Liputan6.com, Jakarta - Saat seseorang berada di penghujung hidupnya, keluarga dan orang-orang terdekat memiliki peran penting untuk mendampinginya. Salah satu bentuk pendampingan yang dianjurkan dalam Islam adalah memberikan tuntunan melalui bacaan talqin sederhana untuk orang yang sekarat agar ia dapat mengakhiri hidupnya dengan husnul khatimah.
Dalam ajaran Islam, mempersiapkan diri menghadapi sakaratul maut merupakan bagian penting dari keimanan. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menjelaskan bahwa keadaan seseorang saat ruhnya dicabut menjadi salah satu penentu perjalanan menuju kehidupan akhirat.
Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menuntun orang yang sedang menghadapi sakaratul maut dengan kalimat tauhid. Beliau bersabda, "Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Laa ilaaha illallah." (HR. Muslim). Hadis ini menjadi dasar anjuran talqin kepada orang yang sedang menghadapi ajal.
Senada dengan itu, Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur menjelaskan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci keselamatan bagi seorang mukmin. Oleh sebab itu, bacaan talqin yang diucapkan sebaiknya sederhana, lembut, dan mudah diikuti, sehingga orang yang sedang sekarat dapat melafalkannya dengan tenang sesuai kemampuannya.
Dalam menuntun keimanan orang yang sedang meregang nyawa, lafal yang diajarkan harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan kesadaran pasien. Berikut adalah komprehensi bacaan talqin beserta dasar hukumnya:
Jika pasien masih memiliki sisa tenaga dan kesadaran lisan yang cukup, sangat dianjurkan menuntunnya dengan kalimat tauhid yang utuh.
Bacaan Arab: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Latin: Laa ilaaha illallah.
Artinya: Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Bacaan talqin kalimat tauhid ini berdasar pada hadis Nabi SAW yang artinya: "Tuntunlah orang yang hendak meninggal di antara kalian dengan kalimat 'Laa ilaaha illallah'." (HR. Muslim).
Sutejo Ibnu Pakar dalam Buku Tradisi Amaliyah Warga NU Tahlilan, Hadiyuan, Dzikir, Yasinan, Ziarah Kubur menjelaskan bahwa menuntun dengan kalimat ini harus dilakukan secara halus dan perlahan.
Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya Sampai ke Hari Kebangkitan menambahkan sabda Nabi SAW bahwa barangsiapa yang akhir perkataannya di dunia adalah Laa ilaaha illallah, maka ia dijamin masuk surga.
Jika lisan pasien sudah sangat kaku, tenggorokannya tersumbat (sekarat memuncak), atau napasnya tersengal-sengal, maka memaksakan kalimat panjang justru dapat menyulitkan atau memicu penolakan karena rasa sakit.
Bacaan Arab: اَللَّهُ، اَللَّهُ
Latin: Allah, Allah.
Artinya: Allah, Allah.
Kalimat atau seruan Allah ini berdasar dalil yang juga kuat. Nabi bersabda, yang artinya: "Kiamat tidak akan terjadi hingga di bumi tidak lagi diucapkan: Allah, Allah." (HR. Muslim).
Pengasuh di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang, KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan, ketika kondisi naza' (pencabutan nyawa) sudah amat berat, mentalqin cukup dengan kata "Allah". Memaksa lafal Laa ilaaha illallah dikhawatirkan membuat pasien berhenti di tengah jalan (misalnya hanya menyebut Laa yang berarti "Tidak").
Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa turut menjelaskan bahwa Allah Maha Memahami isi hati hamba-Nya yang berniat menyucikan diri di detik terakhirnya, meskipun lisannya hanya sanggup mendengung singkat.
Berdasarkan tuntunan ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah, mentalqin bukanlah sekadar membisikkan kata, melainkan harus memenuhi adab berikut:
• Mendekat dan duduk di sebelah kanan pasien.
• Membisikkan kalimat tauhid tepat di dekat telinga kanannya dengan suara yang sangat lembut, pelan, dan penuh kasih sayang.
• Dilarang keras memaksa, membentak, atau terus-menerus mengulang kalimat jika pasien terlihat kesakitan atau tertekan.
• Apabila pasien sudah berhasil mengucapkan Laa ilaaha illallah atau Allah, maka hentikan talqin. Biarkan itu menjadi kalimat terakhirnya. Jika ia kembali berbicara tentang urusan duniawi, maka talqin dapat diulang dengan lembut.
• Sangat dianjurkan menyandingi proses tersebut dengan lantunan Surah Yasin (sebagaimana tradisi yang dijelaskan dalam Buku Tradisi Amaliyah Warga NU), guna meringankan sakitnya sakaratul maut.
• Membimbing Husnul Khatimah: Memastikan akhir hayat pasien ditutup dengan pengakuan ketauhidan murni, yang merupakan kunci mutlak keselamatan akhirat.
• Meringankan Derita Sakaratul Maut: Suara lembut yang membimbing asma Allah dapat memberikan ketenangan batin luar biasa di tengah rasa sakit terpisahnya ruh dari jasad.
• Mengusir Godaan Setan: Di detik-detik akhir, setan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memurtadkan hamba. Talqin berfungsi sebagai perisai spiritual penangkal keraguan.
• Menjadi Bukti Kasih Sayang Keluarga: Mentalqin adalah wujud bakti dan pertolongan paling berharga yang bisa diberikan keluarga kepada kerabatnya yang sedang berjuang di ambang maut.
• Menyiapkan Bekal Fitnah Kubur: Kalimat tauhid yang terpatri di akhir hayat akan mempermudah lisan sang hamba kelak saat diinterogasi oleh Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh.
1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan talqin?
Talqin secara bahasa berarti mengajar atau menuntun. Dalam konteks kematian, talqin adalah membimbing atau menuntun orang yang sedang sekarat (sakaratul maut) atau yang baru dikuburkan, dengan melafalkan kalimat keimanan, khususnya Laa ilaaha illallah.
2. Siapa yang paling berhak mentalqin orang yang sekarat?
Keluarga terdekat yang memiliki kelembutan hati dan ketenangan emosional, seperti anak, pasangan, atau ulama (kyai/ustadz) setempat, agar pasien tidak merasa asing dengan suara yang membimbingnya.
3. Bolehkah hanya membisikkan kata 'Allah' saat mentalqin?
Boleh dan sangat dianjurkan apabila kondisi orang yang sekarat sudah tidak memungkinkan untuk mengucapkan kalimat panjang, agar lidahnya tidak kesulitan dan napasnya tidak semakin tercekik.
4. Bagaimana jika orang yang sekarat tidak merespons sama sekali?
Teruslah berbisik dengan sangat perlahan tanpa menuntut jawaban. Meskipun lisannya tidak bergerak atau matanya terpejam, pendengarannya adalah indera terakhir yang mati, sehingga ruhnya insyaAllah tetap meresapi kalimat tersebut.
5. Apakah orang yang tidak sempat ditalqin pasti su'ul khatimah?
Tidak. Talqin adalah syariat untuk berikhtiar. Jika seseorang meninggal mendadak atau saat sendirian, penilaian husnul khatimah tetap bergantung pada rekam jejak keimanan, ketakwaan, dan takdir Allah semasa ia hidup, bukan semata-mata karena ada atau tidaknya yang mentalqin.