SERAMBINEWS.COM – Konflik di Timur Tengah semakin meluas setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim meluncurkan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi, Sabtu (25/7/2026). Serangan ini terjadi ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih menimbang apakah akan melancarkan serangan militer yang lebih besar terhadap Iran.
Kelompok Houthi menyatakan rudal mereka menghantam Kota Jizan di selatan Arab Saudi dan memicu kebakaran. Namun hingga kini pemerintah Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Meski demikian, otoritas pertahanan sipil Saudi sempat mengeluarkan peringatan kepada warga di Jizan dan Yanbu agar meningkatkan kewaspadaan.
Eskalasi terbaru ini membuka front baru dalam perang yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu.
Sehari sebelumnya, koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan telah menyerang sejumlah target militer Houthi sebagai respons atas serangan kelompok itu terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
Menurut sumber keamanan Yaman, pangkalan angkatan laut di Kota Hodeida dan kamp militer di Pulau Kamaran menjadi sasaran serangan Saudi.
Houthi sebelumnya juga mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi serta mengklaim menyerang dua kapal Saudi di Laut Merah. Riyadh telah mengakui salah satu insiden tersebut.
Baca juga: Serangan Houthi Hantam 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi, Ketegangan Laut Merah Meningkat
Situasi ini semakin memperumit jalur perdagangan global karena berlangsung bersamaan dengan blokade Selat Hormuz oleh Iran, yang menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Di Washington, Presiden Donald Trump mengatakan dirinya belum mengambil keputusan untuk melancarkan operasi militer besar terhadap Iran.
Saat ditanya apakah telah memutuskan menggempur Iran secara besar-besaran, Trump menjawab bahwa pembicaraan dengan Teheran masih berlangsung.
"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius dari hari ke hari," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Meski demikian, Trump kembali memperingatkan Iran bahwa pilihannya hanya dua, yakni mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat atau menghadapi serangan yang jauh lebih besar.
Trump menegaskan garis merah pemerintahannya tetap sama, yaitu mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Amerika Serikat menyatakan operasi militernya bertujuan mencegah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Sebagai balasan, Iran terus melancarkan serangan terhadap aset-aset militer AS di kawasan.
Militer Iran pada Jumat mengklaim telah menyerang target militer Amerika di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengaku menyerang pusat data Amazon di Bahrain. Hingga kini belum ada konfirmasi dari Amazon, pemerintah Bahrain, maupun Amerika Serikat mengenai klaim tersebut.
Di Bahrain, sirene peringatan kembali dibunyikan pada Sabtu dini hari, sementara pemerintah meminta warga segera berlindung.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump juga membantah laporan yang menyebut Rusia dan China memasok persenjataan maupun intelijen kepada Iran untuk menyerang pasukan Amerika.
Menurut Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping telah menyatakan tidak akan terlibat dalam konflik tersebut.
"Saya percaya kepada mereka," ujar Trump.
Sementara di jalur diplomasi, Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Kirgizstan.
Dalam pertemuan itu, Wang Yi menyerukan dimulainya kembali perundingan guna meredakan ketegangan di Timur Tengah dan kawasan Teluk, di tengah upaya perdamaian yang hingga kini masih menemui jalan buntu akibat sengketa di Selat Hormuz.(*)