Militer AS Alihkan 12 Kapal yang Terobos Blokade Selat Hormuz, Klaim Lumpuhkan 2 Kapal 'Ngeyel'
Febri Prasetyo July 26, 2026 01:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Militer Amerika Serikat (AS) pada Minggu (26/7/2026) mengatakan telah mengalihkan 12 kapal komersial yang mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran.

Komando Militer Pusat (CENTCOM) mengatakan pasukan AS melumpuhkan dua kapal yang menolak untuk mematuhi perintah, dan menaiki dua kapal lainnya "untuk memastikan kepatuhan total."

Pada Selasa (14/7/2026) lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington "memperbarui" blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.

Donald Trump secara terpisah mengisyaratkan Amerika Serikat akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal lain untuk jalur aman, yang membalikkan kebijakan AS selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.

Sementara, pada Sabtu (25/7/2026), pasukan AS menyelesaikan pemeriksaan verifikasi di atas kapal tanker M/T Charminar berbendera Komoro di Laut Arab, dan kapal tanker tersebut sekarang melanjutkan perjalanannya.

CENTCOM menambahkan, pasukan AS melumpuhkan kapal tanker M/T Lavine berbendera Mozambik pada Jumat (24/7/2026) di Teluk Oman.

Iran Salahkan AS

Iran menuduh Amerika Serikat berupaya membuka jalur baru melalui Selat Hormuz secara paksa, dengan melewati otoritas Iran.

Hal ini menjadi sebuah langkah yang menurut Iran melanggar kesepakatan perdamaian sementara kedua negara dan menyebabkan ketegangan meningkat di sana.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh media Iran pada hari Sabtu.

Abbas Araghchi mengatakan Nota Kesepahaman (MoU) AS-Iran yang ditandatangani pada bulan Juni memberi Teheran hak untuk menetapkan rute dan mekanisme transit untuk jalur air strategis tersebut.

Baca juga: Iran: Negara yang Dukung AS dalam Perang akan Jadi Target Sah

Araghchi juga mengatakan, AS seharusnya berkonsultasi dengan Iran mengenai rute baru apa pun, menambahkan bahwa kedua pihak telah sepakat untuk membuka jalur komunikasi langsung untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.

Pernyataan Araghchi muncul di tengah beberapa tanda de-eskalasi antara AS dan Iran, setelah serangan berminggu-minggu yang saling menargetkan kepentingan masing-masing hampir menghancurkan kesepakatan sementara mereka.

Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pasukan elit yang mengelola sebagian besar program rudal dan drone negara itu, mengatakan serangan mereka telah menghancurkan pesawat militer AS di pangkalan-pangkalan di seluruh wilayah tersebut.

OPERASI KEBEBASAN - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz.
OPERASI KEBEBASAN - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Pada hari Sabtu, IRGC mengatakan unit angkatan lautnya melepaskan tembakan peringatan untuk menghentikan empat kapal selama 24 jam sebelumnya ketika mereka mencoba melewati koridor selatan selat tersebut, sebuah rute yang dianggap tidak aman oleh pasukan Iran, menurut televisi pemerintah Iran.

Baca juga: Ukraina Serang Kapal Iran di Laut Kaspia, Teheran Beri Ancaman Serius

Pada hari Jumat, juru bicara Komando Pusat AS, Tim Hawkins, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa AS telah "melumpuhkan" sebuah kapal tanker yang berulang kali mencoba menerobos blokade AS dan mengabaikan peringatan AS.

Pada hari Kamis, militer AS mengklaim telah mengalihkan total 12 kapal dan "melumpuhkan" satu kapal lainnya sejak memulai kembali blokade pada 14 Juli.

Mantan Atase Pertahanan Austria, Wolfgang Pusztai, mengatakan AS menggunakan semua bentuk strategi terhadap Iran, termasuk diplomasi, tekanan ekonomi melalui blokade, dan aksi militer.

“Ketiganya dikoordinasikan sedemikian rupa untuk mencapai tujuan strategis Amerika Serikat. Ini berarti, yang terpenting saat ini adalah pembukaan Selat Hormuz,” kata Pusztai kepada Al Jazeera.

“Ada semacam pendekatan panas dan dingin untuk memfasilitasi keinginan, hasrat rakyat Iran untuk mengakhiri seluruh perang. Jadi, suatu malam mereka dibombardir, malam berikutnya mereka tidak dibombardir," jelasnya.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.