Coretan Terakhir di SMA THB Pangkalpinang, Sekolah Swasta Terpaksa Tutup karena Kekurangan Murid
Fitriadi July 25, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sinar matahari sore menembus pintu kayu berwarna biru yang terbuka, menyapu papan tulis berdebu dan deretan bangku kosong di SMA Tunas Harapan Bangsa (THB) Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (22/7/2026).

Di meja, kursi, hingga dinding kelas masih tersisa coretan nama, tanda tangan, dan gambar sederhana. Jejak itu menjadi saksi bahwa sekolah tersebut pernah dipenuhi tawa, mimpi, dan semangat belajar.

Sejak aktivitas belajar mengajar berhenti pada 2020, ruang-ruang kelas hanya ditemani debu dan cahaya senja. Tulisan "SMA Tunas Harapan Bangsa" di bagian depan bangunan pun mulai memudar dimakan usia.

Baca juga: Sekolah Swasta Berguguran, Fenomena Kekurangan Siswa Melanda Bangka Belitung

Meski begitu, kenangan tentang sekolah yang pernah menjadi salah satu SMA swasta favorit di Bangka Belitung itu masih terasa di setiap sudut bangunan.

Sekolah yang berada di kawasan Semabung Lama, Kota Pangkalpinang, tersebut terpaksa menghentikan operasional setelah jumlah siswa terus menyusut hingga yayasan tidak lagi mampu menanggung biaya operasional. Saat resmi ditutup, peserta didik yang tersisa hanya sekitar 50 orang.

Baca juga: Paradigma dan Persaingan Berubah Pengaruhi Tutupnya Sekolah Swasta di Babel

Kepala SMKS Muhammadiyah Pangkalpinang, Karel Martin, yang pernah mengajar di bawah yayasan yang sama, mengatakan SMA THB dan SMK Sore dulunya berada dalam satu pengelolaan.

SMA THB PANGKALPINANG – Kepala Sekolah SMKS Muhammadiyah, Karel Martin menunjukkan sejumlah kondisi ruang kelas SMA THB Pangkalpinang yang telah tutup sejak 2020, pada Rabu (22/7/2026) sore.
SMA THB PANGKALPINANG – Kepala Sekolah SMKS Muhammadiyah, Karel Martin menunjukkan sejumlah kondisi ruang kelas SMA THB Pangkalpinang yang telah tutup sejak 2020, pada Rabu (22/7/2026) sore. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Setelah SMA THB ditutup pada 2020, SMK Sore tetap beroperasi hingga berganti nama menjadi SMKS Muhammadiyah Pangkalpinang pada Juli 2025.

"Sejak 2020 tutup, kendalanya siswa telah berkurang, dari yayasan biaya operasionalnya tidak mampu lagi," ujar Karel kepada Bangkapos.com.

Penutupan sekolah diikuti penghentian penerimaan peserta didik baru. Siswa yang masih belajar saat itu dipindahkan ke sekolah lain agar dapat menyelesaikan pendidikannya.

Menurut Karel, penurunan jumlah siswa terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun.

Meningkatnya jumlah sekolah negeri, termasuk di kabupaten-kabupaten hasil pemekaran, membuat masyarakat lebih banyak memilih sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta.

Kini, SMKS Muhammadiyah Pangkalpinang memiliki tiga program keahlian, yakni Teknik Sepeda Motor, Desain Komunikasi Visual, dan Manajemen Perkantoran dengan 97 siswa aktif.

Pergantian yayasan diharapkan menjadi awal membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta.

"Setiap sekolah harus memiliki branding dan keunggulan agar menjadi pilihan masyarakat, bukan hanya sekolah negeri," katanya.

Kenangan Siswa

Meski telah berganti nama, ruang-ruang bekas SMA THB masih berdiri.

Papan tulis, meja guru, dan bangku-bangku kosong tetap berada di tempatnya. Coretan para siswa pun masih melekat, seolah menolak ikut hilang bersama waktu.

Bagi Edo Ramon, alumni IPS angkatan 2007-2010, THB bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Saat itu, menurutnya, THB dikenal sebagai salah satu sekolah swasta terbaik di Pangkalpinang.

