TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Suasana haru sekaligus khidmat menyelimuti Masjid Al-Fajar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta pada Sabtu (25/7/2026).
Seorang Warga Binaan berinisial RAS berkesempatan menunaikan tanggung jawab sucinya sebagai seorang ayah untuk menikahkan putrinya secara langsung, meski saat ini tengah menjalani masa pembinaan.
Jarak yang jauh dari luar provinsi tak menyurutkan langkah keluarga besar untuk melangsungkan momentum sakral ini di dalam Lapas.
Di hadapan penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kemantren Pakualaman, ijab kabul terucap dengan lancar dan penuh keteguhan oleh mempelai pria.
Sang menantu resmi meminang putri warga binaan tersebut dengan mas kawin berupa logam mulia 10 gram dan uang tunai sebesar Rp2.672.500
Momen bahagia ini terasa semakin istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan petugas Lapas, tetapi juga turut disaksikan dan didoakan oleh para Warga Binaan santri Madrasah Al-Fajar Lapas Yogyakarta.
Lantunan doa dari para santri menambah syahdu suasana religius di dalam masjid, memberikan dukungan moral yang besar bagi keluarga mempelai.
Kepala Lapas Yogyakarta, Marjiyanto, menegaskan bahwa pelaksanaan prosesi pernikahan ini adalah wujud nyata komitmen Lapas dalam memenuhi hak-hak dasar warga binaan.
Dia juga menekankan bahwa dukungan semacam ini adalah bagian dari standar pelayanan sehari-hari.
Pihaknya memfasilitasi kegiatan ini sebagai bentuk pelayanan dan pemenuhan hak warga binaan untuk tetap dapat menjalankan perannya dalam keluarga.
“Pelayanan ini berjalan mengalir begitu saja, bukan sesuatu yang harus dipersiapkan secara khusus apalagi terkesan berlebihan. Lapas Yogyakarta senantiasa siap memfasilitasi hak-hak dasar dan ibadah warga binaan kapan pun dibutuhkan, tentunya dengan tetap mematuhi prosedur keamanan yang berlaku," ujar Marjiyanto.
Sementara itu, petugas pencatat pernikahan dari KUA Kemantren Pakualaman mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lapas Yogyakarta atas dukungan, partisipasi, dan doanya.
Raut wajah haru sekaligus bangga tampak jelas dari keluarga mempelai putri seusai prosesi ijab kabul.
Bahkan, sebelum meninggalkan area Lapas, pihak keluarga yang datang dari luar provinsi tampak berulang kali menyematkan senyum dan gestur terima kasih kepada para petugas yang berjaga.
Pernikahan di balik tembok lapas ini menjadi bukti bahwa pembinaan di Lapas Yogyakarta tidak memutus tali silaturahmi dan tanggung jawab sosial seorang ayah. (hda)