Bertahan 3 Generasi, Jumadi Wayang Kulit Terancam Kehilangan Tenaga Pengukir
Joko Widiyarso July 25, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Meski zaman sudah serba modern, proses pembuatan wayang kulit secara manual ternyata masih hidup dan berjalan aktif di kawasan Cabeyan, Sewon, Bantul

Di rumah sederhana ini lembaran-lembaran kulit sapi dan kerbau disulap menjadi mahakarya seni bernilai tinggi.

Rumah produksi ini bernama Jumadi Wayang Kulit, sebuah sentra kerajinan tradisional yang beroperasi jauh sebelum era modern bergulir.

Usaha kriya ini bukanlah pemain baru dalam industri seni pertunjukan dan suvenir di Yogyakarta.

Dikelola secara turun-temurun, nama rumah produksi ini diambil dari sosok Bapak Jumadi, generasi kedua dari usaha yang pertama kali dirintis oleh sang kakek.

"Ini sudah dari zaman Simbah. Nama 'Jumadi' itu nama Bapak, beliau generasi kedua. Ini usaha turun-temurun, dari sebelum tahun 2000-an sudah ada," ujar Andi, pengelola sekaligus penerus usaha Jumadi Wayang Kulit.

Bertahan hingga generasi ketiga saat ini, rumah tersebut menjadi salah satu saksi bisu pasang surutnya industri kriya wayang.

Sebuah warisan peninggalan leluhur yang kini harus memutar otak menghadapi berbagai tantangan zaman dan modernisasi.

Dedikasi Panjang di Balik Seni Sungging

2372026 - Seni Sungging
Proses sungging atau mewarnai tokoh wayang kulit di dapur produksi Jumadi Wayang Kulit, menggunakan kuas berbahan alam murni.

Menciptakan satu tokoh wayang kulit bukanlah hal mudah, prosesnya menuntut waktu, kesabaran, dan perhitungan yang presisi.

Bahan baku utama yang digunakan pun bervariasi, disesuaikan dengan segmentasi pasar dan permintaan pembeli.

Kulit kerbau umumnya dikhususkan untuk wayang kelas premium atau standar pedalangan karena tingkat keawetannya, sedangkan kulit sapi berada di segmen menengah.

Untuk produk skala kecil seperti pembatas buku atau gantungan kunci, pengrajin lebih memilih menggunakan kulit kambing.

Langkah awal pengerjaan dimulai dengan merendam kulit mentah selama dua hari penuh agar tekstur kulit yang keras dan menggulung menjadi lentur.

Setelah itu, kulit ditarik dan dipentang kuat pada sebuah bingkai kayu.

Pengrajin kemudian mengerok sisa daging dan bulu, menunggu hingga setengah kering, lalu kembali mengerok hingga mencapai ketebalan sekitar satu hingga tiga milimeter.

Jika ketebalan tidak merata, wayang berisiko melengkung atau terlalu kaku saat nanti dimainkan oleh dalang.

Setelah medium kulit siap, proses tatah atau pengukiran dimulai menggunakan puluhan mata pisau berbeda bentuk untuk menghasilkan motif batik, ornamen pakaian, hingga guratan wajah tokoh yang detail.

Saat tatahan selesai, tahapan krusial berikutnya adalah sungging atau pewarnaan.

Di tahap ini, unsur estetika wayang benar-benar dihidupkan.

Menariknya, rumah Jumadi Wayang Kulit menunjukan fleksibilitas dalam beradaptasi dengan material modern tanpa meninggalkan nuansa tradisional.

"Dulu pewarnaannya memakai cat bubuk atau siwit, namun kelemahannya mudah luntur. Sekarang kami beralih menggunakan cat tembok modern seperti Mowilex yang dicampur lem atau air agar jauh lebih awet," ungkap Ngatira, salah satu pengrajin lukis wayang.

Ngatira juga menambahkan bahwa meskipun cat yang digunakan adalah buatan pabrik modern, aplikator kuasnya tetap menggunakan bahan alam murni.

"Alat kuasnya kita pakai bambu atau penjalin (rotan) yang ditumbuk ujungnya, ada juga yang pakai sungu (tanduk kerbau) atau fiber," imbuhnya.

Dinamika Wayang Kulit Saat Ini

2372026 - Detail Wayang
Detail karya wayang kulit yang sedang dalam tahap sungging atau pewarnaan di bengkel Jumadi Wayang Kulit.

Kualitas pengerjaan yang konsisten terjaga membuat produk Jumadi Wayang Kulit di Cabeyan ini memiliki jangkauan pasar yang luas.

Hasil produksi Jumadi Wayang Kulit menyuplai sentra-sentra pariwisata di Yogyakarta seperti kawasan Taman Sari dan Malioboro.

Karya mereka juga sukses menarik minat pasar internasional, tercatat rombongan turis dari Jerman pernah memborong karya rumah ini sebagai cendera mata untuk dibawa ke negaranya.

Nilai jual yang ditawarkan juga sangat beragam, menyesuaikan tingkat kerumitan dan bahan yang digunakan.

Untuk produk seperti suvenir, harga dibanderol mulai dari Rp100.000 hingga Rp250.000.

Sementara itu, untuk satu tokoh wayang standar pedalangan berbahan kulit kerbau dengan detail prada (cat emas), harganya bisa menembus angka Rp2.500.000 hingga Rp3.000.000.

Menyadari pentingnya adaptasi di era digital, generasi penerus Jumadi Wayang Kulit juga menggunakan e-commerce seperti Instagram dan Tokopedia, untuk menjangkau kolektor wayang dari luar daerah.

Namun, di balik cat emas dan tingginya nilai seni pahatan wayang tersebut, tersimpan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan industri ini.

Kendala terberat yang dihadapi Jumadi Wayang Kulit saat ini bukanlah pada ketersediaan bahan baku maupun target pasar, melainkan pada regenerasi Sumber Daya Manusia.

Mencari tenaga pengrajin baru, khususnya spesialis tatah, dirasa semakin sulit dari tahun ke tahun.

Mayoritas pengrajin yang masih aktif menyungging saat ini adalah mereka yang sudah memasuki usia senja.

Generasi muda sekarang cenderung kurang telaten dan sabar.

Karena proses pembuatan wayang memakan waktu hingga satu bulan untuk satu karyayang kompleks.

Sementara mayoritas anak muda sekarang lebih tertarik pada profesi dengan perputaran uang yang cepat.

Keengganan ini menjadi ancaman nyata bagi kelestarian kriya wayang di masa depan.

"Tantangan terberat saat ini adalah regenerasi. Anak muda sekarang kurang sabar karena bikin wayang itu butuh ketelitian dan waktu sampai sebulan. Mereka lebih mencari pekerjaan yang uangnya cepat cair," jelas Andi.

Meski begitu, harapan pelestarian wayang kulit belum sepenuhnya hilang.

Sebagai langkah untuk merawat tradisi, Jumadi Wayang Kulit kini membuka rumah produksinya sebagai destinasi wisata edukasi budaya.

Rumah ini secara rutin menerima kunjungan dari berbagai institusi pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga mahasiswa perguruan tinggi.

Melalui penjelasan singkat, para pelajar diajarkan dasar-dasar memegang kuas tradisional dan mewarnai wayang.

Harapannya sederhananya meski tidak menjadi pengrajin, setidaknya ada memori yang tertanam pada generasi muda bahwa wayang kulit adalah warisan budaya yang harus terus dijaga kelestariannya.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.