Strategi Jemput Bola dan Tips ABCDE, Langkah Pemkab Lumajang Tekan Angka Stunting
Evan Saputra July 25, 2026 10:03 PM

BANGKAPOS.COM, JAWA TIMUR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang mengintensifkan upaya percepatan penurunan angka stunting melalui strategi jemput bola dan sosialisasi tips "ABCDE", menyusul tingginya prevalensi stunting di wilayah tersebut yang mencapai 23,4 persen atau berada di atas rata-rata nasional, Sabtu (25/7/2026)

Stunting masih menjadi perhatian utama pemerintah pusat hingga daerah untuk terus ditekan dengan berbagai program dan gerakan. Gencarnya edukasi dan pencegahan sudah dilakukan sejak dini, sebelum calon pengantin menikah lalu memiliki anak.

​Pemkab Lumajang juga aktif bergerak dengan berbagai program untuk terus mendorong pendekatan proaktif melalui strategi jemput bola, agar pelayanan kesehatan ibu dan anak semakin menjangkau keluarga yang membutuhkan, khususnya di pelosok desa.

​Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), tercatat prevalensi stunting di Kabupaten Lumajang 23,4 persen. Data itu lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 19,8 persen. Data itu menjadi salah satu dasar pemerintah daerah setempat memperkuat strategi percepatan penurunan stunting melalui intervensi yang lebih terarah.

​Pemkab Lumajang melaksanakan program dengan pendekatan berbasis data yang memungkinkan pemerintah daerah mengoptimalkan koordinasi antarpemangku kepentingan, sehingga program menjadi lebih fokus, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah dan kelompok sasaran.

​Melalui pemanfaatan data berkelanjutan, kebijakan yang dijalankan menjadi semakin adaptif, terukur, dan tepat sasaran. Dengan demikian, setiap intervensi penurunan stunting diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak.

​Dari pemanfaatan data, kemudian lahir Tips ABCDE yang terdiri atas lima langkah utama, yaitu huruf A berarti "aktif" minum tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil. Kemudian huruf B adalah "bumil" atau ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan, sesuai standar pelayanan kesehatan.

​Huruf C adalah "cukupi" konsumsi protein hewani setiap hari, kemudian D, "datang" ke posyandu setiap bulan untuk memantau tumbuh kembang anak, dan huruf E berarti "eksklusif" memberikan ASI selama enam bulan pertama kehidupan bayi.

​Kelima langkah tersebut saling melengkapi dalam mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan ibu maupun anak karena pencegahan stunting tidak dimulai ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi sejak masa remaja, kehamilan, hingga 1.000 hari pertama kehidupan.

​Tips ABCDE tidak berhenti sebagai materi kampanye, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan oleh setiap keluarga, sehingga dengan langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, risiko stunting dapat ditekan dan tumbuh kembang anak berlangsung lebih optimal.

​Dari langkah itu, kader posyandu, Tim Penggerak PKK, tenaga kesehatan, pemerintah desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat diajak bersama untuk terus menyampaikan pesan-pesan pencegahan stunting kepada masyarakat agar semakin banyak keluarga memahami pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak sejak dini.

​Melalui edukasi yang mudah dipahami dan diterapkan, Pemkab Lumajang terus memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis keluarga, sehingga diharapkan semakin banyak orang tua yang mampu menerapkan pola hidup sehat. Dengan demikian, akan lahir generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

​Edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan agar keluarga tidak hanya mengetahui pentingnya pencegahan stunting, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan intervensi yang bersifat sesaat.

​Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang Dewi Natalia mengatakan upaya percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya menunggu masyarakat datang memanfaatkan layanan kesehatan. Kader posyandu, Tim Penggerak PKK, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa harus aktif turun untuk mendampingi keluarga yang berisiko.

​Pendekatan jemput bola diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai layanan kesehatan dasar, mulai dari pemantauan tumbuh kembang balita, edukasi gizi, pendampingan ibu hamil, hingga penyampaian informasi mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini.

​Selain memperluas jangkauan layanan, strategi tersebut juga menjadi upaya memastikan tidak ada keluarga yang terlewat dari pendampingan, terutama mereka yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap stunting. Dengan pelayanan yang lebih dekat, berbagai kendala akses maupun kurangnya informasi dapat diatasi.

​Melalui pendekatan jemput bola, pemkab terus memperkuat pelayanan kesehatan yang lebih inklusif, proaktif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

​Tidak hanya itu, pencegahan stunting juga dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga, sehingga Tim Penggerak PKK Lumajang gencar mengenalkan tips ABCDE sebagai panduan praktis dalam menjaga kesehatan ibu dan anak sejak sebelum kehamilan hingga masa awal kehidupan buah hati.

