TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menanggapi kritik yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumhamimipas) Yusril Ihza Mahendra terkait sayembara penangkapan begal.
Dedi menegaskan kebijakan tersebut justru bertujuan mencegah aksi main hakim sendiri, yang kerap berujung pada kematian pelaku kejahatan.
Dedi mengaku menghargai seluruh kritik yang muncul, termasuk dari Yusril Ihza Mahendra. Menurutnya, masukan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kebijakan demi kepentingan masyarakat.
"Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan otokritik terhadap sayembara tangkap begal, tangkap maling, tangkap copet, tangkap jambret, hingga tangkap perampok. Saya juga berterima kasih kepada Pak Menko Hukum dan HAM, Profesor Yusril Ihza Mahendra," ujar Dedi, dikutip dari media sosial pribadinya, Sabtu (25/7/2026).
Dedi menjelaskan, alasan utama digelarnya sayembara bukan untuk mendorong masyarakat bertindak di luar hukum, tapi mencegah pelaku kejahatan menjadi korban amuk massa.
Selama ini, kata Dedi, banyak kasus pencuri yang tewas setelah tertangkap warga. Padahal, kondisi tersebut justru menimbulkan korban baru karena pelaku penganiayaan juga harus berhadapan dengan proses hukum.
"Dengan adanya sayembara, ketika pelaku ditangkap masyarakat tidak lagi terdorong menghakimi sampai meninggal. Mereka akan menyerahkan pelaku kepada aparat dan mendapatkan imbalan sesuai ketentuan," katanya.
Dedi juga menepis anggapan bahwa kebijakan itu berpotensi memunculkan rekayasa kasus demi memperoleh hadiah.
Dedi menegaskan imbalan hanya diberikan apabila pelaku benar-benar terbukti melakukan tindak pidana, telah ditetapkan sebagai tersangka, dan menjalani proses hukum.
"Mana mungkin ada orang sengaja berpura-pura menjadi begal hanya untuk mendapatkan hadiah, tetapi harus menghadapi penahanan dan persidangan," katanya.
Menanggapi kritik yang mengaitkan maraknya kejahatan dengan tingginya angka pengangguran, Dedi mengakui pemerintah terus berupaya membuka lapangan kerja melalui investasi. Namun, Dedi menilai kejahatan tidak selalu dipicu faktor ekonomi.
Dedi menilai terdapat berbagai faktor lain, seperti pengaruh lingkungan yang melahirkan tradisi kriminal secara turun-temurun, jaringan kejahatan yang terorganisasi, pelaku yang berasal dari luar Jawa Barat, hingga perilaku kriminal yang sudah menjadi kebiasaan atau penyakit.
"Jadi tidak melulu persoalan pengangguran. Ada faktor lingkungan, ada jaringan kejahatan, bahkan ada pelaku yang memang sudah terbiasa melakukan tindak kriminal," ucapnya.
Dedi pun mengajak masyarakat tidak takut menghadapi aksi begal dan tetap mendukung upaya aparat penegak hukum dalam menjaga keamanan.
Dedi memastikan aparat keamanan terus meningkatkan patroli, sementara masyarakat diminta membangun keberanian dan tidak memberikan ruang bagi pelaku kejahatan untuk menguasai situasi.
"Jangan begal yang membuat kita takut. Justru kita yang harus membuat para begal takut melakukan kejahatan. Terus berikan kritik demi kebaikan masyarakat Jawa Barat dan kami menerimanya dengan sepenuh hati," katanya.