"Pada saat itu saya merasa SMA THB merupakan salah satu sekolah swasta terbaik di Kota Pangkalpinang," ujarnya.

Beragam kenangan masih tersimpan dalam ingatannya. Salah satu yang paling berkesan adalah hukuman membersihkan lingkungan sekolah bersama teman-teman ketika datang terlambat.

"Ada banyak momen lucu dan berkesan selama sekolah di sana. Kalau kami terlambat datang, kami dihukum membersihkan lingkungan sekolah oleh kepala sekolah," kenangnya.

Edo mengaku sangat menyayangkan penutupan sekolah yang telah melahirkan banyak alumni dan prestasi tersebut.

Menurutnya, THB seharusnya dapat bertransformasi mengikuti perkembangan dunia pendidikan agar tetap bertahan.

"Harusnya mungkin bisa bertransformasi menyesuaikan perkembangan zaman," katanya.

Setiap kali melintasi bangunan yang kini menjadi SMKS Muhammadiyah Pangkalpinang, ia selalu teringat masa-masa sekolah. Baginya, THB telah menjadi bagian penting dalam kehidupan para alumninya.

"Coretan masa sekolah mungkin telah memudar. Tetapi kisah, persahabatan, dan pelajaran hidup yang lahir di sana akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami," tutupnya.

Berguguran

Penutupan SMA THB bukan kasus tunggal. Sejumlah sekolah swasta di Bangka Belitung menghadapi persoalan serupa akibat terus menurunnya jumlah peserta didik.

SMP PGRI Pangkalpinang, misalnya, resmi menghentikan operasional pada Juni 2026 setelah mengalami penurunan siswa sejak 2018. Angkatan terakhir yang lulus pada 2023 hanya sekitar lima orang. Setelah itu sekolah tidak lagi menerima siswa baru.

Suasana SMP PGRI Pangkalpinang tampak lengang, Rabu (22/7/2026). Sekolah yang telah berdiri sejak 1984 itu resmi menghentikan penerimaan siswa baru dan menutup operasional tingkat SMP sejak Juni 2026 setelah bertahun-tahun mengalami penurunan jumlah peserta didik.
Suasana SMP PGRI Pangkalpinang tampak lengang, Rabu (22/7/2026). Sekolah yang telah berdiri sejak 1984 itu resmi menghentikan penerimaan siswa baru dan menutup operasional tingkat SMP sejak Juni 2026 setelah bertahun-tahun mengalami penurunan jumlah peserta didik. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Darwin, menilai persoalan tersebut bukan semata akibat bertambahnya sekolah negeri, tetapi juga kemampuan sekolah swasta beradaptasi dengan persaingan.

"Sekolah swasta yang sepi peminat karena tidak mampu bertahan dalam manajemen pendidikan saat ini," ujarnya.

Fenomena serupa juga terjadi di Kabupaten Belitung. Pemerintah daerah menutup SD Negeri 8 Pulau Buntar setelah jumlah murid tinggal enam orang serta mengkaji regrouping atau penggabungan sejumlah sekolah dasar negeri.

Kepala Dinas Pendidikan Belitung, Tommy Wardiansyah, mengatakan langkah tersebut dilakukan berdasarkan kajian dengan mempertimbangkan jumlah siswa, jarak antarsekolah, dan akses layanan pendidikan.

Menurutnya, penurunan jumlah peserta didik dipengaruhi rendahnya angka kelahiran serta bergesernya pilihan masyarakat ke madrasah dan pondok pesantren.

Akademisi Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Fitri Ramdhani Harahap, menilai fenomena ini juga dipicu perubahan paradigma masyarakat dalam memilih sekolah. 

Sekolah negeri kini semakin diminati karena kualitasnya meningkat dan didukung anggaran pemerintah. Di sisi lain, sekolah swasta dituntut memiliki identitas, inovasi, dan keunggulan agar tetap mampu bersaing. Tanpa adaptasi dan dukungan operasional yang memadai, semakin banyak sekolah swasta berisiko kehilangan siswa dan akhirnya menghentikan kegiatan belajar mengajar. (riu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.