TRIBUN-MEDAN.COM,- Pernah dengar tentang Pokat Kocok Buk Iyah belum?
Bagi sebahagian warga Kota Medan, Pokat Kocok Buk Iyah ini termasuk dalam list minuman legendaris.
Alasannya, karena pokat kocok ini sudah berjualan sejak tahun 1968.
Bayangkan saja, sejak saat itu, pokat kocok ini masih bisa bertahan dari gempuran zaman.
Baca juga: 10 Tempat Ngopi di Binjai yang Nyaman untuk Nongkrong, WFC, dan Quality Time
Di era kekinian yang menyuguhkan berbagai minuman segar serupa, Pokat Kocok Buk Iyah masih jadi pilihan masyarakat untuk menikmati segarnya buah pokat yang diracik dengan es dan susu tersebut.
Dapat dipastikan, bahwa Pokat Kocok Buk Iyah bisa bertahan hingga saat ini karena rasanya yang konsisten.
Sebab, dagangan yang bisa berumur puluhan tahun itu karena cita rasanya tidak berubah.
Mereka tetap menjaga kualitas, agar pelanggannya tidak kabur.
Baca juga: 10 Tempat Work From Cafe atau WFC di Medan yang Nyaman, Ada WiFi Kencang dan Banyak Stop Kontak
Jika dirunut pada umur manusia, mungkin pelanggan di Pokat Kocok Buk Iyah ini sudah lebih dari dua atau tiga generasi.
Selama puluhan tahun, tentu nama tempat ini sudah menyebar kemana-mana.
Kalaupun hanya dikenal di Kota Medan, setidaknya pelanggan akan menyampaikan informasi kepada keluarga, teman dan kerabat.
Pokat Kocok Buk Iyah lokasinya ada di simpang Glugur, Jalan KL Yos Sudarso No. 21, Kota Medan.
Usaha keluarga ini masih diteruskan secara turun-temurun, dengan mempertahankan resep, cara penyajian, serta cita rasa yang menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun.
Baca juga: 8 Tempat Makan Populer di Kota Binjai yang Halal dan Non Halal
Sejarah Pokat Kocok Buk Iyah bermula dari sebuah gerobak becak yang mangkal di bawah rindangnya pepohonan kawasan Simpang Glugur.
Pada masa itu, minuman berbahan dasar alpukat masih belum banyak dikenal masyarakat.
Usaha tersebut pertama kali dirintis oleh generasi pertama keluarga.
Baca juga: 7 Tempat Makan Siang di Medan dari yang Halal dan Non Halal
Seiring waktu, pengelolaannya diteruskan oleh Buk Iyah sebagai generasi kedua yang kemudian membuat nama "Pokat Kocok Buk Iyah" semakin dikenal luas.
Kini, bisnis kuliner legendaris tersebut telah memasuki generasi ketiga, yang tetap mempertahankan identitas serta kualitas rasa yang diwariskan sejak awal berdiri.
Salah satu keunikan Pokat Kocok Buk Iyah terletak pada proses pembuatannya.
Berbeda dengan minuman alpukat yang dihaluskan menggunakan blender, alpukat di tempat ini dikocok secara manual.
Teknik tersebut menghasilkan tekstur alpukat yang lebih padat, lembut, dan masih menyisakan potongan buah sehingga memberikan sensasi berbeda ketika dinikmati.
Baca juga: 10 Tempat Makan Malam di Medan dengan Rating Tinggi, Cocok untuk Kuliner Bersama Keluarga
Perpaduan alpukat matang, es serut, susu kental manis, sirup, dan gula aren yang telah diolah sendiri menciptakan rasa manis yang pas tanpa menghilangkan karakter alami buah alpukat.
Di tengah menjamurnya penjual pokat kocok di berbagai daerah, Buk Iyah tetap mempertahankan resep keluarga yang telah digunakan selama puluhan tahun.
Salah satu pembeda utamanya adalah penggunaan gula aren yang diolah sendiri, sehingga menghasilkan rasa yang lebih khas dibandingkan pemanis instan.
Selain itu, tekstur alpukat yang lebih kental juga menjadi alasan banyak pelanggan kembali datang.
Konsistensi kualitas inilah yang membuat Pokat Kocok Buk Iyah tetap bertahan di tengah persaingan kuliner modern.
Walaupun dikenal sebagai spesialis pokat kocok, warung ini juga menyediakan berbagai pilihan makanan dan minuman yang cocok disantap bersama keluarga.
Beberapa menu yang umumnya tersedia antara lain:
Ketersediaan menu dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi operasional.
Salah satu alasan Pokat Kocok Buk Iyah tetap diminati adalah harga yang relatif terjangkau.
Harga pokat kocok umumnya berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi, tergantung ukuran dan harga alpukat di pasaran.
Sementara menu lainnya juga dibanderol dengan harga yang masih bersahabat sehingga cocok untuk berbagai kalangan.
Karena harga alpukat bersifat fluktuatif, tarif menu dapat berubah sewaktu-waktu.
Tingginya minat pelanggan membuat kebutuhan bahan baku di Pokat Kocok Buk Iyah cukup besar.
Dalam kondisi normal, warung ini dapat menghabiskan sekitar 100 kilogram alpukat setiap hari.
Saat akhir pekan, musim liburan, atau hari besar, kebutuhan alpukat bisa meningkat hingga sekitar 150 kilogram per hari, menyesuaikan jumlah pengunjung.
Hal tersebut menunjukkan tingginya permintaan terhadap salah satu kuliner legendaris Medan ini.
Tidak hanya warga Medan, Pokat Kocok Buk Iyah juga kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu, sejumlah wisatawan mancanegara dari negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga beberapa negara Asia Selatan juga pernah mampir untuk mencicipi minuman khas tersebut saat berkunjung ke Kota Medan.
Popularitasnya turut didukung oleh berbagai liputan media, konten kreator kuliner, hingga rekomendasi dari mulut ke mulut yang terus berlanjut selama bertahun-tahun.
Warung Pokat Kocok Buk Iyah berada di lokasi yang cukup strategis, yakni di:
Jalan KL Yos Sudarso No. 21, Simpang Glugur, Kota Medan, Sumatera Utara.
Lokasinya mudah dijangkau dari pusat Kota Medan maupun kawasan Pelabuhan Belawan sehingga sering menjadi salah satu destinasi wisata kuliner bagi pendatang.
Secara umum, Pokat Kocok Buk Iyah melayani pelanggan setiap hari mulai sekitar pukul 11.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Namun, jam operasional dapat berubah pada hari libur nasional atau momen tertentu.
Sebelum berkunjung, pengunjung disarankan mengecek informasi terbaru melalui media sosial resmi atau menghubungi pihak pengelola.
Agar pengalaman menikmati kuliner legendaris ini semakin nyaman, berikut beberapa tips yang dapat diperhatikan:
Lebih dari lima dekade berdiri, Pokat Kocok Buk Iyah berhasil mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu ikon kuliner Kota Medan.
Perpaduan resep turun-temurun, proses pembuatan yang masih dilakukan secara manual, serta penggunaan bahan baku berkualitas menjadi alasan mengapa warung ini tetap ramai dikunjungi hingga sekarang.
Bagi wisatawan yang sedang menjelajahi Kota Medan, menikmati semangkuk pokat kocok di Simpang Glugur bisa menjadi pengalaman kuliner yang tidak boleh dilewatkan.
Selain menyegarkan, hidangan sederhana ini juga menyimpan cerita panjang tentang tradisi kuliner keluarga yang terus bertahan dari generasi ke generasi.(tribun-medan.com)