​Keluarga merupakan lingkungan pertama yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Karena itu, pemahaman orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan, serta pengasuhan yang baik menjadi faktor penting dalam mencegah stunting.

​Melalui tips ABCDE, Pemkab Lumajang ingin menghadirkan pesan yang sederhana, mudah diingat, tetapi memiliki dampak besar bagi kesehatan ibu dan anak karena pencegahan stunting memang harus dimulai dari keluarga, sehingga setiap keluarga memiliki peran penting dalam memastikan anak tumbuh sehat dan optimal.

​Keberhasilan percepatan penurunan stunting tidak hanya diukur dari menurunnya angka prevalensi, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran keluarga untuk membangun pola hidup sehat sejak dini. Kesadaran tersebut menjadi modal penting dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

​Ketika keluarga menjadi pelaku utama dalam menjaga kesehatan ibu dan anak, fondasi pembangunan sumber daya manusia juga akan semakin kuat.

​Pencegahan stunting pun tidak lagi dipandang sebagai program sesaat, melainkan menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari kesadaran setiap keluarga.

​Garda Terdepan

​Pos pelayanan terpadu (posyandu) tetap menjadi ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting karena menjadi tempat pemantauan tumbuh kembang anak, sekaligus media edukasi bagi keluarga.

​Melalui layanan yang rutin dan mudah dijangkau, posyandu berperan penting memastikan ibu hamil, bayi, dan balita memperoleh pendampingan kesehatan secara berkelanjutan.

​Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat penimbangan balita, tetapi juga menjadi ruang konsultasi bagi orang tua untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala.

​Kalau masyarakat belum datang ke posyandu, berarti petugas yang harus lebih aktif mendatangi mereka. Kader posyandu adalah pelayan yang tidak boleh menunggu, tetapi menjemput bola. Semua harus hadir memberikan pendampingan kepada ibu hamil, balita, dan keluarga yang berisiko.

​Kehadiran masyarakat di posyandu memungkinkan pemantauan pertumbuhan balita dilakukan secara berkala. Apabila ditemukan indikasi gangguan pertumbuhan, penanganan dapat dilakukan lebih dini, sehingga risiko stunting dapat diminimalkan melalui pendampingan yang berkesinambungan.

​Selain menjadi pusat pelayanan dasar, posyandu juga berperan memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dan keluarga. Melalui interaksi tersebut, berbagai informasi mengenai kesehatan ibu dan anak dapat disampaikan secara langsung, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

​Pemerintah daerah terus mendorong optimalisasi peran posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan meningkatnya partisipasi keluarga dan penguatan peran kader, Posyandu diharapkan semakin efektif mendukung percepatan penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.

​Data di Posyandu Desa Sumbersuko menunjukkan setiap bulan kader posyandu hadir mendampingi ibu hamil, memantau tumbuh kembang balita, hingga memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga. Di balik pelayanan yang tampak sederhana itu, tersimpan peran besar dalam menyiapkan generasi yang sehat.

​Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kehadiran kader posyandu yang setiap hari berada di tengah masyarakat.

​Setiap posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang pendampingan bagi keluarga agar semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

​Pemerintah Desa Sumbersuko terus mendorong peningkatan kapasitas kader posyandu melalui pembinaan yang berkelanjutan. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang terus berkembang, kader diharapkan semakin percaya diri dalam memberikan edukasi, memantau tumbuh kembang balita, mendampingi ibu hamil, serta mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

​Kader posyandu bukan sekadar relawan kesehatan, namun mereka adalah wajah pertama pelayanan kesehatan di desa yang setiap bulan hadir dengan semangat pengabdian, menjadi sahabat bagi keluarga, sekaligus jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan.

​Gerakan Posyandu Aktif tahun 2026 juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, TP-PKK, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader posyandu, dan masyarakat dalam mewujudkan desa bebas stunting.

​Sinergi tersebut menjadi pondasi penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan keluarga, sekaligus menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif, sehingga semangat yang dibawa dari gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

​Momentum itu menjadi penguat tekad untuk terus menghadirkan posyandu yang aktif, kader yang kompeten, dan pelayanan kesehatan yang semakin dekat dengan masyarakat karena posyandu adalah ruang tumbuhnya kepedulian, tempat kader mengabdi, dan titik awal lahirnya generasi yang lebih sehat, lebih tangguh, dan siap menyongsong masa depan menuju Generasi Emas 2045. (antara)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.