TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para sahabat dan keluarga mendiang legenda sepakbola PSS dan PSIM Markus Fajar Listyantara mulai berdatangan ke rumah duka di Jalan Yogyakarta-Solo, Kalasan, Kabupaten Sleman pada Sabtu (25/7/2026).
Pantauan Tribun Jogja, sejak pukul 10.15 WIB para sahabat dan kerabat mendiang telah berdatangan ke rumah duka.
Berdasarkan informasi, legenda sepakpola DIY itu berpulang pada Sabtu dini hari tadi sekitar jam 00.08 WIB.
Pemain yang pernah memperkuat dua tim besar di DIY, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta ini sebelumnya telah berjuang melawan sakit gagal ginjal selama beberapa bulan terakhir.
Hingga pukul 12.07 jenazah Fajar Listyantara masih disemayamkan di rumah duka. Saat ini sedang berlangsung ekaristi di rumah duka.
Cuci Darah Rutin
Lahir dan ditempa dari klub lokal PS Kalasan, bakat Fajar membawanya menembus kasta tertinggi. Ia tercatat sebagai satu dari sedikit pemain yang dihormati oleh dua kutub sepak bola DIY karena pernah membela PSS Sleman dan PSIM Jogja.
Kiprahnya tak berhenti di tingkat daerah; ia juga pernah berseragam PPSM Magelang hingga mendapat panggilan kehormatan membela Timnas U-23 Indonesia.
Di balik nama besarnya, lima bulan terakhir menjadi masa-masa yang berat bagi sang legenda.
Fajar harus keluar-masuk rumah sakit untuk menjalani proses cuci darah hingga dua kali dalam sepekan.
Kesehatannya mulai merosot drastis sejak pertengahan Maret 2026. Saat itu, hasil laboratorium menunjukkan kadar kreatinin dan ureumnya melonjak tajam, disertai tekanan darah tinggi.
Baca juga: Potensi Wajib Haji di Jogja 397 Ribu, BPKH Kolaborasi Perkuat Ekosistem Haji
Kondisi ini diduga merupakan imbas dari kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri untuk asam urat secara jangka panjang sejak sebelum pandemi, tanpa diimbangi kontrol kesehatan yang rutin.
Kondisi fisiknya yang melemah memaksa Fajar mengambil keputusan berat sebab ia harus menanggalkan sementara tugasnya sebagai pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) Potorono U-15.
Dalam sebuah wawancara pada awal Juli lalu, ia sempat menceritakan awal mula ia menyadari kondisi tubuhnya yang mulai tak biasa.
"Awalnya saya mudah lelah, apalagi saat naik tangga stadion untuk menonton PSS atau PSIM bertanding. Dari situ saya sadar ada yang salah dengan tubuh saya," ungkap Fajar saat itu.
Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, semangatnya tak pernah surut. Fajar selalu menyimpan optimisme tinggi untuk pulih.
Ia bahkan berangan-angan bisa mengurangi intensitas cuci darahnya secara bertahap hingga akhirnya benar-benar sembuh. Kerinduannya pada sepak bola begitu mendalam.
"Saya sangat rindu sepak bola. Kadang saya melihat foto-foto lama dan berharap bisa segera sembuh agar bisa kembali ke lapangan. Sepak bola adalah gairah saya sejak kecil," ungkap mendiang Fajar dengan penuh harap, beberapa pekan sebelum kepergiannya.
Menginspirasi dari Masa ke Masa
Kini, rindu Fajar pada lapangan hijau telah usai, namun warisannya akan terus hidup. Dedikasi tanpa pamrih yang ia tunjukkan tidak hanya dikenang oleh para pendukung klub, tetapi juga oleh jajaran pimpinan daerah.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, melalui akun media sosialnya turut menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Baginya, Fajar bukan sekadar atlet, melainkan representasi dari nilai-nilai kesatria dan loyalitas.
"Hari ini Sleman berduka. Kita kehilangan salah satu putra terbaik yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengharumkan nama daerah. Keringat dan jejak baktinya akan terus menginspirasi generasi muda kita," ungkap Harda.
Selamat jalan, Fajar Listyantara. Lemparan roketmu mungkin tak akan lagi meluncur di atas rumput hijau, tetapi keteladanan dan semangat pantang menyerahmu akan selalu mendarat tepat di hati para pencinta sepak bola Indonesia. (hda/han)