Serangan Iran Kian Presisi Hantam Target AS, Pentagon Duga Moskow dan Beijing Terlibat
Ansari Hasyim July 25, 2026 11:38 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Kemampuan rudal dan drone Iran yang semakin presisi memicu kekhawatiran serius di Pentagon. Amerika Serikat menduga Teheran mendapat bantuan dari Rusia dan China untuk meningkatkan akurasi serangan terhadap pangkalan militer AS hingga fasilitas intelijen CIA di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran itu menguat setelah serangkaian serangan Iran disebut berhasil menembus sistem pertahanan udara Amerika.

Salah satunya terjadi di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, yang menewaskan tiga personel militer AS pada 17 Juli lalu.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui Rusia dan China memang memberikan dukungan tertentu kepada Iran, meski ia menolak mengungkap rincian bentuk bantuan tersebut.

Baca juga: Iran Laporkan tak Ada Serangan Baru dari AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Masih Tinggi

"Sejauh mana dan sedalam apa dukungan itu tetap bersifat rahasia. Namun memang ada cara-cara di mana kedua negara tersebut, pada tingkat yang berbeda, membantu apa yang dilakukan Iran," kata Hegseth.

Serangan Baru Diduga Lolos dari Pertahanan AS

Kekhawatiran Washington semakin meningkat setelah pada Rabu dilaporkan sebuah serangan Iran kembali berhasil menembus pertahanan udara AS dan menghantam gudang senjata di dekat pangkalan yang sama di Yordania.

Seorang sumber yang mengetahui insiden tersebut mengatakan ledakan besar memunculkan awan menyerupai "jamur raksasa" (mushroom cloud) akibat amunisi yang meledak.

Sumber itu juga mengklaim intelijen asing telah memberikan peringatan sekitar pukul 10.30 waktu setempat mengenai kemungkinan serangan, namun rudal tersebut tetap gagal dicegat.

Pejabat Departemen Pertahanan AS menolak memberikan komentar dengan alasan keamanan operasional.

Rusia Diduga Tingkatkan Akurasi Rudal Iran

Menurut laporan Reuters, badan intelijen AS kini menyelidiki kemungkinan Rusia membantu Iran meningkatkan kemampuan membidik sasaran strategis, termasuk fasilitas CIA di kawasan Teluk.

Empat sumber yang mengetahui laporan intelijen mengatakan penyelidikan dipicu oleh meningkatnya efektivitas serangan Iran serta kerja sama teknologi militer yang semakin erat antara Moskow dan Teheran.

Sebuah penilaian intelijen Barat bahkan menyebut Rusia kemungkinan berperan dalam membantu penentuan target terhadap sejumlah fasilitas intelijen Amerika di Timur Tengah.

Sementara itu, mantan utusan khusus Presiden Donald Trump untuk Rusia dan Ukraina, Letjen (Purn) Keith Kellogg, menilai Rusia merupakan pihak yang paling mungkin membantu peningkatan kemampuan penargetan rudal Iran.

"Saya pikir Rusia adalah pihak utama yang membantu sistem penargetannya," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa China sebenarnya lebih berkepentingan menjaga stabilitas kawasan karena sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.

Iran Dinilai Belajar dari Perang Sebelumnya

Mantan pejabat Pentagon sekaligus peneliti senior Atlantic Council, Alex Plitsas, mengatakan peningkatan akurasi serangan Iran juga dipengaruhi perubahan taktik setelah mempelajari konflik sebelumnya, termasuk konfrontasi dengan Israel.

Menurutnya, Iran kini mengombinasikan pengalaman tempur dengan kemungkinan dukungan intelijen dari negara-negara pesaing Amerika Serikat.

"Kombinasi perubahan taktik dan dukungan intelijen dari negara-negara pesaing dapat menghasilkan serangan yang jauh lebih mematikan terhadap pasukan maupun aset Amerika di kawasan," ujarnya.

Tiga Tentara AS Tewas

Pada 17 Juli lalu, rudal balistik Iran menghantam kompleks hunian prajurit di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti.

Serangan tersebut menewaskan tiga tentara AS, yakni 1st Lt. Tyler J. Feehan, Pvt. Isabella Gonzales, dan Sersan Angel S. Rampersad.

Laporan The Wall Street Journal menyebut pangkalan itu diserang tiga kali dalam kurun waktu 24 jam. Tiga rudal balistik Iran dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara Amerika.

Insiden tersebut memperlihatkan tantangan besar bagi AS dalam melindungi sekitar 50.000 personel militernya yang ditempatkan di berbagai negara Timur Tengah dari ancaman rudal dan drone Iran yang terus berkembang.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui hampir seluruh rudal berhasil dicegat, namun satu rudal tetap berhasil lolos dan menyebabkan korban jiwa.

"Satu rudal berhasil lolos. Itu menghantam lokasi yang salah, dan akibatnya sangat tragis," kata Rubio.
Hingga pekan ini, Pentagon mencatat hampir 100 personel militer AS mengalami luka-luka sejak 7 Juli, meski sekitar 96 persen di antaranya telah kembali bertugas.

Presiden Donald Trump pun menegaskan setiap kematian tentara Amerika akan dibalas dengan tindakan militer yang lebih besar terhadap Iran.

Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi serangan terhadap sasaran-sasaran Iran terus dilakukan sejak 11 Juli untuk mengurangi kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.