat meluas dan menyeret lebih banyak negara di kawasan ke dalam eskalasi. (Tribun Style/Tribun Video)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.