TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Rangkaian Pekan Gawai Dayak (PGD) XV Kabupaten Sekadau yang berlangsung sejak 21 Juli 2026 resmi berakhir.
Kegiatan pesta budaya masyarakat adat ini ditutup langsung oleh Bupati Sekadau, Aron, di Rumah Betang Youth Center Sekadau pada Sabtu 25 Juli 2026 malam.
Acara penutupan berlangsung meriah dan dihadiri ribuan masyarakat serta berbagai tokoh suku Dayak dari pelbagai wilayah di Kabupaten Sekadau.
Dalam sambutannya, Bupati Sekadau Aron menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang berkolaborasi menyukseskan PGD XV, meski di tengah keterbatasan pembiayaan.
"Memang agak sulit untuk mencari anggaran. Namun puji Tuhan, berkat kebersamaan kita semua, kegiatan Gawai Dayak Kabupaten Sekadau tahun 2026 ini bisa kita laksanakan dan berjalan dengan luar biasa," ujar Aron.
• Truk CPO Alami Kerusakan di Tanjakan Dekat RSUD Sekadau, Polisi Sigap Urai Kemacetan
Aron memberikan apresiasi khusus kepada Panitia Pelaksana, Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sekadau, seluruh sub-suku Dayak, serta sub-suku Dayak Benawas yang sukses menjalankan peran sebagai tuan rumah PGD XV tahun ini.
Dalam kesempatan tersebut, Aron menyinggung pesan tersirat yang disampaikan sub-suku Dayak Benawas melalui ornamen tempayan.
Beberapa tempayan menampilkan tulisan mengenai kondisi sejumlah desa di Sekadau yang belum teraliri listrik PLN.
Merespons hal tersebut, Aron menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat.
"Besok saya berangkat ke Pontianak dan lusa ke Jakarta untuk bertemu kembali dengan pihak PLN dan DPR RI yang membidangi kelistrikan. Sebetulnya hampir setiap tahun hal ini terus kita usulkan," tegasnya.
Ia berharap persoalan kelistrikan desa segera tuntas, sehingga pada pelaksanaan Gawai Dayak tahun mendatang tidak ada lagi pesan atau keluhan serupa.
Lebih jauh, Bupati Aron mendorong agar PGD Kabupaten Sekadau tidak sekadar menjadi ajang daerah, melainkan dikembangkan menjadi destinasi wisata berkelas nasional hingga internasional.
Menurutnya, kualitas penampilan seni dan perlombaan dalam PGD XV, seperti lomba tari kreasi, sudah sangat layak bersaing di panggung nasional.
Untuk memperkuat daya tarik wisata tersebut, Aron meminta DAD Sekadau menciptakan atraksi budaya khas (iconic) yang melibatkan massa dalam jumlah besar.
"Misalnya kita siapkan pangkak gasing massal atau atraksi 5.000 peserta berbusana Prada. Kita buat sinopsisnya, lalu ajukan untuk pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) di tahun-tahun mendatang," jelas Aron.
Selain penguatan event, Aron menekankan pentingnya pendokumentasian sejarah Gawai Dayak secara terstruktur dan dibukukan secara berkala.
"Saya berharap setiap agenda ini bisa didokumentasikan dan dibukukan, baik di masa jabatan DAD saat ini maupun periode sebelumnya, agar menjadi arsip sejarah yang berharga bagi generasi mendatang," katanya.
Mengingat antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahunnya, Aron juga mengusulkan agar DAD mulai memikirkan lokasi baru yang lebih luas untuk pembangunan kawasan Rumah Betang Sekadau di masa depan.
Di akhir arahannya, Aron berpesan kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan, ketertiban, serta citra positif budaya Dayak, terutama di media sosial.
Ia mengimbau warga agar bijak membagikan momen kegiatan dan tidak mengunggah konten negatif seperti perilaku mabuk-mabukan atau hal tidak senonoh.
"Jejak digital itu sulit dihapus. Ketika orang mengetik kata kunci Gawai di Sekadau di internet, kita ingin yang muncul adalah hal-hal yang baik dan membanggakan," pungkas Aron. (*)