Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Photobooth atau bilik foto kian menjamur di kawasan Braga. Masing-masing menawarkan gaya yang berbeda untuk menggaet pengunjung.
Jika dulu pengunjung harus memasuki bilik untuk berfoto. Kini, jalanan Braga menjadi latar belakang foto tengah digandrungi.
Saat hitungan mundur kamera dimulai, mereka bersiap untuk berpose. Dalam hitungan detik, momen yang telah diabadikan menjadi selembar foto yang dapat dibawa pulang sebagai kenangan.
Di era ketika foto lebih sering tersimpan di layar ponsel, hasil cetak dari photobooth menawarkan pengalaman yang berbeda.
Para penyedia photobooth pun menawarkan pengalaman berfoto dengan cara yang berbeda. Salah satu bingkai yang sedang digandrungi saat ini ialah bergaya koran.
Tren foto tersebut masih menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Jalan Braga, Kota Bandung.
Salah satu penyedia layanan yang cukup dikenal adalah Snap Manner yang menghadirkan konsep foto ala halaman depan koran dengan sentuhan kreatif melalui berbagai pilihan desain frame.
Dikri, yang akrab disapa Onyon, mengatakan hadirnya konsep foto tersebut masih terbilang baru, sekira lima bulan lalu.
Menurutnya, Snap Manner menjadi salah satu pelopor photo booth koran di Bandung sebelum konsep serupa banyak bermunculan.
"Awalnya kami membuka photo booth koran di Braga dan sempat viral. Sekarang memang sudah banyak yang mengikuti, tetapi kami tetap punya ciri khas sendiri," ujarnya, kepada TribunJabar.id, Jumat (24/7/2026).
Keunikan Snap Manner terletak pada variasi template dan frame yang terus diperbarui mengikuti momen tertentu.
Mulai dari peringatan Hari Kartini, Hari Ibu, hingga euforia piala dunia, seluruhnya dihadirkan dalam desain bingkai yang berbeda agar pelanggan memiliki lebih banyak pilihan.
“Pengunjung juga dapat menggunakan berbagai aksesori seperti kacamata, topi, dan properti lainnya untuk menambah kesan menarik saat berfoto,” ujarnya.
Tak hanya menawarkan konsep koran, Snap Manner juga menyediakan pilihan cetak poster berwarna dengan ukuran yang sama. Untuk foto konsep koran berukuran A3, pelanggan dikenakan biaya Rp45 ribu, sedangkan versi poster dibanderol Rp50 ribu.
"Bedanya hanya Rp5 ribu. Kalau poster tampilannya lebih full color, sedangkan konsep koran tetap mempertahankan nuansa seperti koran asli," jelasnya.
Proses pengambilan foto pun dibuat lebih fleksibel. Dalam waktu sekitar 4,5 menit, pelanggan dapat melakukan retake apabila hasil foto dirasa kurang memuaskan. Selain mendapatkan hasil cetak, setiap pelanggan juga memperoleh soft copy foto.
Antusiasme masyarakat terhadap layanan ini pun masih tinggi, terutama pada sore hingga malam hari saat kawasan Braga dipadati pengunjung. Bahkan pada musim liburan, antrean pelanggan bisa terjadi sejak pagi.
"Alhamdulillah setiap bulan selalu ramai. Kalau sedang liburan, dari pagi sudah banyak yang antre. Dalam sehari bisa mencapai ratusan orang yang berfoto," kata Dikri.
Photobooth pun telah menjadi gaya hidup. Tidak perlu momen yang terkesan spesial, pengunjung bisa lebih fleksibel untuk berfoto.
Menurut Nadia (19), berfoto telah menjadi kebiasaan yang dilakoninya sejak dulu.
“Dulu hampir setiap naik kelas ada foto bersama. Sekarang, kan trend lagi photobooth dan banyak ragamnya. Jadi lebih mudah untuk berfoto, banyak yang menyediakannya juga, apalagi di Braga, hampir setiap toko menyediakan photobooth,” jelasnya.
Warga asal Cicaheum ini menuturkan, hasil photobooth selalu menarik dibanding photo studio yang lebih dulu eksis.
“Frame nya unik, terus kan saat foto kita bisa melihat layarnya. Jadi engga kaku kayak photobooth. Saking banyaknya, ada saja yang mematok harga mahal (overprice) tapi tetap layak untuk dicoba,” ucapnya. (*)