Indonesia Kehilangan 200 Ribu Hektare Mangrove, Desa Medan Mas Kubu Raya Jadi Percontohan Konservasi
Rivaldi Ade Musliadi July 26, 2026 02:44 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 yang dipusatkan di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), Minggu 26 Juli 2026, menjadi momentum krusial untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga ekosistem pesisir.

Kegiatan yang dikemas dalam Kolase Journalist Camp ini diselenggarakan oleh Yayasan Kolase bersama Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Blue Ventures, Trend Asia, dan Pemerintah Desa Medan Mas.

Acara yang dihadiri puluhan warga, aparatur pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga jurnalis dan kreator konten ini turut dimeriahkan dengan pameran produk UMKM lokal. 

Berbagai produk olahan pesisir dipamerkan, mulai dari kerajinan daur ulang, teh jeruju, amplang, madu kelulut, hingga olahan hasil perikanan.

Indonesia Kehilangan 200 Ribu Hektare Mangrove

Manajer Program Yayasan Hutan Biru, Noviansyah Putra, menegaskan bahwa Peringatan Hari Mangrove Sedunia setiap 26 Juli harus dimaknai sebagai ajang konsolidasi bersama masyarakat akar rumput.

"Ini bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi kesempatan untuk kembali memperkuat hubungan kita dengan ekosistem mangrove yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat pesisir," kata Noviansyah.

• KJC 2026 Dimulai! 19 Jurnalis dan Kreator Konten Jajaki Desa Medan Mas demi Pelestarian Mangrove

Ia membeberkan, meskipun beberapa wilayah dunia mulai mengalami pemulihan tutupan mangrove, Indonesia justru menghadapi ancaman serius dengan menyusutnya kawasan mangrove hingga 200 ribu hektare berdasarkan riset terbaru.

"Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Dengan mengusung tema Reconnecting People, Reconnecting Knowledge, dan Reconnecting Collaboration, kami ingin mendokumentasikan praktik baik masyarakat agar cerita dari lapangan berubah menjadi kesadaran, aksi, hingga perubahan nyata," tambahnya.

Medan Mas Berpeluang Jadi Pusat Ekonomi Biru

Kepala Desa Medan Mas, Dharma Wira, mengungkapkan bahwa kawasan mangrove di wilayahnya bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan benteng alami dari intrusi air laut, erosi, dan dampak perubahan iklim.

Selain sebagai penyerap karbon (blue carbon), ekosistem ini menjadi habitat vital bagi ikan, udang, dan kepiting yang menopang perekonomian nelayan lokal.

"Desa Medan Mas memiliki peluang besar berkembang berbasis ekonomi biru (blue economy). Mulai dari pengembangan wisata mangrove, perikanan berkelanjutan, edukasi lingkungan, hingga pemberdayaan UMKM," paparnya.

Dukungan serupa disampaikan Camat Batu Ampar, Agus. 

Ia mengimbau warga untuk terus menanam mangrove sebagai investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.

"Kalau ada yang bertanya untuk apa menanam mangrove, bukan untuk kami saat ini, tetapi untuk masa depan anak cucu kita," tegas Agus.

Di sisi lain, mengingat cuaca kering yang tengah melanda Kalbar, Agus juga mengingatkan warga pesisir untuk tidak melakukan pembakaran lahan demi mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kawasan Konservasi Perairan dan Peran Media

Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalbar mengapresiasi sinergi seluruh pihak. 

Ia menyebut kawasan pesisir Batu Ampar, termasuk Desa Medan Mas, merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah yang menjadikan mangrove sebagai target utama perlindungan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kolase, Andi Fachrizal, menjelaskan bahwa pelibatan jurnalis dan kreator konten dalam Journalist Camp bertujuan untuk mengangkat kearifan lokal masyarakat Medan Mas ke tingkat publik yang lebih luas.

"Melalui kolaborasi antara masyarakat, media, pemerintah, dan akademisi, kami berharap isu pelestarian mangrove tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus mendorong aksi nyata yang berkelanjutan," tutup Andi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.