SERAMBINEWS.COM - Media sosial telah mengubah cara orang mempersiapkan perjalanan wisata.
Banyak wisatawan kini mengenal destinasi secara mendalam sebelum benar-benar datang ke lokasi.
Kondisi tersebut membuat perjalanan terasa lebih aman, terencana, dan efisien.
Namun, kemudahan memperoleh informasi juga mengurangi unsur kejutan yang selama ini menjadi bagian penting dari pengalaman berwisata.
Survei menunjukkan sebagian besar responden merasa destinasi yang dikunjungi sudah terlalu familiar karena sering melihatnya di internet.
Akibatnya, momen pertama saat tiba di lokasi menjadi kurang berkesan dibandingkan sebelumnya.
Baca juga: Selama Liburan, Wisatawan Tujuan Pulau Banyak Padati Pelabuhan Singkil
Meski begitu, riset sebelum liburan tetap memiliki manfaat, terutama dalam mengurangi kecemasan dan membantu perencanaan perjalanan.
Karena itu, banyak orang mulai mencari keseimbangan antara memperoleh informasi yang cukup dan tetap menyisakan rasa penasaran saat berlibur.
"Internet mengubah urutan pengalaman.
Orang-orang semakin sering melihat, mempelajari, dan membayangkan suatu tempat sebelum benar-benar mengunjunginya," tulis Hint App, dikutip dari laman resminya, Jumat (24/7/2026).
Sebagai gambaran, wisatawan kini sudah bisa mengenali arah menuju hotel bahkan sebelum meninggalkan bandara.
Mereka juga telah mengetahui meja mana di sebuah restoran yang menawarkan pemandangan paling Instagramable, hingga mengenali menu andalan restoran sebelum membuka daftar menu.
Baca juga: Liburan ke Sabang? Ini Tarif Tiket Kapal Cepat dan Feri Banda Aceh - Sabang
Meski belum pernah mengunjungi destinasi tersebut secara langsung, pengalaman berwisata sebenarnya sudah dimulai sejak melihat berbagai konten di layar ponsel.
Hasil survei Hint App melibatkan 10.684 orang dewasa dari berbagai wilayah dunia, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Eropa, Australia, dan Amerika Latin.
Sebanyak 68 persen responden mengaku destinasi baru terasa sangat familiar karena sebelumnya telah melihat banyak konten mengenai tempat tersebut di internet.
"Temuan ini menggambarkan perubahan dalam urutan pengalaman. Dulu perjalanan dimulai saat tiba di suatu tempat.
Kini perjalanan sering kali dimulai di layar, di mana paparan berulang membentuk ekspektasi bukan hanya tentang seperti apa rupa suatu tempat, tetapi juga bagaimana tempat itu dieksplorasi, difoto, dipesan, dan dikenang," tulis Hint App.
Persiapan digital sebenarnya memberikan banyak manfaat.
Baca juga: 8 Cara Atasi Post-Holiday Blues, Kembalikan Semangat Setelah Liburan
Media sosial membantu calon wisatawan menemukan lingkungan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus menghindari kesalahan yang dapat menimbulkan biaya tambahan selama liburan.
Selain itu, calon wisatawan juga lebih mudah memahami sistem transportasi lokal sehingga waktu liburan yang terbatas dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.
Melihat pratinjau destinasi secara mendetail juga dinilai mampu mengurangi rasa cemas. Ketidakpastian selama perjalanan berubah menjadi rencana yang lebih matang.
Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat konsekuensi. Informasi yang terlalu banyak justru memperpendek jarak antara rasa penasaran dan pengalaman nyata.
Media sosial disebut mengurangi unsur kejutan dalam perjalanan yang seharusnya dirasakan wisatawan.
Sebanyak 74 persen responden mengaku melakukan riset secara sangat mendalam sebelum bepergian. Akibatnya, hampir tidak ada lagi kejutan ketika mereka tiba di lokasi tujuan.
Selain itu, sebanyak 64 persen responden mengaku langsung mengenali jalanan, landmark, atau sudut pemandangan tertentu meskipun belum pernah datang ke tempat tersebut sebelumnya.
Pengalaman itu diperoleh karena mereka sering melihatnya di internet.
Fenomena ini dinilai tidak hanya terjadi pada sektor pariwisata.
Seseorang bisa datang ke restoran dengan sudah mengetahui menu yang akan dipesan, menginap di hotel dengan telah mengenal tata letaknya, atau menghadiri konser setelah berkali-kali menonton rekaman pertunjukan yang sama.
Dalam survei tersebut, 57 persen responden mengatakan sebuah pengalaman terasa kurang menyenangkan karena lokasi atau acara yang dikunjungi terlihat sama persis seperti yang mereka lihat di internet.
Masalahnya bukan hanya karena wisatawan memiliki lebih banyak informasi.
Persiapan digital juga memengaruhi fokus mereka saat tiba di lokasi. Sudut foto populer maupun makanan khas menjadi tolok ukur utama saat menikmati destinasi.
Akibatnya, wisatawan tidak lagi menikmati sebuah tempat secara alami, melainkan membandingkan apakah kondisi nyata sesuai dengan versi yang mereka lihat di internet.
Meski demikian, riset mendalam sebelum berlibur tidak selalu berdampak buruk.
Kepastian membuat lingkungan yang asing terasa lebih mudah diakses, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu, biaya, mobilitas, maupun rasa cemas.
Tantangannya, calon wisatawan ingin memperoleh dua hal sekaligus, yakni informasi yang cukup agar merasa aman, sekaligus mempertahankan rasa penasaran agar tetap bisa merasakan kejutan saat tiba di destinasi.
Managing Director Hint App, Kirill Liakh, mengatakan hasil survei tersebut menunjukkan bahwa persiapan sebelum perjalanan dapat mengubah dampak emosional ketika wisatawan tiba di tujuan.
"Orang-orang menggunakan informasi untuk mengurangi ketidakpastian sebelum suatu pengalaman dimulai.
Hal itu bisa membuat pengalaman terasa lebih mudah, tetapi juga dapat membuat pertemuan pertama dengan suatu tempat menjadi kurang berkesan," ujar Liakh.
Saat ini, sebagian orang mulai menyikapi kondisi tersebut dengan membatasi konsumsi informasi sebelum bepergian.
Sebanyak 46 persen responden sengaja menghindari riset berlebihan mengenai destinasi, restoran, maupun acara agar rasa ingin tahu tetap terjaga ketika berlibur. (*)
Sumber: https://travel.kompas.com/read/2026/07/25/150500027/media-sosial-bikin-liburan-terasa-biasa-saja-ini-surveinya