SERAMBINEWS.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman yang tidak biasa dengan memperingatkan warga di tujuh negara Timur Tengah agar menjauhi berbagai aset dan kepentingan milik Amerika Serikat.
Melalui pesan yang diunggah di Telegram, IRGC meminta warga dan penduduk di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, Arab Saudi, dan Suriah untuk tidak mendekati pangkalan militer, fasilitas keamanan, maupun lokasi yang digunakan pasukan Amerika Serikat.
Tak hanya itu, IRGC juga menyebut berbagai fasilitas sipil yang diklaim digunakan atau terkait dengan kepentingan Amerika.
Mereka meminta masyarakat menjaga jarak sedikitnya 500 meter dari lokasi yang disebut sebagai tempat tinggal tersembunyi personel militer AS.
Baca juga: Iran Diduga Kirim Agen Rahasia ke Inggris setelah AS Gunakan Pangkalan Udaranya untuk Serang Teheran
Dalam peringatannya, IRGC secara spesifik menyebut hotel-hotel Amerika, bank-bank Amerika, perusahaan asal AS, gedung-gedung pencakar langit, properti milik keluarga Presiden Donald Trump, serta berbagai investasi yang terkait dengannya sebagai lokasi yang harus dihindari.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan. Presiden Donald Trump diketahui memiliki proyek maupun rencana investasi di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.
IRGC juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika di Udairi, Kuwait, yang menurut mereka menyebabkan tiga gudang amunisi dan logistik terbakar hingga hancur.
Selain itu, Iran mengaku berhasil merusak sebuah menara pengawas milik Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang bermarkas di Bahrain.
Hingga kini, US Central Command (CENTCOM) belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.
Pemerintah Bahrain mengonfirmasi telah mencegat dan menembak jatuh sejumlah serangan udara Iran pada Jumat, namun belum mengungkap adanya korban jiwa maupun kerusakan.
Di Irak utara, pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat dilaporkan berhasil menembak jatuh lima drone bermuatan bahan peledak yang mengarah ke Kota Erbil.
Sedikitnya tujuh ledakan terdengar di sekitar kota tersebut, sementara kepulan asap hitam terlihat membumbung dari kawasan dekat pangkalan militer di Bandara Erbil yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS.
Meski demikian, operasional penerbangan di bandara dilaporkan tetap berjalan normal.
Sementara itu, militer Yordania mengumumkan telah mencegat tujuh rudal dan enam drone Iran yang memasuki wilayah udaranya.
Serangan Iran terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara malam ke-13 berturut-turut terhadap sejumlah target militer Iran.
Media Iran melaporkan serangan menghantam pangkalan angkatan laut IRGC di Iran utara, Pulau Qeshm yang menjadi basis armada drone laut Iran di Selat Hormuz, serta Provinsi Isfahan yang memiliki pangkalan udara utama dan fasilitas nuklir.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Provinsi Khuzestan dan Fars.
CENTCOM menyatakan operasi terbaru itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran sipil dan kapal-kapal dagang di kawasan, seiring upaya Amerika mengamankan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.(*)