Mangrove Bernilai Karbon, BKSDA Papua Dorong Keterlibatan Masyarakat dalam Pengelolaan Lestari
Paul Manahara Tambunan July 25, 2026 01:15 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-PapuaTengah.com, Feronike Rumere

TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA — Menyongsong peringatan Hari Mangrove Sedunia yang jatuh setiap 26 Juli, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua menyerukan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan mangrove.

Ekosistem pesisir ini dinilai bukan hanya penjaga keseimbangan alam, melainkan juga menyimpan potensi besar sebagai penyerap karbon yang bernilai ekonomis.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika pada BBKSDA Papua, Paulus Baibaba, mengungkapkan isu perdagangan atau nilai karbon kini tengah menjadi fokus perhatian pemerintah pusat, khususnya di lingkungan Kementerian Kehutanan.

"Kalau bicara karbon, saat ini masih menjadi wacana di pemerintah, khususnya kementerian, bagaimana karbon bisa menjadi sesuatu yang memiliki nilai bagi masyarakat," ujar Paulus di Timika, Sabtu (25/7/2026).

Baca juga: Blue Forests Padukan Sains dan Kearifan Lokal Lindungi Mangrove Mimika

Dorong Keterlibatan Aktif Masyarakat

Menurut Paulus, masyarakat memegang kunci utama dalam menjaga keberlangsungan lingkungan hidup.

Oleh karena itu, pelibatan warga dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan menjadi langkah yang sangat krusial.

"Karena itu masyarakat punya banyak hal yang bisa dilakukan untuk terlibat dalam pengelolaan hutan dan menjaga kelestarian lingkungan," tegasnya.

Ia membeberkan, skema karbon yang saat ini dikelola oleh pemerintah masih difokuskan secara khusus pada kawasan-kawasan konservasi.

Kendati demikian, ke depannya terbuka peluang lebar skema tersebut untuk diperluas mencakup kawasan hutan dengan fungsi lain.

  • Kawasan hutan lindung, maupun
  • Kawasan hutan produksi.
  • Fokus BBKSDA di Timika dan Mamberamo

Disinggung mengenai wilayah kerja di Mimika, Paulus menjelaskan kewenangan BBKSDA Papua di daerah tersebut lebih menitikberatkan pada upaya pelestarian satwa liar yang dilindungi.

Baca juga: Menhut Minta Maaf ke Masyarakat Papua soal Polemik Mahkota Cenderawasih Usai Dihubungi Wamendagri

Sementara itu, pengelolaan kawasan konservasi dengan cakupan wilayah yang jauh lebih luas berada di kawasan Suaka Margasatwa Mamberamo.

"Di Timika, kewenangan kami lebih banyak pada pelestarian satwa liar yang dilindungi. Untuk kawasan konservasi yang luas berada di wilayah Suaka Margasatwa Mamberamo," jelasnya.

Melalui momentum Hari Mangrove Sedunia ini, BBKSDA Papua berharap kesadaran kolektif masyarakat kian meningkat.

Ekosistem mangrove diharapkan terus terjaga demi merawat keseimbangan alam sekaligus memperkuat aksi mitigasi perubahan iklim di Tanah Papua. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.